Bab 7
Ada perasaan aneh di jari telunjuk tangan kanannya, menyebabkan Shino
mengerutkan dahinya. Menggosok dengan jempolnya dengan maksud
menenangkan iritasi tersebut, tidak dapat menenangkan dari perasaan
tersebut.
Dia tahu alasannya.
Itu adalah salah dari Kirito, pemuda sombong, kasar dan pemula.
Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengepal tangan kanannya.
Normalnya ini mustahil dan dia menegerti apa yang ada di kepalanya.
Sinon sekarang FullDive di dunia virtual dengan AmuSphere, tidak peduli
berapa lama dia mengepal tangannya, aliran darah di tubuhnya atau
sarafnya takkan terganggu. Semua sensasi di dunia virtual hanya akan
dikirim ke otak oleh mesin dengan sinyal virtual.
――――Tapi.
Sekarang, tangan kanan Shino masih merasakan tekanan dan
kehangatan yang sangat kuat dari tangan pengguna light saber, meskipun
itu telah dua jam berlalu.
Menyerah untuk menghapus perasaan itu, Shino mengembalikan
tangannya untuk memegang anti-material sniper riffle. Pada pegas yang
ringan di pelatuk, dengan lembut dia memasukkan jarinya disana. Pegangan
senjata kesayangannya «Hecate II» yang telah melewati banyak
pertempuran bersamanya seperti bagian tubuhnya, tapi perasaan aneh itu
tidaklah hilang.
Sinon telah bersembunyi di semak kecil di atas bukit menunggu kesempatan untuk membidik.
Arenanya adalah «Wilderness at the Crossroads». Topografi dari
daerah itu adalah tempat yang gersang dengan dua jalan yang membelah
arena. Musuhnya adalah «Stinger». BoB selection F Block, pertemputan
kelima jadi ini adalah semi-final, dan duapuluh menit telah berlalu
sejak pertandingan ini dimulai.
Jika dia menang di pertandingan ini maka, tanpa peduli hasil
pertandingan selanjutnya, dia dapat mengikuti pertandingan utama BoB
battle royale yang dijadwalkan besok, Minggu malam. Tapi untuk menang di
pertandingan ini, Stinger pasti juga sangat kuat.
Meskipun namanya seperti itu, dia tidak memakai perlengkapan surface-to-air missile launcher «Stinger»[1].
Senjata utamanya adalah «FN • SCAR» carbine rifle, dengan perawatan
yang baik. Dia juga memakai ACOG scope untuk meningkatkan akurasinya.
Jadi jika mereka saling melihat dalam jarak dekat, Shino tidak mungkin
untuk menang.
Beruntunglah, arena itu, ada empat blok yang dipisahkan oleh
jalan, kau harus melewati jalan tengah untuk mencapai tempat lain.
Ketika kedua pemain muncul di peta, mereka akan ditaruh dengan jarak
minimal 500m, karena itu mustahil ada pemain di blok yang sama.
Dengan kata lain, jika Stinger ingin mencapai jangkauan Shino
untuk membidik dengan SCAR, meskipun dia tahu untuk melewati jalan
utama, dia harus menerobosnya, dengan kata lain Shino harus berhasil
menyerangnya ketika dia di jalan.
Dengan pilihan ini, Stinger mencoba untuk menghabiskan waktu sebelum dia menerobos, strategi untuk membuat Shino kelelahan.
Meskipun begitu Shino tidak mengabaikan kemungkinan dia bergerak
lebih awal, jadi dia tidak punya pilihan lain selain merenggakan
sarafnya sampai batasnya dan berkosentrasi melihat pemandangan ini.
Sekarang, dari titik A sampai O dengan kemungkinan kelelahan
menunggu terbagi menjadi 15 blok, lebih dari separuh dari mereka
menentukan pertandingan mereka selesai, jadi 10 pertandingan yang lain
diadakan dalam waktu yang sama. Di Standby Room, lobi lantai pertama,
atau bar di sisi jalan, kau dapat menonton semua pertandingan. Focus di
Sinon dan Stinger yang merasa penonton sudah sangat bosan. Sampai
sekarang keduanya belum menembak peluru.
Di sisi lain bersamaan dengan semi-final grup F, ada sebuah
pertempuran yang pasti tidak membosankan, pertempuran yang dilakukan
dengan cara mencolok.
Alasannya adalah satu dari mereka spesialis jarak dekat dengan
dua machinegun, sedangkan yang lain menggunakan senjata dengan jangkauan
terpendek– pengguna light saber bertempur.
Sekarang dia tidak boleh kehilangan kosentrasi. Meskipun dia
mengerti itu, pikirannya kembali kepada gadis misterius berambut hitam,
tidak laki-laki.
Pertempuran yang pertama memakan waktu sebanyak sepuluh menit,
dan ketika dia kembali ke Standby Room, orang pertama yang ditemuinya
adalah Spiegel ―― Shinkawa Kyouji dan ucapan selamatnya. Setelah
mengucapkan selamat dan terima kasih, Shino kembali ke tempat duduknya.
Kemunculan Kirito membuatnya terkejut. Ini tidak mungkin. Dia tidak
menyangka dia akan menang dan kembali lebih cepat dari darinya. 'Hmm,
kau sedikit berbakat.' Dia berjalan ke arahnya sambil berpikir
mengatakan hal itu, Sinon terkejut oleh hal lain.
Sebelum bertanding, Kirito memiliki sikap yang sangat santai,
namun sekarang dia duduk di kursi sambil memegang lututnya, kepalanya
menunduk dan bahunya gemetar.
... ...Dia menang. Apakah bertarung dengan musuh yang memakai senjata api menakutkan?
Memikirkan tentang itu, Shino tanpa sadar mengulurkan tangannya
untuk memegang bahunya yang terbungkus baju kamuflase berwarna pola
malam.
Tiba-tiba, tubuh Kirito bergetar karena terkejut, dengan tindakan yang hanya dilakukan hati-hati, dia melihat ke atas.
Sinon tahu siapapun yang tidak tahu tentang dia akan berpikir dia
adalah perempuan, dengan wajah yang manis dan wajah yang terlihat
pintar dari avatarnya ―― pandangannya sepeerti melihat neraka, dipenuhi
ketakutan.
"... ...Kenapa kau berwajah seperti itu?"
Sinon tanpa sadar berbisik, mendengar kata itu, Kirito berkedip sesaat dan mengganti wajahnya menjadi senyuman.
Tidak ada yang salah, Kirito menjawab dengan suara lemah, dan
Sinon menanyakan apakah pertarungan pertamanya sulit. Tapi, wajahnya
tersembunyi di balik avatar gadis berambut panjang berwarna hitam, dan
dia tidak menjawab apapun.
Dia bukan musuh yang dia harus terlibat hal di luar itu.
Kirito seharusnya tahu Sinon telah salah mengartikan gendernya.
Tapi dia tidak sengaja untuk tidak menjelaskan kesalapahaman itu dan
membiarkan Sinon menunjukkan jalannya, membantu dia untuk berbelanja,
dan akhirnya membawa dia ke ruang ganti yang sama.
Tentu saja, dia mengira dia perempuan, dan itu salahnya karena tidak
menanyakan kartu namanya. Karenanya setengah dari kemarahan Shino
ditunjukkan kepada dirinya sendiri.
Di dunia nyata, meskipun dia dipermainkan oleh temannya, dia
telah memutuskan di hatinya untuk tidak berteman dengan siapapun. Ketika
dia bertemu pemain perempuan yang langka di GGO untuk menanyakan arah.
Dia bahkan melupakan keputusannya.
Itu sangat menyenangkan. Ketika membawa dia ke toko untuk
berbelanja dan menaiki kereta beroda tiga, Shino menyadari bahwa dia
memberikan senyum paling tulus, sesuatu yang bahkan dia lakukan di GGO.
Itu benar ―― Shino tidak benar-benar marah kepada Kirito karena dia
laki-laki. Ketika dia bersama-samanya, dia menjadi lebih hati-hati,
sesuatu yang tidak dapat dia maafkan untuk dirinya sendiri.
Karena itu, ketika dia tahu bahwa Kirito menang di putaran pertama, dia sangat senang.
Untuk bertemu dengannya di final, kemudian menembak wajahnya dengan peluru Hecate dan menjadi lebih kuat sebelum menghadapinya.
Meskipun dia memiliki pikiran seperti itu, Kirito yang telah diambil alih oleh ketakutan seperti dia menjadi orang lain.
Shino berbicara tanpa sadar bercampur dengan kemarahan.
"Kau menjadi seperti ini karena satu pertandingan? Bertanding di
final hanya seperti mimpi didalam mimpi. Bertahanlah... Aku... akan
mengambil apa yang kau utangkan padaku."
Dia mengepalkan tangan kanannya dan sekali lagi menepuk pundak Kirito.
Tangannya tertutupi oleh dua tangan yang putih. Dia kemudian menariknya dengan kuat dan tanpa sadar tanganya terkena di dadanya.
"Hey, Hey... Apa yang kau lakukan!?"
Shino bereaksi dan menarik tanganya, tapi dia tidak pernah
membayangkan bahwa tubuh Kirito memiliki STR yang sangat tinggi, dia
memberitahu kepada tangannya.
Tanganya seperti es, dan Shino merasakan menyentuh tangannya membuat nafasnya dingin.
Pada saat itu, di penglihatan Shino muncullah tombol 'report
sexual harassment'. Jika dia menekan tombol ini atau mengatakan
"report," maka avatar Kirito akan dikirim ke penjara Gurokken dan, untuk
waktu yang singkat, dia tidak dapat keluar.
Tetapi, Shino tidak bergerak, dan dia tidak mengatakan apa-apa.
Melihat tangannya terkepal dan tubuh yang sedikit gemetar
menghilang, Sinon merasakan perasaan deja vu. Dia pernah melihat gadis
itu sebelumnya, dengan postur yang sama persis. Berpikir lebih lanjut,
dia menyadari bahwa itu adalah dirinya.
Bukan Sinon the sniper, tapi Asada Shino dari dunia nyata. Itu
seperti ketika Shino diliputi oleh ingatan yang buruk dipenuhi oleh bau
darah dan mesiu, menangis meminta seseorang menyelamatkannya.
Menyadari di saat itu, Sinon tanpa sadar merilekskan tangan kanannya.
"............Kenapa kau............?"
Dia bertanya dengan lembut, tapi tidak ada jawabannya. Meski begitu Shino dapat merasakannya.
Menempelkan tangannya ke rambut hitam avatar itu ――tidak, di
dalam avatar itu terdapat seseorang yang nama dan wajahnya dia tidak
tahu mungkin terperangkap di kegelapan seperti Shino.
'Apa yang terjadi,' Sinon ingin bertanya.
Tapi sebelum itu, ada cahaya samar di sekitar tubuh Kirito, dan
kemudian dia menghilang. Musuhnya telah ditetapkan, jadi dia dikirim ke
bagian arena untuk pertandingan kedua.
Melihat seperti itu, dia mungkin tidak dapat bertarung dengan baik. Sinon berkata begitu dan menghela nafas.
Siapapun yang kalah akan kembali ke Hall daripada underground
waiting area. Karena itu, bila Kirito kalah, hari ini atau dengan kata
lain, dia mungkin tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya
lagi.
Tentu saja, itu bukan hal besar. Mereka bahkan bukan teman,
tetapi hanya akan pergi ke arah yang sama ke Government House. Setelah
hari ini dia akan melupakan nama dan wajahnya.
- Seperti itu yang seharusnya.
Tapi pemikiran Shino yang paling gila, kedua, ketiga bahkan
keempat pertandingan akan dimenangkan oleh Kirito hanya menggunakan
lightsaber dan sebuah pistol.
Ketika Sinon menunggu untuk pertandingan selanjutnya, dia hanya
memiliki kesempatan untuk melihat pertarungannya di monitor satu kali.
Gaya bertarungnya adalah 'Last Stand' atau 'Banzai' dengan taktik bunuh
diri. Menghadapi musuh dengan status AGI, dia menggunakan pistol FN
Five-Seven, atas sugesti Shino, sebagai tembakan bantuan untuk serangan
frontalnya. Dia menghiraukan peluru musuh yang mengenai armor dan
menangkis yang mematikan, dan dengan itu. Dia dapat mengambil jarak
dengan sekejap mata, kemudian memotong musuh bersama senjatanya.
Tidak ada seorangpun di pertandingan pertama dan kedua BoB
bertempur dengan cara seperti ini. Di standby room, para penonton
terkejut dan kagum, dan Sinon hanya dapat melihat dengan matanya.
Setelah momen tersebut, Kirito dapat dengan mudah masuk semifinal
blok F. Tetapi menghadapi musuh yang tidak beralasan, bagaimana cara
melawan dia melawannya?
Setelah melihat pertandingan Kirito, Sinon berpikir seolah itu
semi-final telah dimulai, dan bagian dari pikirannya mempertimbangkan
masalah ini. Di saat yang sama, dia tidak dapat berhenti untuk
memikirkan pemain bernama Kirito.
Ketika berbelanja bersama, dia memberikan senyum penasaran.
Ketika dia diketahui sebagai laki-laki, Kirito menunggunya untuk
menyiksanya karena bersikap kurang ajar. Lalu setelah pertandingan
pertama, memegang tangan Sinon, tubuhnya gemetar. Dan– dengan light
sabernya, dia memotong musuhnya, seperti penampakan hantu.
Pada akhirnya yang mana benar-benar «Kirito»?
Dan kenapa dia terus memikirkan hal itu?
Menyadari bahwa dia kesal tanpa alasan, Shino menggigit bibirnya
ketika mata kananya fokus pada high magnification scope. Pada saat itu-
Dari jarak yang cukup jauh, melihat jalan utama, dia melihat bayangan besar bergerak dari gunung.
Sinon dengan menyetel tembakan Hecate menjadi otomatis. Angin
bertiup ke kiri dengan kecepatan 2,5m/ detik. Kelembapan 5%. Dia menaruh
matanya ke scope dan membidik bayangan dan menunggu lingkaran peluru
menyusut sebelum menembaknya tanpa ragu-ragu.
THUD –
Dari tempat itu, peluru kaliber 50 terbang menembus udara seperti
lorong. Itu membuat seperti spiral yang mengarah sedikit ke bawah dan
mengenai bayangan tersebut.
"... ...Di sana."
Sinon mengambil nafas sambil menekan pelatuk dari Hecate, mengkosongkan cartridge dan menaruh peluru selanjutnya di senjatanya.
Bayangan yang jatuh bersama suara bukanlah Stinger. Melainkan sebuah batu dengan diameter 1m.
Pada saat berikutnya, di tempat yang sama, sebuah siluet yang besar menyerbu dari jejak debu dibelakang.
Sebuah kendaraan roda empat «Humvee». Benda itu bukanlah item
yang pemain punya melainkan bonus dari suatu peta. Pemain yang pertama
kali medapatkannya dapat menggunakannya. Itu seperti barang baru,
kecuali kap di depannya - Sinon langsung mengerti, batunya telah
dijatuhkan oleh mobil itu.
Stinger, orang yang seharusnya duduk di kursi pengemudi, tahu
Hecate II Shino adalah bolt-action rifle dan tahu bahwa dia akan
membidik di persimpangan yang harus dia lewati.
Jadi, dia menjatuhkan batu itu di persimpangan dengan Humvee
untuk ditembak, dan ketika dia mengisi peluru, dia akan melewati
persimpangan itu.
Ide itu benar. Faktanya kendaraan itu telah sampai di tengah
persimpangan ketika dia mengisi peluru . Dia hanya memiliki satu
kesempatan. Selain itu dia tidak memiliki waktu untuk membidik dengan
benar.
Tetapi, Sinon tidak panik.
Stinger mengambil kesempatan dari kesalahan Sinon sebagai sniper,
«No Bullet Line First Shot». Tapi sebagai gantinya, dia juga memberikan
informasi. Di penglihatan Sinon jejak dari tembakannya telah
menghilang. Selama dia tidak panik, dia dapat membuat peluru kedua
terbang di tempat yang sama. Jika dia dapat menggunakan itu, maka dia
mungkin mendapat akurasi yang tinggi dibanding tembakan pertama.
Setelah membuat sedikit penyesuaian dari senjatanya, Sinon menekan pelatuknya lagi. BOOM!
Peluru peluru kaliber 50 mengenai jendela pengemudi dan menembus kaca dengan mudahnya.
Kejadian berikutnya, kendaraan itu membuat lengkungan besar,
pergi ke sisi jalan, dan kemudian menabrak ke sisi gunung. Dari mesin
depan, api menyala.
"... ...Jika kau keluar dari mobil dan lari kau mungkin melihat garis peluru dan mungkin untuk menghindarinya ."
Sinon berbisik setelah memenangkan ronde ketiga. Menjaga scopenya
di matanya, dia hanya melihat api dari Humvee. Tidak peduli berapa lama
waktu dia menunggu, Stinger tidak muncul. Sepertinya dia mati di kursi
penggemudi, tapi dia tetap di posisi menembak.
Ketika udara malam menampilkan "CONGRATULATIONS" dengan kata berwarna,
Sinon berdiri dari semak.
Waktu pertandingan, 19 menit and 15 detik. Semi-final selesai.
Dengan cara seperti ini, seperti yang dia rencanakan, dia
mendapat tiket turnamen BoB. Tetapi dia tidak memiliki tanda kemenangan,
bahkan senyumannya. Pikirannya hanya terpaku pada pertandingan blok F
final.
Yang jadi misteri adalah Kirito, tidak diragukan lagi,
menghabiskan waktu paling sedikit di semi-finalnya. Musuhnya menggunakan
dua SMG[2].
Tidak peduli berapa banyak peluru dia tembakkan, jika dia membiarkan
pengguna light saber itu mendekat, dia akan terkena serangan instant
death[3]
oleh pedang Kirito sebelum darahnya habis, Kirito setelah semuanya,
dengan kecepatan yang mengagumkan, memiliki kemampuan «predict the
trajectory prediction line». Kesempatan untuk menghentikannya dengan
tembakan perlindungan dari M134 mini-gun, atau senjata sejenisnya.
Demikian, Shino dengan Hecate, menunggu dengan pelan transfer ke arena berikutnya.
Setelah beberapa detik, Shino tidak kembali ke standby room,
tetapi langsung ke ruang persiapan final. Permukaan segi enam dari
window di layar tertulis nama lawannya, dan pasti namanya adalah
[Kirito].
Setelah transfer selanjutnya, dia membuka mata untuk melihat
jalan yang meninggi serta lurus, dan matahari yang berdarah terbenam.
Arena «Inter-Continental Highway». Meskipun tempat ini memiliki luas
yang sama dengan sebelumnya, sekitar satu kilometer, sejak kau tidak
dapat pergi ke perbukitan dari timur ke barat, kenyataannya, arenanya
cukup ramping dan sederhana.
Namun, ada banyak reruntuhan mobil, truk bahkan helikopter, dan
disana ada celah untuk naik dan turun, jadi dari sisi jalan, kau tidak
dapat melihat sisi lainnya.
Sinon dengan cepat melihat ke belakang dan mengetahui bahwa dia
sekarang berada di ujung sudut peta. Musuhnya adalah Kirito pasti ada di
barat jalan, setidaknya 500m.
Dia melihat sekitar, lalu berlari ke jalan. Tujuannya adalah bus
besar yang terparkir di pinggir jalan. Dari pintu semi otomatis menuju
lantai dua. Dia tiarap di tengah lantai, mengambil Hecate II dari
punggungnya. Dia membidik dengan moncong pistol di jendela di depan bus,
mengambil posisi membidik, dan membalik scopenya dalam posisi membidik.
Matahari di depannya. Itu berarti, tidak peduli dia sembunyi,
pantulan scopenya dari matahari akan menjadi bahaya membuatnya ketahuan.
Seorang sniper dengan posisi ini dapat mudah ketahuan.
Tapi, di dalam bus, cermin kaca di depan akan menyembunyikan
scopenya. Juga dari tingginya, dia dapat melihat hamper semua posisi di
jalan tersebut.
Kirito mungkin mendekat dengan cepat dari satu gangguan ke
gangguan lainnya. Dia tidak berpikir mengenainya dengan garis peluru.
Kesempatannya, jika dia tahu lokasinya, itu adalah tembakan pertama.
'- Tembak dia. Aku harus.'
Mengukir keinginan yang kuat di hatinya, Sinon menaruh matanya di scope.
Kenapa dia ingin menang, dia tidak mengerti.
Memang, Sinon ditipu oleh Kirito untuk menyembunyikan gendernya
ketika dia mengajaknya berkeliling dan membantunya membeli equipment.
Lebih dari itu dia juga melihatnya ketika dia berganti baju.
Tetapi, meskipun dibilang begitu, itu bukan apa-apa tapi
disbanding hal lain. Dia tidak kehilangan item, dan hanya baju dalam
avatarnya yang terlihat. Dari pertemuan di jalan Gurokken, samapi
perpisahan di standby room meskipun hanya sepuluh menit. Itu sulit
dilupakan.
Tapi sekarang, semua pertarungan yang dia alami di GGO telah
hilang dibanding keinginannya untuk mengalahkan Kirito. Ya - bahkan
lebih dari pengguna minigun menakutkan, Behemoth. Untuk seorang yang
baru hari ini tiba di GGO, dan lebih dari itu melawan pengguna light
saber yang semua penembak menganggap lemah, kenapa dia melakukan sejauh
itu...
'...Tidak.'
Tidak, mungkin dia telah mengetahui alasannya.
Itu karena, 'Aku tidak menganggap laki-laki ini musuhku di
hatiku.' Ketika laki-laki itu duduk di kursi bergetar sementara tangan
dinginnya memegang tangannya, dia mengetahui perasaan yang ada di
hatinya.
Kasih sayang? Tidak.
Kasihan? Tidak.
Simpati ...? Tidak tentu saja tidak.
'Tidak ada seorangpun yang simpati padaku. Tidak ada seorangpun
yang memiliki rasa sakit yang sama dengan diriku. Aku telah mencari
seseorang seperti itu, Tapi pada akhirnya, dia hanya merasa terus,
terus, terus, dikhianati.
Suatu hal yang dapat menyelamatkannya adalah kekuatannya. Karena mengerti hal itu maka dia ada disini.
Dia tidak ingin tahu tentang situasi Kirito dan tidak perlu tahu.
Selama dia menembak avatar yang membuatnya bingung, dia akan
menguburnya di daftar kill sejauh ini. Dan melupakannya.
Ini yang dia butuhkan untuk melakukannya.
Hati-hati namun sengaja, Sinon memfokuskan pikirannya dan melihat di scopenya, jarinya menggengam pelatuk.
Jadi-
Di latar belakang matahari terbenam muncullah bayangan, dengan sekejap Sinon lupa untuk mengontrol snipernya dan membuat suara.
"Apa..?"
Sebuah angin menerpa rambut hitamnya, baju camuflase menutupi
tubuhnya, dan light saber ada di sabuknya. Tidak dipungkiri lagi itu
Kirito.
Tetapi, dia tidak berlari. Dan sepertinya dia tidak ingin
sembunyi. Dia di tengah jalan raya dengan garis sedikit terangkat,
berjalan goyah. Itu sangat berlawanan dengan pertandingan sebelumnya,
sebuah postur tanpa pertahanan.
'-Apakah dia mencoba mengatakan, bahkan tanpa garis peluru dia dapat menghindari tembakanku?'
Memikirkan ini, kemarahan ada di kepalanya sambil membidik kepala
Kirito. Lalu Sinon menekan pelatuk-sebelum itu, dia sadar pemikiran
sebelumnya adalah salah.
Kirito tidak melihat ke depan. Dia hanya menundukkan kepala,
dengan tubuh gemetar hanya menyeret kakinya. Ini sangat terbalik dengan
serangan "chased by ghosts" di pertandingan sebelumnya dan ini adalah
kecepatan yang lemah.
Dengan dia seperti ini, menghindari tembakan Sinon sangat
mustahil. Peluru Hecate II lebih cepat di banding kecepatan suara, dan
itu sudah terlambat ketika kau mendengar suara tembakan. Dan dengan dia
melihat ke bawah, tentu saja dia tidak dapat melihat tembakan.
Itu berarti – Kirito tidak ingin menghindari tembakkannya dari
awal. Dia ingin untuk sengaja tertembak, dan kalah di pertandingan.
Sekali dia mendapatkan tiket untuk pergi ke turnamen, apapun yang
terjadi... pertarungannya dengan Sinon tidak berarti apa-apa. Itulah
maksudnya.
"...Jangan bercan..."
Suara Sinon terdengar serak.
Dia menaruh jarinya ke pelatuk dan membidiknya. Lingkaran hijau
muncul, dan membidik di kepala Kirito dan cepat menyusut. Pergerakan
lingkaran menunjukkan detak jantung Sinon. Tapi hanya dengan angin yang
lemah dan jarak 400m, tembakkannya pasti akan terkena.
"...Jangan bercanda denganku!!"
Teriakkannya, terdengar seperti anak kecil yang menangis.
Di saat yang sama, Sinon menekan pelatuk. Gemuruh kaliber 50
riffle terisi di bus itu, lebih dari setengah kaca depan dipenuhi oleh
kabut terpecah.
Peluru itu terbang menembus warna merah matahari yang terbenam
dengan garis lurus - itu melewati pipi kanan Kirito sekitar 50cm ruang
antara dia dan mobil yang tertembak. Sebuah api, dan setelah itu keluar
erupsi asap hitam.
Dari tekanan peluru 12.7mm terbang dekat dengan kepalanya, Kirito sedikit bergetar. Dia berhenti dan melihat ke atas.
Ketika Kirito terlihat seperti perempuan di permukaan, hanya
pertanyaan 'kenapa kau meleset?' yang terlihat di wajahnya. Ketika
melihat wajahnya melalui scope, Sinon menarik pelatuk dan menembak dalam
satu aksi.
Kali ini, pelurunya melewati atas Kirito dan menjauhinya.
Mengisi peluru. Menekan peluru. Peluru ketiga mengenai aspal di
sampingnya meninggalkan bekas. Reload. Fire. Reload. Fire. Reload. Fire.
[4].
Enam selonsoong peluru kosong Keluar di sekitar Sinon kemudian menghilang.
Kirito masih berdiri di sana, masih belum tersentuh, dan menembus scope, matanya terlihat bertanya.
Sinon perlahan berdiri, tangannya memegang Hecate, dan mulai
berjalan melewati bus, Dia melompat dari tempat dia menembak menuju
jalan dan mulai melanjutkan berjalan.
Sepuluh detik kemudian , ketika dia mendekat menuju Kirito hingga 5m, dia berhenti.
Melihat pengguna light saber itu masih berdiri di mukanya, dia bernafas keluar.
"...Kenapa?"
Arti dari pertanyaan ini, dan kecaman yang bercampur, sepertinya mencapai Kirito. Mata hitamnya, dan lagi melihat ke bawah.
Akhirnya, dia mengatakan sesuatu tanpa perasaan seperti NPC.
"...Tujuanku, hanya ingin mengikuti turnamen utama. Aku tidak memiliki alasan untuk bertarung denganmu."
Sinon telah menyadari jawaban ini. Tetapi perasaan itu 'karena
itu aku tidak dapat memaafkanmu' ada di dalam dadanya, dan sekali lagi
Sinon berkata.
"Lalu, kau seharusnya menembak dirimu sendiri dengan pistol
begitu pertandingan ini dimulai. Apa kau khawatir dengan harga peluru?
Atau kau ingin memberikan hitungan kill, berpikir seperti ini apakah aku
akan puas...!?"
Menuju Kirto yang menundukkan kepala, dia mengambil langkah mendekat - .
"Hanya permainan VR atau satu pertandingan, itu hanya pilihanmu
jika merasa seperti itu! Tapi jangan memaksakan nilai pribadi itu pada
saya!!"
Sinon menangis dengan suara yang sedih, dia juga menyadari mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Untuk memaksakan nilai pribadi kepada musuhmu, maka itu sama yang
dia telah lakukan. Jika dia tidak dapat memaafkan Kirito, seharusnya
Sinon menggunakan peluru pertama untuk mengakhiri pertandingan, dan
melupakan dia setelahnya. Malah dia menggunakan 6 peluru untuk
mengancamnya, dan lebih dari itu dia membuang perasaannya padanya dengan
berhadapan langsung. Di hal yang lain, yang tidak memiliki alasan
mungkin dirinya.
――Tetapi
Meski begitu, Sinon tidak dapat menghentikan dirinya. Hecate di
tangannya, wajahnya berubah dan tidak dapat menghentikan air matanya
yang keluar dari matanya.
Di belakangnya ada sinar matahari, setengah dari tubuhnya tertutupi bayangan, mata Kirito tertutup, dan mulutnya kaku.
Akhirnya, avatarnya dengan lembut santai, meski lemah, tapi dengan perasaan dia berkata.
"...Aku juga...pada waktu yang lalu, aku merasa aku menyalahkan orang seperti itu..."
"..."
Kirito melihat dengan diam Sinon, lalu dia mengangkat kepalanya.
"...Maafkan aku. Aku salah. Meskipun ini game, hanya
pertandingan, tapi aku bisa memberikan yang aku bisa...selain itu, tidak
ada artinya kualifikasi untukku di dunia nyata. Aku seharusnya tahu itu
..."
Lalu, dia mengangkat kepalanya, mata hitamnya melihat lurus Sinon, dan swordsman dari tanah yang asing berkata.
"Sinon, dapatkah kau memberikanku kesempatan untukmu? Sekarang, kau boleh bertanding denganku."
Dari kata yang tidak dapat dia perkirakan, Sinon langsung melupakan kemarahannya dan mengerutkan alisnya.
"Sekarang, jika kau berkata seperti itu..."
Kualifikasi BoB dan turnamen utama melawan dengan musuh yang
tidak di ketahui di peta. Sejak mereka bertemu tanpa bertarung, tidak
ada cara kembali ke kondisi awal.
Tetapi, Kirito memperlihatkan senyumnya, lalu menarik FN
Five-Seven dari pinggang kirinya. Dia menggunakannya sebagai sikap untuk
menghentikan Sinon, yang hendak mengambil posisi, dan menarik pentup
pistolnya sekali. Dia terampil dalam menangkap peluru di udara, lalu
meletakkan pistol itu di sarungnya.
Sementara memutar peluru 5.7mm dengan tangan kirinya, Kirito berkata.
"Pistolmu, masih memiliki pelurukan?"
"...Yeah, hanya untuk satu tembakkan."
"Kalau begitu, kita berduel. Mari kita lihat... 10 meter menjauh.
Kau gunakan rifflemu, dan aku gunakan light saberku. Aku akan melempar
peluru. Ketika sampai di tanah, pertandingan dimulai. Bagaimana ?"
Terkejut, atau seperti Sinon tertegun. Tanpa menyadari kemarahannya memudar, dia berbicara.
"Begini...kau piker petandingan itu adil? Hanya 10m menjauh,
peluru Hecate ini pasti kena. Dengan kemampuanku dan statis
perlengkapanku, dikombinasi oleh status, itu pasti hit distance in the
system. Kau tidak punya kesempatan menggerakan light sabermu. Hasilnya
sama saja dengan bunuh diri.
"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba bukan."
Setelah mengatakan itu dengan sombong- mulut Kirito memperlihatkan senyuman.
Di saat dia melihat ekspresi itu, Sinon segera berlari menuju tempat di belakangnya.
Dia serius. Pengguna light saber, ingin menang dari Sinon dengan Western-style duel.
Memang peluru Hecate II hanya ada satu. Jadi dia harus menghindar
dengan suatu cara untuk menang. Dia mungkin berpikir seperti itu,
terlalu naif. Melawan tembakan dan peluru yang membunuh, tidak ada yang
disebut «somehow». Dibandingkan dengan pusat perbelanjaan «game to
avoid the bullets» revolver anti penembak, entah itu kecepatan, akurasi
dan kekuatan itu tidak memilik level yang sama.
Tapi-jika Kirito benar-benar memiliki «something», maka.
'Aku ingin melihatnya. Tidak peduli apa yang terjadi.'
Saat berikutnya, Sinon mengangguk dan berkata:
"...Baik. Aku setuju untuk menerima tantanganmu sebagai pertandingan."
Lalu dia berbalik, mengambil sepuluh langkah ke barat di tengah
gari pembatas, dan membalik wajahnya ke arah matahari.
Jarak antara dua orang itu hanya 10m. Dia menaikkan Hecate yang dia
bawa, meletakkan pangkal riffle pada bahunya, dan membuat kakinya mejadi
posisi menembak biasa.
Di dunia nyata, bahkan seorang yang paling kuat tidak dapat
menembak riffle dari posisi berdiri. Tapi di GGO, selama kemampuan fisik
mencapai nilai tertentu, maka hal itu mungkin. Tentu saja, tidak
adaorang yang dapat menahan recoil dan terkatuh ke belakang, tapi karena
dia hanya memiliki satu peluru, ini tidak perlu dipikirkan.
Dia menarik baut untuk menaruh peluru terakhir di senjatanya.
Ketika dia melihat melalui scope, bahkan perbesaran yang terkecil, senyum Kirito muncul di penglihatannya.
Itu terlihat seperti gadis muda yang cantik, lemah dan
ketidakberdayaan di beberapa menit yang lalu menghilang. Wajahnya
seperti bercahaya dan senyum keberaniaan di bibirnya.
Kirito menutup jarinya di tangannya yang memegang peluru FN
Five-Seven dan membentang tangannya lurus ke depan, bersamaan dengan dia
menarik light saber dari pinggangnya. Dia menekan tombol dengan
jempolnya, dan itu mengeluarkan pedang berwarna biru dengan energi.
Sekarang, para penonton yang melihat di final blok F mungkin
memiringkan kepala mereka dan berpikir apa yang kedua orang itu lakukan.
Dia tidak peduli hal itu. Peluru melawan pedang. Dengan pikiran yang
normal, itu tidak adil, tapi Sinon dapat merasakan ketegangannya naik.
'---Sudah pasti, orang itu memiliki «something».'
Dengan perasaan yang langsung Sinon menyesuaikan bidikannya.
Di sisi yang lain berlawanan, Kirito berbicara.
"...Maka, ayo kita mulai."
Kemudian, dia tidak ragu untuk melempar peluru ke udara, peluru itu
berputar di udara. Cahaya pantulan matahari membuat sinar seperti ruby
di udara.
Kirito memundurkan pinggangnya, menaruh kaki kirinya di depan dan
setengah dari tubuhnya maju, dan light saber ditangan kanannya miring
ke samping. Meski dengan jarinya memegang pedangnya, tidak ada terasa
kekuatan, itu adalah postur santai. Tapi meski berpostur seperti itu,
Avatarnya memberikan tekanan seolah-olah dia ditargetkan di hatinya oleh
moncong senapan.
Sinon, tentu saja merasakan sensasi senang dengan cepat naik.
Peluru 5.7mm bergerak di udara sangat lambat. Semua suara lenyap. Dia
sadar kehadirannya dan Hecate II. Tidak, kehadiran mereka juga
menghilang. Penembak dan peluru menjadi satu, hanya menyerang targetnya
dengan peluru di pikirannya.
Dari penglihatannya, garis putih, dan lingkaran hijau juga menghilang.
Di depan swordsman hitam pendiam, jatuh dengan pelan, sinyal
peluru. Meskipun peluru itu melewati scopenya dan keluar dari pandangan,
Sinon dapat merasakan kehadirannya. Itu berputar dan jatuh ke tanah-
peluru tajam mengenai aspal-sistem game menunjukkan kontak dari dua
benda, dan mengeluarkan perintah untuk membuat efek suara, AmuSphere
melepaskan sinyal di bunyi eletronik, di pendengaran Sinon.
PING.
Sebuah suara gema kecil, tangan kanannya menekan pelatuknya.
Di detik berikutnya, fenomena yang terjadi pada Sinon kesadrannya dipercepat dengan warna yang indah.
Dari moncong Hecate muncullah garis orange.
Di sisi lain, cahaya biru muncul memecah melewati kegelapan yang samar.
Bersinar seperti bintang jatuh, dua cahaya terbelah ke kiri dan ke kanan, terbang menjauh.
Di dorong oleh recoil yang besar, ketika terdorong ke belakang, Sinon menyadari arti dari adegan yang dia lihat.
Itu terbelah menjadi bagian.
Pada saat itu, light saber Kirito memotong ke depan, dan memotong
peluru 50-caliber yang seharusnya menjadi tembakan fatal. Dua bintang
jatuh yang dilihat Sinon, adalah pecahan peluru yang dipotong oleh
pedang dengan energi tinggi, dan terbang melewati sisi Kirito menuju
belakangnya.
Tapi –ini seharusnya mustahil.
Jika dia memperkirakan arah pelurunya dan mengayun pedang,
hasilnya dapat dimengerti. Tetapi, Sinon tidak membidik tengah avatarnya
seperti yang dia inginkan, tapi malah dia membidik kaki kiri Kirito.
Hecate adalah large-caliber gun, ada sesuatu yang dikatakan
«impact damage» sebuah damage tambahan. Jika di jarak sangat dekat,
meskipun hanya pinggang atau kaki, area benturan membuat HP menjadi 0.
Untuk Kirito yang baru masuk GGO hari ini, tidak memiliki
pengetahuan tentang pistol, dia seharusnya tidak tahu tentang ini. Jadi,
jika dia menebak arah peluru, dia seharusnya melindungi bagian tengah
tubuhnya.
Meski begitu, Kirito dengan tepat mengetahui peluru yang membidik
kakinya dengan cepat oleh light sabernya. Itu bukan pertaruhan. Lebih
dari itu kecepatan proyektil, garis peluru akan tidak berguna. Pada
akhirnya kenapa – bagaimana dia...?
Meskipun terbebani karena tekejut di saat itu, tangan Sinon tidak
berhenti. Ketika dia terlempar ke belakang, tangan kirinya melepas
Hecate, dengan cepat mengambil MP7 yang ada di pinggangnya.
Tetapi, dia lebih cepat dari yang tadi.
Seperti cahaya, Kirito melesat dari jarak 10m antara mereka dan
muncul di depan Sinon. Pedang di tangan kananya berdengung dan
penglihatannya menjadi biru.
Dia akan ditebas.
Meski dengan prediksi tersebut, Sinon tidak menutup mata. Matanya
melihat, dengan matahari terbenam sebagai pemandangan, rambut hitam
yang berkilau bergoyang seperti kipas.
Lalu, semuanya berhenti.
Hecate ditangan kanannya, dan MP7 ditangan kirinya tergantung
karena Sinon terjatuh mundur. Tetapi, tidak peduli berapa lama, dia
tidak terjatuh. Tangan kiri Kirito menahannya untuk suatu alasan.
Lalu ditangan kanan swordsman ada light saber, menahan leher
Sinon yang terbuka dan tanpa pertahanan. Hanya suara getaran plasma
pedang, dan suara angin yang dapat dia dengar.
Dengan kaki kirinya maju, Kirito membungkuk ke arah Sinon yang
bersandar, jika mereka memberlakukan adegan tarian seperti kebersamaan
mereka, dan itu akan berhenti sementara waktu.
Mata hitamnya tepat di matanya. Sampai sekarang, baik di dunia
nyata maupun di dunia virtual, dia tidak membiarkan siapapun
mendekatinya sedekat ini padanya. Tetapi, Sinon tidak menyadari hal ini
dan bertanya dengan bisikan sambil melihat mata Kirito.
"...Bagaimana kau dapat memperkirakan bidikanku?"
Di ujung lain pedangnya, dia berbicara dengan lembut.
"Meskipun melalui scope, aku melihat matamu."
Mata. Dengan kata lain-garis penglihatannya.
Dia membaca garis peluru dari pandangannya, itu maksud Kirito.
Sebenarnya ada seseorang di dunia ini dapat melakukan ini. Sinon
tidak pernah mendengarnya. Gemetar kecil baik itu teror ataupun tidak
pernah terpikir cara ini di kepalanya.
Sungguh kuat. Kekuatan Kirito, telah melebihi level pemain VR game.
Tetapi, meki dalam hal ini – lalu kenapa, di ujung Standby Room,
dia gemetar sangat banyak? Kenapa tangan dinginnya memegang tangan
Sinon?
Sinon berbicara dan sebuah suara kecil keluar.
"Kau begini kuat. Apa yang kau takuti?"
Lalu dia melihat mata Kirito terkejut. Setelah diam sesaat, Kirito menjawab seperti dia menyembunyikan sesuatu.
"Itu bukan kekuatan. Hanya tehnik."
Setelah dia mendengar kata itu, Sinon lupa tentang pedang di lehernya dan berkata dengan kasar.
"Bohong. Kau pembohong. Jika itu hanya tehnik, itu mustahil
memotong peluru Hecate. Kau seharusnya tahu. Bagaimana kau menjadi kuat?
A...Aku ingin tahu jadi..."
"Kalau begitu biarkan aku bertanya padamu!"
Tiba-tiba Kirito memotongnya dengan suara lemah namun seperti api yang tercampur di suaranya.
"Jika peluru itu akan membunuh manusia di dunia nyata...Lalu,
jika kau tidak membunuh entah itu kau atau orang yang penting itu
terbunuh. Jika begitu, APAKAH KAU MENEKAN PELATUKNYA!?"
"...!"
Sinon lupa untuk bernafas, dan matanya berlinang.
Apa dia tahu? Dia berpikir untuk sesaat. Pemain misterius, apakah
dia tahu masa lalu Sinon yang dipenuhi kegelapan, dan kecelakaan itu
terjadi?
'-Tidak, salah. Itu tidak seperti itu. Mungkin...orang ini, di masa lalu...'
Tangan kiri yang menahan Sinon menjadi kaku, tapi kemudian
menjadi rileks. Ketika rambutnya menyentuh dahi Sinon, Kirito
menggelengkan kepalanya dan berbisik.
"...Aku tidak dapat. Karena itu aku lemah. Aku...menebas dua
orang, tidak tiga orang, dan aku bahkan tidak tahu nama mereka...aku
hanya menutup mata,menutup telinga, dan mencoba untuk melupakan
semuanya..."
Sinon tidak mengerti maksudnya.
Tetapi, dia telah yakin satu hal. Di dalam Kirito ada
kegelapanyang sama dengan Sinon sebuah ketakutan tersembunyi. Dan
mungkin, ketika dia menunggu di Standby Room, sesuatu terjadi. Sesuatu
yang membuatnya kegelapan yang dikuburnya bangkit.
Sinon melepas MP7 di tangan kirinya dan jatuh ke tanah.
Tangan kosongnya naik seperti ditarik benang, dan mendekat ke pipi Kirito ke masa lalu pengguna light saber.
Tepat sebelum jarinya menyentuhnya - .
Tanpa disadari, senyum yang lembut kembali ke pipi Kirito.
Matanya masih menyimpan cahaya menyakitkan. Meski begitu dia menggeleng
kepalanya, dan mengatakan sesuatu untuk menggangu tangan Sinon.
"- Well. Sepertinya aku telah menang di pertandingan ini...kau setuju?"
"Apa t...? Ah, itu..."
Sementara dia mengedipkan mata karena tidak dapat memberitahu perasaannya, wajah Kirito mendekat dan dia berbisik.
"Lalu, apakah kamu menyerah? Aku tidak suka menebas perempuan."
Mendengar suara yang kasar dan santai. Sinon menyadari
situasinya. Dengan kata lain, dia telah ditahan dengan tangan kiri yang
menahan punggungnya dan light saber di lehernya, dan ketika dia dalam
keadaan tidak bisa bergerak karena kontak dari Kirito, Adegan itu
langsung ditayangkan di the Standby Room, Presidential Lobby, dan semua
bar di Gurokken, dengan situasi tersebut.
Sementara menyadari kemarahan di wajahnya, Sinon mengeluarkan jawaban
dari gigi terkatupnya.
"...Aku berterima kasih bila aku memiliki kesempatan lain untuk
melawanmu. Besok di turnamen utama, kau harus bertahan hidup untuk
melawanku."
Dan dia membalikkan wajahnya,dan berteriak keras, "Aku menyerah!"
Waktu pertandingan, 18 menit and 52 detik.
Grup F, kualifikasi final turnamen ketiga Bullet of Bullets selesai.
READ MORE →
Bab 6
Menyalakan lampu LED dan bersandar ke samping untuk berbelok saat
sedang menaiki sepeda motorku, aku melewati sebuah gerbang besar.
Pada saat itu, merasakan pandangan yang mencela dari orang-orang
yang berjalan di kedua sisi jalan raya, aku menurunkan kecepatan
sepedaku dengan terburu-buru.
Sepeda motor 125cc, 2-stroke,
buatan Thai, bobrok ini yang didapat melalui koneksi Egil ini
mengeluarkan suara, di dalam era ini di mana skuter listrik adalah umum.
Saat dia menaiki ini bersama aku, Suguha akan meledak dengan keluhan
seperti "Berisik― Bau― Tidak nyaman untuk dinaiki." Setiap kali, aku
akan berbohong dengan mengatakan jika dia bisa terbiasa dengan anginnya
maka dia bisa terbiasa dengan suara bisingnya, tetapi aku menyesal tidak
memilih sebuah 4-stroke scooter juga.
Kemungkinan, tempat yang aku bergegas tujui berada di suatu
tempat seperti ini, apalagi jika tempat itu berada di dalam pekarangan
rumah sakit.
Dengan kecepatan seperti seekor keledai menarik sebuah gerobak,
aku dengan pelan menelusuri sepanjang jalan raya dan melihat pintu masuk
tempat parkir di depan. Merasa lega, aku berjalan masuk dan parkir di
tepi tempat parkir sepeda motor. Aku bahkan masih mencabut kunci motor
yang asli di era ini, dan sambil melepas helmku, aku bisa mencium bau
disinfektan yang samar menaiki angin Desember yang dingin.
Hari ini hari Sabtu, satu minggu setelah pertemuan aku dengan Kikuoka di toko kue yang mahal itu.
Aku telah pergi setelah membaca email yang mengatakan bahwa
persiapan untuk tempat permulaanku di Gun Gale Online sudah selesai.
Tempat seperti apa yang telah aku kunjungi? Tempat itu adalah sebuah
rumah sakit kota di kawasan Chiyoda, sebuah kota di Pusat Tokyo.
Meskipun aku tidak biasanya memasuki jantung dari Tokyo, aku sudah
mengetahui jalannya. Tempat itu adalah rumah sakit yang sama di mana aku
sebelumnya dirawat untuk rehabilitasi ototku setelah terbebas dari SAO.
Meskipun rehabilitasi hanya telah mengambil sebulan sebelum aku
pulih dan keluar, aku telah terus pulang-pergi melewati jalan ini sering
sekali untuk pemeriksaan dan hal-hal seperti itu. Dalam setengah tahun
terakhir ini, aku belum mengunjungi rumah sakit, tetapi saat aku
memandang gedung putih itu, yang telah akrab dengan penglihatanku,
perasaan nostalgia dan kesepian yang kuat naik ke permukaan. Aku dengan
ringan menggelengkan kepala, menyingkirkan perasaan-perasaan ini, dan
mulai berjalan ke arah pintu masuk.
Diskusi enam hari yang lalu pada hari Minggu di mana aku
menjelaskan situasiku sekarang ini kepada Asuna muncul kembali di
pikiranku. Itu pada saat di tempat berjalan di dalam Imperial Palace
dekat rumah sakit ini.
“...Eeeeeehhhhhhhh!? Ki...Kirito, apakah kamu keluar dari ALO...!?”
Aku melihat mata Asuna, lebar akan ketidakpercayaan, mulai keluar
air mata, dan aku langsung menggelengkan kepala dengan keras secara
terburu.
“Bu... bukan, benar-benar bukan seperti itu! Ini hanya untuk
beberapa hari; Aku akan segera transfer balik! Se... sebenarnya, karena
ada sebuah alasan tertentu, aku harus memeriksa VRMMO yang lain...”
Dengan seruan ini, Asuna akhirnya meredakan pundaknya dan, kali ini, pandangan yang meragukan muncul di matanya.
“Memeriksa...? Kalau begitu, kenapa kamu tidak bisa membuat akun baru seperti biasa? Kenapa kamu harus mengubah akunmu ke situ?”
“Itu, hal itu... Si ‘Kacamata’ itu dari Departemen Urusan-Urusan Internal dan Komunikasi...”
Lalu, dengan beberapa kesulitan, aku menjelaskan kenapa panggilan
Kikuoka Seijirou terdiri dari hanya setengah alasan mengapa tempat
pertemuannya di Imperial Palace tetapi sambil dengan sengaja
menghilangkan satu bagian.
Saat kita baru sampai di gerbang, kita telah menyelesaikan
percakapan biasa kita, mengembalikan tiket masuk kita di jendela loket,
dan saat kita sedang di dekat Hirakawa Bridge Gate yang terentang sepanjang parit, Asuna, dengan muka yang sangat rumit, mengatakan.
“Permintaan Kikuoka... kalau begitu nampaknya aku tidak bisa
berbuat apa-apa lagi. Aku, bagaimanapun juga merasa tidak yakin jika
adalah baik untuk menaruh kepercayaanku sepenuhnya pada dia atau
tidak... Tetapi aku benar-benar berhutang budi pada dia...”
"Tidak, aku juga memiliki perasaan yang sama."
Pada saat itu, kita berdua tersenyum masam.
Tetapi Asuna segera kembali ke ekspresi yang serius, lalu menggenggam tanganku dengan erat dan mengatakan.
"... Kembali secepat mungkin. Tempat 'itu' adalah satu-satunya rumah kita.."
Aku mengangguk, menurunkan pandanganku ke permukaan parit dan menjawab.
"Tentu saja. Aku akan kembali ke ALO secepat mungkin. Ini
hanyalah penyelidikan tentang apa yang sedang terjadi di dalam game «Gun
Gale Online»."
—Betul sekali.
Aku tidak sepenuhnya jujur dengan Asuna tentang tujuan sebenarnya
dari permintaan Kikuoka. Dengan singkatnya, inti dari misiku adalah
untuk mengkontak pemain yang mungkin memiliki sebuah kekuatan misterius,
«Death Gun» yang didesas-desuskan. Aku tidak mengatakan hal itu pada
dia, karena aku percaya bahwa jika aku mengatakannya, dia akan tanpa
ragu menghalangi aku, atau mungkin juga meminta untuk dive bersama.
Ini merupakan alasan yang egois, tetapi aku telah memutuskan
bahwa aku tidak ada kemauan untuk membiarkan dia di mana saja dekat
sebuah virtual reality yang ada sedikitpun tanda bahaya.
Tentu saja, aku juga percaya bahwa, dari 90% kemungkinan, pembicaraan tentang «Death Gun» hanya sebuah produk desas-desus.
Bahwa, dari sebuah virtual reality, seorang manusia di dunia asli bisa dibunuh.
Berapa kalipun aku memikirkannya, aku tidak bisa percaya bahwa
hal seperti itu bisa terjadi. AmuSphere, bagaimanapun kamu
mengatakannya, adalah hanya sebuah mesin yang sedikit lebih maju dalam
teknologinya daripada sebuah TV biasa. Teknologi seperti «Virtual
Reality» dan «Full Dive» cenderung terlihat seperti tenaga gaib tetapi,
pada akhirnya, alat itu hanyalah sebuah alat yang praktis, dan tidak
bisa diartikan sebagai sesuatu seperti magic item yang bisa melepaskan
roh dari badan asli seseorang dan memindahkannya ke sebuah dunia
paralel.
Tetapi, sisa sepersepuluh dari kemungkinan itu menggerakkan kaki aku ke tempat ini.
Beberapa bulan yang lalu, aku sedang menyortir kumpulan akumulasi
dari majalah-majalah elektronik tua di dalam penyimpanan PC aku; satu
majalah dipublikasikan pas sebelum operasi SAO. Dalam itu aku menemukan
sebuah wawancara pendek dengan Direktur Argus, Kayaba Akihiko. Di situ,
saat dia masih hidup, dia membicarakan tentang hal 'itu'.
—'Itu' menunjuk kepada «Realized World» yang disebut An Incarnating Radius,
disingkat sebagai Aincrad. Di dalam itu, semua pemain akan melihat
banyak mimpi menjadi kenyataan. Mereka akan menemukan pedang-pedang,
monster-monster, dan misteri-misteri tanpa berhenti untuk menyadari
bahwa di dalam kumpulan simbol-simbol yang seperti game itu, sebuah
kekuatan, yang memaksa bahkan para pemain sendiri untuk berubah, berada
di dalam dunia itu—
Tanpa ragu, aku telah berubah. Asuna, juga pastinya, telah
berubah. Bahkan Egil, Klein, Liz, Scilica dan yang lain, yang ada di
dunia itu, di dalam dua tahun yang telah lewat, kita pasti telah
mengalami sebuah perubahan dalam kepribadian kita kepada sebuah titik
dimana kita tidak dapat kembali ke bagaimana kita sebelumnya.
Tetapi, bagaimana jika kita mengasumsi «evolusi» Kayaba tidak
berhenti di situ...? Terima kasih kepada paket eksekusi VRMMO «The
Seed», sekarang, sambil berada di sudut pertumbuhan yang tidak terbatas
dari perhubungan VR, jika kita bisa mengasumsi kerangka yang disebut
reality dan virtual reality sendiri dapat berubah, faktor seperti apa
yang akan terlahir...?
Membuat suara *uin*, pintu otomatis di depan mataku terbuka dan
wangi deterjen dan udara hangat melanda ke depan dan mengganggu
pikiranku yang tidak ada habisnya.
Di atas fakta bahwa dua pemain GGO telah mati di dunia nyata, aku
tidak bisa memastikan bahwa tidak akan ada bahaya sama sekali dengan
mengkontak «Death Gun». Setelah aku kembali ke ALO, jika aku jujur
tentang hal ini pada Asuna, dia pasti akan marah. Tetapi pada akhirnya,
dia pasti akan mengerti.
Untuk aku —yang menurut dugaan telah memotong waktu untuk
memonitor Aincrad, seseorang bernama Kirito yang melepaskan paket «The
Seed» ke dalam dunia— tidak ada pilihan lain selain ini.
Setelah keluar dari toilet, bergantung pada printout dari email
Kikuoka, aku akhirnya sampai di ruangan yang ditunjuk pada lantai ketiga
di dalam ruangan rumah sakit. Tidak ada nama pasien di pelat di samping
pintu. Setelah mengetok, aku menarik pintunya terbuka—
"Ossu! Kirigaya, lama tak bertemu!"
Orang yang menyapaku adalah perawat yang telah kukenal. Dia merawat aku sebelumnya dalam rehabilitasiku yang lama.
Di bawah topi perawat, rambut panjangnya dikepang menjadi tiga
untaian tebal di mana pada ujungnya, sebuah ribon putih kecil berayun.
Berpakaian sebuah seragam pink muda, perawakannya yang cukup tinggi
untuk seorang perempuan membuat sebuah silhuet tajam yang sangat
pastinya tampil sebagai sebuah godaan bagi pasien yang dirawat di rumah
sakit. Di sisi kiri dari dadanya ada sebuah pelat nama kecil dengan
«Aki» tertulis padanya.
Muka kecil itu yang mengekspresikan sebuah senyuman pastinya,
rapi nan bersih dan cantik seperti malaikat berjubah putih, tetapi,
merespon dengan seperlunya, mengetahui dia dapat menjadi menakutkan saat
dia mau, aku keluar dari keadaan kelengar dalam satu detik dan
buru-buru menurunkan kepala.
"Ah... Ha-Halo, maaf karena tidak memberitahu anda."
Pada saat itu, Jururawat Aki tiba-tiba memanjangkan kedua
tangannya, dan menyentuh aku, dari pundak sampai ke lenganku, dan dengan
erat memegang sisi dari perutku.
"Wa...waaa!?"
"O—, kamu sudah cukup tambah besar. Tetapi, ini masih belum cukup, apakah kamu sudah makan dengan benar?"
"Aku, aku sudah makan, aku sudah makan. Tetapi, uh, bagaimana aku harus mengatakannya, kenapa Aki-san disini?"
Aku melihat di sekitar ruangan tetapi di dalam ruang yang kecil dan privat ini, sama sekali tidak ada orang lain.
"Saya dengar tentang kamu saat berbicara dengan pegawai negeri
berkacamata itu. Tentu saja, demi pegawai negeri itu, jaringan...
virtual? Kamu melakukan sebuah investigasi? Meskipun belum lewat setahun
sejak kamu kembali, pasti sulit, kan? Mengingat bahwa, karena aku yang
bertugas saat rehabilitasi kamu, saya telah diminta untuk menge-cek
monitor-monitor, dan hari ini, saya keluar dari shift biasa saya.
Setelah berbicara dengan para atasanku, seperti yang seseorang harapkan
dari kekuatan negara, saya benar-benar merasakan itu. Lagipula, untuk
sementara, kita akan bekerjasama lagi, Kirigaya-kun."
"Ah... A-Aku juga."
Dengan suatu cara, percaya bahwa aku lemah terhadap wanita cantik, dia telah memikirkan rencana licik ini, Kikuokaaaaa—
sambil mengutuk pegawai yang tidak ada di sini di pikiranku, dengan
sebuah senyum, aku memegang tangan yang Jururawat Aki ulurkan.
"... Jadi, pegawai negeri berkacamata itu tidak datang?"
"Iya, dia mengatakan sesuatu tentang sebuah meeting yang dia
tidak bisa keluar dari. Dia memercayakan aku dengan sebuah pesan untuk
anda."
Aku membuka amplop manila yang telah diberikan kepadaku dan mengeluarkan selembar kertas yang telah ditulis tangan.
'Laporannya telah diteruskan dengan surat ke alamat yang biasa.
Telah diminta agar ongkos pengeluaran tambahan untuk dibayar sepenuhnya
dengan pemberian upah setelah misinya diselesaikan. P.S.: Hanya karena
kamu sendiri dengan seorang jururawat yang cantik di dalam ruangan
privat, jangan biarkan dorongan hawa nafsumu keluar.'
Pada saat itu, aku meramas memo itu sepenuhnya dengan amplopnya
dan melemparnya ke dalam kantong jaket motorku. Kalau ini sampai dibaca
Jururawat Aki, tindakan godaannya bisa benar-benar dituntut.
Memberikan sebuah senyum yang tegang pada wanita yang mengedip secara mencurigakan, aku mengatakan.
"Ah—... Kalau begitu, kita sebaiknya segera mengbuhung ke internet."
"Ah, baik baik. Mari kita mulai persiapannya."
Di sisi tempat tidur yang telah ditunjuk, monitor-monitor
berwarna terang telah berbaris dan di atas tempat tidur ada, sebuah
AmuSphere baru yang memancarkan cahaya silver.
"Baiklah kalau begitu, lepaskan bajumu, Kirigaya-kun."
"Apa... Apa!?"
"Elektroda-elektroda, untuk saya tempelkan padanya. Bagaimanapun
juga, saat kamu dirawat di rumah sakit, saya sudah pernah melihat
semuanya jadi kamu tidak perlu malu—"
"... Uh, apakah kalau bagian atas saja tidak apa-apa...?"
Setelah Jururawat Aki berpikir untuk sesaat, untungnya, dia
mengangguk. Dengan pasrah, aku melepaskan jaketku dan baju berlengan
panjangku dan menaruhnya di atas tempat tidur. Semuanya dengan
sekaligus, elektroda-elektroda yang dipakai monitor elektro-kardiogram
telah tertempel di berbagai tempat di bagian atas badanku. Dalam halnya
AmuSpehere, di situ ada beberapa yang juga memiliki monitor detak
jantung tetapi Kikuoka nampaknya memiliki keraguan bahwa fitur itu bisa
diterobos dengan cracking. Melihat pada satu hal itu, aku memahami bahwa dia, paling tidak sedikitpun, benar-benar khawatir tentang keamananku.
"Baiklah, dengan ini, semua sudah siap."
Saat jururawat yang sedang menge-cek monitor terakhir mengangguk
dengan dalam, meraba-raba, aku mengambil AmuSphere nya, memakainya pada
kepalaku, dan menyalakannya.
"Uh, baiklah kalau begitu... aku pergi. Kira-kira, aku akan di dalam untuk sekitar empat, lima jam jadi..."
"Baiklah, saya akan menjaga badan Kirigaya-kun dengan sebaik-baiknya jadi jangan khawatir dan berhati-hati ya."
"A... Aku di dalam penjagaan anda."
Aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana keadaan menjadi seperti
ini... Saat aku sedang memikirkan pertanyaan ini, nampaknya setelah
semua yang telah terjadi, aku menutup mataku.
Pada saat yang sama, dengan kupingku, suara elektronik menginformasikan aku tentang siapnya persiapan.
"Link Start"
Setelah mengatakan perintahnya, sinar cahaya putih yang telah
biasa aku lihat menutup area penglihatanku, kesadaranku terlepas dari
badanku.
Pada saat aku mendarat di dunia virtual, aku mengingat perasaan tidak nyaman yang samar itu.
Alasannya dikonfirmasi setelah beberapa detik. Itu karena
langitnya memiliki satu sisi tercelup oleh warna kuning dengan sedikit
jejak warna kemerah-merahan yang samar.
Aku mendengar bahwa waktu di dalam «Gun Gale Online» telah
disinkronisasi dengan dunia nyata. Dengan kata lain, karena baru saja
jam satu tadi, langitnya seharusnya berwarna biru yang sama dengan yang
bisa dilihat melalui jendela sebelumnya di dalam rumah sakit. Meskipun
hal ini, langitnya menampilkan warna senja yang mendepresikan, tidak ada
alasan yang jelas untuk ini.
Namun demikian, setelah mengimajinasikan satu hal dengan yang
lain, aku mengangkat bahu dan mengabaikannya. Setting bumi GGO yang
gersang dimodelkan dari Bumi setelah perang yang terakhir. Itu mungkin
sebuah produksi demi memberikan sebuah atmosfir yang apokaliptik.
Sekali lagi, aku mengarahkan mataku pada penampilan kota sentral GGO yang majestik «SBC Gurokken» yang tersebar di depan aku.
Seperti yang seseorang harapkan, sebuah keunggulan yang hanya berada di dalam SF VRMMO,
bentuk itu sangat berbeda dari kota kapital yang baru didirikan
«Yggrasil City» di dunia atas dalam pohon, Alfheim dan dari pemandangan
kota yang fantastik dari level-level berlapis Aincrad sebelumnya.
Bangunan-bangunan dengan sebuah rasa metalik menjunjung tinggi
seperti menembus surga-surga, koridor-koridor udara menghubungkan mereke
bersama seperti sebuah jaring yang bertautan. Iklan-iklan hologram
berwarna neon mengalir dengan sibuk di celah-celah antara
bangunan-bangunan; mendekati tanah, mereka terus bertambah, seperti
sebuah banjir warna dan suara.
Akhirnya, aku melihat ke tanah dan tanah dimana aku berdiri bukan
apa-apa seperti tanah liat atau batu, tetapi sebuah jalan terlapis
dengan pelat metal.
Di belakang aku adalah sesuatu yang terlihat seperti sebuah
bangunan kubah yang didirikan sebagai lokasi awal bagi pemain yang baru
mulai, dan di depanku, sebuah jalan yang terentang seperti sebuah jalan
utama kota. Di sisi kiri dan kanan dan dari jalan itu, toko-toko yang
perlu dipertanyakan berbaris dengan ketat dalam sebuah tontonan yang
menyerupai beberapa sisi jalan di Akihabara.
Lalu, para pemain yang datang dan pergi juga hanya merupakan grup
yang memegang sebuah atmosfir yang terang-terangan. Dengan berlimpah,
ada banyak sekali laki-laki. Mungkin itu karena pengalamanku dengan ALO,
yang mempunyai proporsi perempuan yang relatif banyak, atau mungkin
saja, peri-peri penghuni dunia tersebut yang lembut. Pemandangan di sini
malah berlimpah dengan laki-laki kasar, mengigal sambil memakai jaket
kamuflase militer dan armor badan berwarna hitam. Sejujurnya, hal itu
memberi sebuah perasaan tertekan dan, bagaimana aku harus mengatakannya,
barang sisa, atau jika aku mengatakannya dengan jelas, kotoran. Dengan
tambahan, dengan semua mata-mata yang tidak ramah itu, sejujurnya,
sangat susah untuk berbicara dengan mereka.
Alasan untuk merasa tertekan adalah juga, bahwa sesuatu yang
lazim digantung oleh para pemain di pundak dan punggung mereka;
senjata-senjata yang berbunyi, hitam, dan berkarat— senapan.
Senjata itu kekurangan elemen dekoratif seperti pada
pedang-pedang dan tombak-tombak dan malahan, hanya ada satu tujuan untuk
senapan-senapan. Mereka adalah senjata. Itu adalah hanya demi
mengalahkan musuh yang dari bentuk dan warna ini.
Dengan kata lain, aku melihat sesuatu yang bisa juga dikatakan
pada dunia ini sendiri dan aku menegaskan hal ini di dalam pikiranku.
Satu-satunya tujuan untuk berada di game ini adalah untuk
"melawan, membunuh, dan mencuri." Komponen ALO yang disebut-sebut
"menikmati akitivitas-aktivitas di dalam sebuah dunia ilusi" telah
hampir sepenuhnya dilucuti.
Karena itu, figur yang indah dan cantik mungkin merupakan sebuah
faktor negatif. Demi mengintimidasi musuh-musuh, penampilan di luar
adalah sebuah parameter yang penting bagi para prajurit. Kenapa
kebanyakan dari para lelaki menumbuhkan jenggot mereka dan mengukir
goresan-goresan yang mencolok pada muka-muka mereka adalah mungkin
karena alasan ini.
Dan tentang bagaimana hal itu memprihatinkan aku, penampilan seperti apa yang avatar aku tampilkan ?
Aku langsung bertanya-tanya dan melihat seluruh badanku sendiri.
Demi objektif aku untuk ditarget oleh kejahatan terkemuka "Death Gun",
aku mengingini bentuk seorang prajurit macho dari sebuah film Hollywood—
...Aku memiliki firasat yang buruk.
Kulit di kedua tanganku seputih kaca dan jari-jarinya juga cukup
tipis. Badanku, yang terselimuti dalam sebuah jaket militer hitam untuk
bertarung, tergantung dari keadaan, adalah lebih langsing dari aku dalam
kenyataan. Dari perasaan menurut arah pandangku, bagaimanapun juga, aku
tidak sebenarnya berpikir bahwa ketinggianku sangat tinggi juga.
Sesuai dengan dive ke dalam Gun Gale Online, seperti yang aku
jelaskan kepada Asuna beberapa hari yang lalu, aku tidak membuat
karakter baru dari awal. Jika aku telah melakukan hal itu, aku mungkin
tidak akan pernah bisa bertemu dengan "Death Gun", yang menarget
orang-orang kuat.
Menggunakan paket pengembangan dan bantuan VRMMO, "The Seed",
dan membuat pembuatan karakter— lebih dari itu, jika aku menjelaskannya
secara mendetil, untuk dunia-dunia yang beroperasi dengan sistem
"Cardinal", hanya ada satu peraturan meta yang mutual.
Jika anda menggunakan fungsi itu, adalah mungkin untuk
mempertahankan kemampuan-kemampuan itu jika data karakter yang terbangun
di dalam game ditransfer ke sebuah game yang diberikan dari perusahaan
lain. Hal itu sangat mirip dengan kartu SIM dalam terminal telepon
genggam yang anda bisa ganti dengan bebas dengan sebuah terminal pembawa
lain.
Sebagai contoh, anda mentransfer sebuah karakter dengan stat 100
Kekuatan dan 80 Kecepatan yang terbangun di dalam game berlabel A ke
game B. Setelah melakukan itu, sebuah "Relative Preservation"
transformasi dari kekuatan game A akan terjadi, dan di dalam game B,
sebuah karakter dengan stat 40 Kekuatan dan 30 Kelincahan akan terlahir.
Untuk lebih sederhananya, sebuah prajurit tipe petarung dengan kekuatan
level menengah ke atas di ALO akan tereinkarnasi menjadi sebuah
petarung level menengah ke atas di GGO.
Tentu saja, ini bukanlah sebuah fungsi yang meningkatkan kopian
sebuah karakter. Pada saat karakter ditransfer, karakter dari dunia
originalnya akan sepenuhnya dihapus dan lebih lagi, karena satu-satunya
hal yang bisa ditransfer adalah karakternya, tidak semua items bisa ikut
ditransfer, meskipun hal itu cukup mudah, hal itu adalah sebuah
tindakan yang membutuhkan keberanian. Kali ini, saat aku harus
mentransfer karakter yang aku gunakan di ALO "Spriggan Kirito" ke GGO,
aku dengan paksa meninggalkan hampir semua itemku di dalam sebuah gudang
dalam toko serba ada Egil yang baru saja dia buka pada lantai ke 50 di
New Aincrad.
Dan sekarang, dengan fungsi transfer, aku mendapatkan kekuatan
Kirito dari ALO, tetapi, karena karakternya diroll-back dan dibangun
kembali, bukanlah status Kirito dalam ALO yang edan, tetapi karena aku
tidak bisa membawa penampilanku, seperti items, aku tidak bisa
memprediksi bentuk seperti apa yang secara acak telah dihasilkan. Karena
itu, lebih baik aku berharap saja untuk bentuk seorang prajurit
berotot, tetapi...
Sambil merasakan ketidaknyamanan yang tak henti-hentinya, aku
melihat-lihat sekelilingku, dan berjalan ke cermin kaca yang menghiasi
kubah yang aku baru saja tinggal.
Lalu, mataku terbuka lebar karena terkejut.
"Apa ini!?"
Apa yang terefleksi di dalam kaca adalah sebuah bentuk yang jauh seratus abad dari harapanku.
Ketinggiannya sudah pasti lebih pendek dari saat aku menjadi
Spriggan, dan lebih lagi, lebih kurus. Warna rambutnya, tanpa berubah,
tetap hitam tetapi, rambutnya melambai dengan halus dari atas kepalaku
ke sekitar pundakku. Mukaku adalah, seperti tanganku, berwarna sebuah
putih yang hampir transparan, dan bibirku berwarna merah tua terang.
Warna matanya juga, meskipun berwarna hitam seperti rambut,
tetapi mengkilap dengan berlebihan. Mata itu yang dilingkari
pinggirannya dengan bulu mata yang panjang memberikan sebuah penglihatan
yang murni tetapi juga mempesona dari cermin, yang sangat sampai aku
secara tidak sengaja lupa bahwa penampilan itu adalah diriku sendiri dan
membiarkan mataku pergi ke mana-mana dengan bebas. Sekali lagi, aku
melihat pada penglihatan ini, dan mengeluarkan nafas yang panjang.
Asuna sering bilang bahwa Kiritp di SAO mempunyai muka yang cukup
feminin tetapi, bentuk ini sudah lebih dari tingkat itu. Entah di mana
anda bisa melihat sebuah kekuatan prajurit dalam bentuk ini, dan dengan
itu, aku berdiri mematung di tempat, dalam keadaan kebingungan.
Seseorang yang sedang memakan sesuatu sedikit jauh dari sini tiba-tiba
melambaikan tangannya pada ku dan dari belakang, memanggil aku yang
terefleksi di dalam kaca.
"Hei perempuan muda, anda sangat beruntung! Avatar itu, tipe
F1300! Tipe itu jarang sekali muncul. Jadi bagaimana tentang ini, karena
jika sekarang kan kamu baru saja mulai, bagaimana kalau kamu jual akun
itu? Saya akan memberimu dua mega credits!"
".................."
Menghentikan pikiranku tentang keadaanku sekarang ini untuk
sementara, aku menatap pada muka orang itu tetapi, tiba-tiba, sebuah
kemungkinan terpikir dan, dengan cepat, menggunakan kedua tanganku, aku
menyentuh dadaku. Tetapi untungnya, hanya ada sebuah perasaan kerataan
jadi perasaan kuatirku hilang. Nampaknya ketakutanku pada terjadinya
kesalahan penggantian gender tidak ditemukan.
Game-game VR belakangan ini, untuk hampir semua judulnya,
melarang mengganti gender dari pemain dan avatar. Alasannya adalah
karena pemakaian jangka waktu lama sebuah avatar dari gender yang
berlawanan menyebabkan terjadinya efek merugikan bagi tubuh dan jiwa
yang tidak bisa dihiraukan. Tetapi, aku pernah mendengar bahwa, karena
identifikasi dari gender pemain terjadi menurut gelombang otak pemain,
pada kasus yang sangat langka, disebabkan oleh beberapa impuls yang
diputuskan oleh sistem dengan gender lawan, pemain-pemain telah
dikejutkan saat mereka dive masuk.
Karena sekarang aku baru memikirkannya, mengubah setting gender
di SAO yang original itu bisa dilakukan, tetapi langsung setelah game
dimulai, sistemnya mengembalikan kita pada gender asli kita, aku
bertanya-tanya apakah jika semua ini, adalah karena Kayaba telah
memahami efek-efek kerugian itu... Dan dengan pikiran-pikiran tiba-tiba
yang tidak pada tempatnya itu berkeliling di sekitar kepalaku, aku
akhirnya menatap pada muka laki-laki itu dan sambil mengangkat bahuku,
menjawab.
"Uhh... Maaf tapi, aku laki-laki."
Suara itu juga, meskipun sedikit rendah, tetapi cukup untuk
menjadi nada yang kebanyakan digunakan oleh perempuan. Dengan sedih,
saat aku sedang menunggu sebuah jawaban, orang itu, setelah terdiam
untuk sebentar, mulai bicara terus menerus dengan semangat.
"Jadi, jadi, itu adalah tipe M9000!? Itu, itu menakjubkan.. Kalau begitu
aku akan meberimu empat, bukan, lima mega credits. Jual itu kepadaku,
dengan segala cara, tolong jual avatar itu kepadaku!!"
Menjual ini, apalagi memberikan ini kepada kamu, aku ingin
menukarnya dengan penampilan luar anda tetapi, sayangnya, itu bukanlah
sesuatu yang bisa kulakukan.
"Um, ini bukanlah karakter awalku tetapi yang ditransfer. Karakter ini tidak bisa ditukar oleh uang dengan mudah. Maaf."
"Oh... begitu..."
Orang itu, dengan karakteristik muka kekecewaan, melihatku dari
semua sisi tetapi tidak lama, menenangkan dirinya, dia bertanya,
"Gosip kalau begitu, avatar langka itu nampaknya telah dipakai
untuk sangat lama di akun sebelumnya. Sebagai referensi, bisakah kamu
menjumlahkan waktu main akun kamu sebelumnya?"
"Apa? Wa, waktu mainku?"
Aku tiba-tiba memikirkannya. Akun sebelum aku mentransfer, pada
dasarnya, waktu main dari pendekar pedang Kirito yang pergi dari SAO ke
ALO adalah sekitar paling tidak 2 tahun... dengan kata lain, tujuh ratus
dan 30 hari dikali dua puluh empat jam.
"Uhh... sepuluh ri..."
Aku mulai menjawab sejujurnya, tetapi aku langsung menghentikan
diri. Karena baru saja tiga tahun sejak game genre VRMMO keluar,
orang-orang yang mempunyai pengalaman dive hingga sepuluh ribu jam
adalah mantan pemain-pemain SAO.
"Uh, sekitar satu tahun. Karena itu, pasti hanya sebuah kebetulan kan?"
"Oh begitu... baik, jika kamu mengubah pikiranmu, tolong kontak saya."
Setelah mengatakan itu, dia mendorong sebuah item menyerupai
sebuah kartu transparan kepadaku dan dengan enggan pergi. Ini adalah
kartu-kartu yang mempunyai nama karakter, gender, guild dan hal-hal lain
tertulis padanya, tetapi kartu itu lalu menghilang menjadi
partikel-partikel cahaya saat aku sedang melihatnya, tetapi datanya
mungkin telah dimasukkan ke buku alamat atau sesuatu di dalam jendela
sistem.
Dengan sebuah lirikan mata, aku masih memandang pada diriku yang
tidak henti-hentinya terefleksi di dalam cermin jahat itu, dan aku
bertanya-tanya jika ada sesuatu yang aku bisa lakukan tentang hal itu,
tetapi tak ada yang muncul di pikiran.
Catatan transfer ini terpasang di dalam data karakterku jadi saat
aku kembali ke ALO, aku akan berada di bentuk Spriggan berambut tajam
Kirito, tetapi jika aku transfer ke dunia GGO lagi, aku akan diberikan
avatar ini yang orang tidak bisa bedakan apakah laki atau perempuan.
'Mencari keberuntungan di dalam kesialan' adalah motoku jadi aku,
untuk beberapa menit, memikirkan tentang ini dan itu dan akhirnya, aku
mendapatkan sebuah "ide yang bagus."
Alasan aku datang ke dunia ini adalah hanya untuk mengkontak
pemain yang dirumorkan yang dipanggil «Death Gun» dan meskipun aku tidak
ingin diserang, itu adalah satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran
dari kekuatan dia dengan segala cara apapun yang mungkin. Untuk alasan
itu, selama aku memperlihatkan kekuatanku, aku pasti akan menonjol.
Karena GGO, dari sifat gamenya, mungkin mempunyai jumlah pemain
perempuan yang sangat kecil, bentuk ini yang terlihat seperti perempuan
cantik pada pandangan pertama akan pasti menonjol pada suatu cara yang
aku tidak inginkan. Mereka pasti sangat tidak akan mengharapkan untuk
hal-hal seperti udara medan perang yang menakutkan meskipun hanya
sefragmen, tetapi di sini, tidak ada pilihan lain selain mendambakan
lebih banyak kemampuan bertempur.
Berhubungan dengan menunjukkan kekuatanku, untuk sekarang, ada satu cara.
Menggunakan cara main biasa— dengan kata lain, dengan hal-hal
seperti menyelesaikan dungeon, dan sesuatu yang aku tidak ingin lakukan,
sebut saja membunuh pemain lain, diperlukan waktu untuk namamu menjadi
terkenal. Tetapi, untungnya, di dalam game ini, hanya dalam beberapa
hari, pertandingan untuk menetapkan pemain terkuat «Bullet of Bullets»
akan diadakan. Aku akan mendaftar pada pertandingan itu dan maju sampai
ke final dari pertandingan battle royal.
Jika aku bisa menjadi paling atas, aku pasti akan diperhatikan oleh
«Death Gun» atau mungkin, tergantung dari keadaan, ada kemungkinan orang
itu sendiri akan muncul di pertandingan.
Diving ke dalam game ini untuk pertama kali, aku merasa gelisah
tentang bagaimana aku akan bertarung dan berapa banyak, tetapi lagipula,
aku tidak bisa melakukan apa-apa selain untuk mencobanya sendiri.
Bertarung dengan seseorang yang bertarung menggunakan sebuah senapan
adalah mungkin tidak sama dengan bertarung dengan seseorang pemanah atau penyihir
di ALO tetapi, berbicara secara umum, ada batas-batas dengan VRMMO;
seharusnya ada sebuah fitur umum yang masih layak. Aku hanya bisa
mencoba sebanyak yang aku bisa— Jika aku tidak bisa meraih kekuatan itu,
pada saat itu, hal itu akan menjadi tanggung jawab Kikuoka yang
memaksakan tugas keterlaluan ini padaku.
Bagaimanapun juga, pertama adalah prosedur pendaftaran turnamen dan lalu pembelian equipment.
Aku melihat badanku satu kali lagi, bernapas panjang, belok ke
arah jalan utama, dan lalu mulai berjalan, Langsung setelah itu, aku
tersadar bahwa aku secara tidak sadar memainkan rambut yang melambai
dari pipiku dan aku lalu diserbu oleh suasana hati yang gelap dan suram.
—Setelah beberapa menit, dengan terlalu cepat, aku telah tersesat.
Kota dengan nama yang aneh «SBC Gurokken» nampaknya berbentuk
sebuah lantai luas dengan banyak struktur berlapis banyak yang tampaknya
tertumpuk di atas satu dengan yang lain. Di depanku saat aku sedang
berdiri tegak, ada sebuah rentetan bangunan-bangunan hirarkis seperti
sebuah skala kecil dari kota mengambang Aincrad, warna-warna dari
matahari terbenam mengintip melewati celah-celah di kejauhan.
Bangunan-bangunan, berbaris seperti untuk menembus lapisan-lapisan dan
terhubung dengan eskalator dan koridor-koridor mirip elevator melewati
udara, bersinar dan berkelap-kelip, adalah, sejujurnya, indah tetapi,
dalam semua kepraktisannya, adalah juga cukup kompleks seperti sebuah
dungeon.
Tentu saja, aku bisa saja membawa sebuah map tiga dimensi yang
mendetil dari menu utama tetapi, dengan posisiku sekarang ini,
sebenarnya, tidak bisa dibandingkan dengan pemandangan yang tersebar
luas tepat di depan mataku.
Jika ini adalah sebuah RPG yang berdiri sendiri, aku akan dengan
sembrono berjalan-jalan dalam keputusasaan, dan hingga sampai harus
berjalan balik ke titik awal, tetapi untungnya, ini adalah sebuah MMO.
Pada saat-saat seperti ini, ada sebuah cara yang seseorang bisa gunakan.
Aku menemukan tanda nama seseorang yang datang dan pergi di depan mataku yang bukan seorang NPC tetapi seorang pemain, dan pergi ke situ, memanggil dia dari belakang.
"Permisi, sepertinya aku sedikit tersesat..."
Dan lalu, langsung berpikir bahwa aku telah melakukan kesalahan.
Itu karena, bagaimanapun aku melihatnya, orang yang berbalik badan itu adalah seorang perempuan.
Rambut tipis berwarna biru muda yang berayun-ayun itu pendek
begitu saja tetapi ada seikat rambut terikat di kedua sisi dahi dia. Di
bawah alisnya yang istimewa, mata besarnya berwarna nila yang memberikan
suasana seperti kucing sedang bersinar, dan sebuah hidung kecil dengan
warna yang bersambung sampai ke bibirnya yang tipis.
Dengan segan, aku ada pikiran bahwa ada beberapa kemungkinan,
orang ini adalah sama sepertiku dan adalah seorang laki-laki dengan
avatar yang mirip perempuan dan melarikan mataku pada badannya dengan
secepat kilat tetapi, di bawah syal berwarna pasirnya, melalui
ritsleting terbuka dari jaketnya, bajunya kelihatan mengembang keluar.
Dan lagi, dia mempunyai perawakan yang sangat kecil. Kenapa aku tidak
menyadari akan hal itu adalah karena arah pandangku juga telah cukup
turun.
Dalam VRMMO, situasi di mana seorang pemain laki-laki yang
mengatakan "Aku telah tersesat" kepada seorang pemain perempuan,
sebanyak 70%, adalah kebanyakan untuk merayu.
—Namun, tanpa diduga, ekspresi muka seperti itu langsung menghilang.
"...Apakah anda baru memulai game ini? Anda sedang pergi ke mana?"
Mulut yang berbicara dengan suara yang jelas dan mungil bahkan
memiliki sebuah senyuman samar muncul. Memikirkan hal itu dalam
pikiranku tentang mengapa bisa begitu, aku akhirnya sampai pada
alasannya. Perempuan ini telah membuat kesalahpahaman yang sama dengan
pembeli avatar yang berbicara denganku sebelumnya. Bahwa aku adalah
seorang perempuan seperti dia. Bagaimana ini bisa terjadi.
"Ah...um..."
Dengan refleks, aku memikirkan untuk menjelaskan genderku tetapi tepat pada ujung akan melakukan hal itu, aku berhenti.
Ada sebuah alasan untuk ini, karena keadaan untuk situasi ini
nampaknya baik. Setelah ini, pada lain waktu, jika ada seorang pemain
laki-laki yang memanggilku dan salah paham bahwa aku seorang perempuan,
hal itu bisa menjadi sebuah situasi yang sedikit menyusahkan. 'Gunakan
apa saja yang kamu bisa gunakan' adalah moto keduaku jadi, meskipun hal
ini cukup licik pada perempuan ini, adalah terbaik untuk meninggalkan
kesalahpahaman ini seperti yang ada.
"Iya, ini adalah kali pertamaku. Di manakah ada sebuah toko
senjata murah dan gedung administrasi? Aku ingin pergi ke tempat-tempat
itu tetapi..."
Setelah menjawab dengan suara yang agak, sedikit tidak serak, perempuan itu mencondongkan kepalanya dalam kebingungan.
"Gedung administrasi? Anda ke situ untuk apa?"
"Ya... Untuk mendaftar pada pertandingan battle royal yang akan diadakan..."
Pada saat dia mendengar hal itu, mata besar perempuan itu membesar dan mulai berkedip karena terkejut.
"Uh...uhhhh, meskipun anda baru saja mulai hari ini? Ya, memang
tidak ada hal tentang siapa yang boleh atau tidak boleh mendaftar untuk
pertandingan ini, tapi levelmu mungkin kurang cukup..."
"Ah, ini bukanlah sebuah karakter awal. Karakter ini ditransfer dari game lain..."
"Wow, jadi begitu ya."
Mata nila perempuan itu berkelebat sesaat, dan kali ini, mulutnya naik dengan senyuman yang jelas.
"Apakah boleh jika aku bertanya? Kenapa anda memutuskan untuk datang ke game ini yang penuh dengan debu dan berbau oli?"
"Tentang itu... Uhh, sampai sekarang, aku selalu hanya memainkan
game-game fantasi tetapi, aku memikirkan sekali-sekali, aku sebaiknya
mencoba sebuah game yang cyber... Sesuatu seperti pertandingan senapan nampaknya menarik.
Nah, ini tidak sepenuhnya bohong. Seberapa jauhnya rasa VRMMO
dari orang sepertiku yang spesialis pada bertarung dengan pedang bisa
masuk ke dalam GGO agak menarik perhatianku.
"Oh begitu. Jadi itu kenapa anda tiba-tiba ingin masuk ke BoB. Kamu mempunyai nyali."
Perempuan itu, setelah sebuah tawaan, mengangguk.
"Baiklah, aku akan menunjukkan kepadamu tempat-tempat sekitar.
Kebetulan aku juga sedang pergi ke gedung administrasi. Sebelum itu
adalah toko senjata kan? Apakah ada sebuah senjata yang kamu suka?"
"Uh, sebenarnya..."
Meskipun aku telah mengatakannya, tidak ada yang langsung muncul
dalam pikiran. Setelah aku tidak bisa memikirkan sebuah jawaban, dia
terseyum lagi.
"Kalau begitu, mari kita pergi ke sebuah toko dengan banyak sekali tipe-tipe yang berbeda. Lewat sini."
Secara langsung berbalik arah, aku buru-buru mengejar buntut dari syal yang dipakai perempuan itu yang telah mulai berjalan.
Kita berjalan melalui jalan-jalan yang berbelit, gang-gang,
lorong-lorong, dan tangga-tangga dari satu ke yang lain yang aku pikir
adalah tidak mungkin untuk diingat dan setelah berjalan untuk beberapa
menit, kita sampai pada jalan utama yang telah dibuka oleh jalan. Dengan
positif, aku melihat sebuah toko yang mempesona yang aku pikir adalah
sebuah grup invesmen luar negeri sebuah perusahaan besar.
"Di situ."
Dia dengan lancar berjalan melalui kerumunan dan mendekati toko itu.
Interior besar dari toko itu penuh dengan berbagai lampu berwarna
dan keributan hingga mirip sebuah taman hiburan. Pegawai-pegawai toko
itu semua adalah NPC
wanita cantik berpakaian minim dalam kostum silver besar dan
menunjukkan sebuah senyum bisnis yang tak berdosa, tetapi yang
mengejutkan adalah apa yang mereka semua pegang dan yang menghiasi
seluruh tembok. Bersinar dengan sinar hitam, mereka semua adalah pistol dan senapan mesin dan lain-lain yang seperti itu.
"Ini... Ini benar-benar sebuah toko yang menarik."
Setelah mengatakan itu, perempuan di sampingku juga mengeluarkan senyum masam.
"Sejujurnya, daripada di kebanyakan toko-toko yang ditujukan
untuk para pemula, kamu bisa menemukan tawaran-tawaran yang lebih baik
di toko-toko yang lebih spesialis. Tapi bagaimanapun, jika kita bisa
mencari tipe senapan yang kamu suka, maka itu boleh juga."
Meskipun jika dia mengatakan begitu, ada banyak pemain-pemain
memakai baju-baju yang mencolok berkeliaran di sekitar dalam toko, yang,
dibandingkan dengan warna padang pasir dari perempuan ini, memberikan
sebuah perasaan dari menjadi pemula.
"Baiklah kalau begitu, pemain jenis apa kamu?"
Setelah ditanya, aku langsung memikirkan tentang hal itu.
Dikarenakan transfer dari dunia lain, tendensi dari kemampuan-kemampuan
karakter akan telah terbawa.
"Umm, fokus utama adalah kekuatan dan lalu kecepatan... Aku pikir?"
"Tipe kekuatan-kecepatan ya. Kalau begitu, mungkin tipe yang membawa senapan serbu berat atau sebuah senapan mesin dengan diameter yang besar sebagai senjata utama dan sebuah pistol sebagai senjata sekunder baik untuk kamu... tapi, kamu baru transferkan? Kalau begitu, uangnya..."
"Oh... iya"
Dalam sekejap, aku menggerakkan tangan kananku dan mengeluarkan
layarku. Meskipun jika kemampuan-kemampuanku telah ditransfer, uang dan
items tidak bisa ditransfer. Maka dengan itu, jumlah uang yang
ditunjukkan di bagian bawah kolom penyimpanan adalah—
"Um... 1000 credits."
"... Jadi jumlah awal."
Saat pandangan kita bertemu, aku ditemukan dengan sebuah senyuman yang terepotkan.
"Ya..."
Dengan kembalinya ekspresi dia, perempuan itu memegang bibir tipisnya dengan ujung jarinya dan mencondongkan kepalanya.
"...Dengan jumlah uang itu, kamu mungkin tidak bisa membeli apa-apa selain dari sebuah ray gun kecil… sebuah senjata balistik, sebuah revolver bekas... bagaimana ya... umm, kalau boleh…"
Menebak apa yang dia coba katakan, aku buru-buru menggelengkan
kepalaku. Dalam MMO apapun, seorang pemula yang menerima terlalu banyak
bantuan dari seorang veteran itu tidak terpuji. Aku tidak datang ke game
ini untuk bersenang-senang tetapi, meskipun begitu, sebagai seorang
gamer, ada sebuah garis yang aku tidak bisa lewati.
"Tidak, tak apa-apa. Anda tidak perlu melakukan itu. Um... Apakah
ada tempat dimana aku bisa mendapat uang cepat? Jika aku tidak salah,
aku dengar bahwa ada sebuah kasino di game ini..."
Perempuan itu, dengan diduga, menunjukkan sebuah senyuman yang sedikit terkagum.
"Untuk tempat-tempat seperti itu, akan lebih baik jika kamu
mempunyai jumlah uang yang lebih. Dengan itu, di sekitar sini, ada yang
kecil dan yang besar. Jika apa yang aku ingat benar, di toko ini..."
Membelokkan kepala dia, dia menunjuk pada bagian dalam dari toko.
"Ada sebuah jenis game perjudian yang mirip. Lihat."
Melihat lebih dekat, tempat itu adalah sebuah area luas yang
berdinding yang, dalam istilah mesin-mesin game, merupakan sebuah tiruan
yang besarnya berlebihan.
Tempat itu hitung kasarnya sekitar 3 meter lebarnya dan 20 meter
panjangnya. Terentang pada ubin-ubin metal, dikelilingi oleh sebuah
pagar setinggi pinggang, seorang NPC berpakaian ahli tembak sedang
berdiri paling jauh di dalam. Di depan, daripada sebuah pagar, ada
sebuah batang penutupan di mana aku bisa melihat sebuah pilar kotak
seperti kasir.
Di belakang ahli tembak, yang terkadang akan mengeluarkan
pistolnya dari tempat penyimpan pistol di pinggang dia, memutar-mutarnya
dengan ujung jarinya, pada tembok bata yang tergores banyak
lubang-lubang peluru yang tidak terhitung jumlahnya, pada atasnya, ada
sebuah papan neon pink dengan kata "Untouchable.
"...Apakah ini?"
Setelah aku bertanya, perempuan itu, sambil memindahkan jarinya, menjelaskan kepadaku.
"Ini adalah sebuah game di mana kamu memasuki gerbang di depan
kamu dan sambil menghindari tembakan dari NPC di dalam, kamu mencoba
untuk melihat seberapa dekat kamu bisa mendekati dia. Skor yang paling
tinggi sampai sekarang, lihat di situ."
Di mana jari penunjuk dia menunjuk pada, di dalam bagian pusat
pada pagar di lantai, ada sebuah garis tipis, merah, yang bersinar.
Garis itu sedikit melebihi dua per tiga bagian dari seluruh area.
"Wow, berapa banyak yang anda bisa dapat?"
"Um, ini berharga 500 credits untuk dimainkan dan kamu mendapat
1000 jika kamu menerobos sepuluh meter, dan 2000 untuk lima belas meter.
Dan jika kamu dengan suatu cara bisa menyentuh si ahli tembak, kamu
mendapatkan semua uang yang para pemain telah tuang sampai sekarang."
"Semua, semuanya!?"
"Lihat, papan itu menandakan bahwa ada sebuah petotalan. 1,10, lebih dari 300,000 huh."
"Itu... Itu adalah jumlah uang yang menakjubkan."
"Tapi itu tidak mungkin."
Perempuan itu langsung menjawab dan mengangkat bahu.
"Ahli tembak itu, setelah kamu melewati garis delapan meter, akan
merespon dengan tembakan-tembakan gesit yang curang. Meskipun
senjatanya hanya sebuah revolver,
dengan isi ulangnya yang sangat cepat sampai tidak masuk akal, senjata
itu melakukan sebuah 3 ronde tembakan beruntun. Pada saat kamu bisa
melihat garis prediksi, itu sudah terlambat."
"Garis prediksi..."
Pada saat itu, perempuan itu menarik lenganku dan dengan suara kecil, membisikkan.
"Lihat, ada seseorang yang akan menambah jumlah uangnya lagi."
Mengembalikan mataku dari ahli tembak ke pintu masuk, sebuah grup tiga orang laki-laki sedang mendekatinya.
Di dalam grup itu, satu orang, orang yang memakai sebuah jaket
militer yang rupanya dimaksudkan untuk digunakan dalam area-area dingin
dengan sebuah kamuflase abu-abu keputihan, berdiri di depan gerbang
sambil menyemangati dirinya sendiri. Dia menekan pada porsi atas dari
panel kasir dengan telapak dari tangan kanannya, dan dengan itu saja,
biaya tiketnya terbayar dan sebuah pawai riuh yang sangat bersemangat
terdengar. Semua sekaligus, dari sini dan situ, sebuah serambi yang
terdiri dari sekitar 10 orang berkumpul.
NPC ahli tembak itu meneriakkan sebuah logat populer "Ayo kita
pukul bokong orang ini ke atas sampai ke bulan!", dan membawa tangan
kanan dia ke tempat penyimpan pistol memegang pistolnya. Di depan
laki-laki yang berkamuflase dingin, sebuah hologram hijau yang
menandakan sebuah angka besar {3} termaterialisasi, dengan sebuah efek
suara yang menemani pengurangannya ke 2,1 dan pada saat yang sama saat
angka itu mencapai 0, palang metal di gerbang terbuka.
"Nuuuuuooooooorrrryyaaaaaaaaaaaaa!"
Orang distrik dingin itu, sambil menaikkan sebuah teriakan
perang, berlari cepat beberapa langkah atau seperti itu aku
memikirkannya, dan merentangkan kedua kakinya dan melakukan sebuah
pemberhentian mendadak. Dia membuka mata-matanya sepenuhnya, dan
tiba-tiba, membungkukkan bagian atas badannya ke kanan, menaikkan tangan
kirinya dan kaki kanannya ke sebuah postur yang aneh.
'Tarian apa itu?', adalah apa yang aku pikirkan dan pada saat
itu, peluru-peluru, bersinar merah dengan terang, melewati tempat
sepuluh sentimeter ke kiri dari kepala orang distrik dngin itu, di bawah
ketiak kirinya, dan di bawah paha kirinya. NPC ahli tembak itu telah
menarik pistolnya dari tempat penyimpannya dan menembakkan tiga tembakan
secara berturut-turut. Itu adalah sebuah penghindaran yang bagus tetapi
sepertinya orang distrik dingin itu nampaknya memahami jalur yang
dilewati peluru itu.
"...Barusan tadi, itu adalah lintasan pelurunyakah...?"
Aku berbisik, mengarahkan kepalaku dan perempuan dengan rambut
berwarna air itu mengangguk, dan menjawab dengan suara rendah yang sama.
"Itu betul. Penghindaran dengan cara «Trajectory Perception»."
Orang distrik dingin itu dengan ganas berlari cepat lagi tepat
pada saat garis tembakan menghilang dan lagi, berhenti mendadak. Kali
ini, dia membentangkan kedua kakinya lebar dan membungkukkan bagian atas
badannya sembilan puluh derajat.
Secara langsung, dengan sebuah suara geram bernada tinggi, dua
peluru melewati atas kepala dia dan satu di bawah selangkangan dia. Maju
lagi dan lalu berhenti. Hal itu seperti sebuah game «Lampu Merah/Lampu
Hijau».
Orang distrik dingin itu menampilkan gerakan-gerakan gesit, dan
semua sekaligus, dia telah maju sejauh tujuh meter. Pada saat itu, aku
memikirkan, 'tiga meter lagi dan dia bisa mendapatkan kembali jumlah dua
kali lipat dari uang yang dia telah gunakan untuk bermain.'
Hingga sekarang, NPC itu, yang telah secara cepat menembakkan
tiga tembakan terus-terusan dalam interval yang sama, mengeluarkan
peluru-peluru dengan sebuah kelambatan di antara dua peluru pertama dan
peluru ketiga. Orang distrik dingin itu menghindari peluru yang
terbangnya telat dengan sebuah lompatan tetapi, dengan pendaratannya,
dia menghancurkan keseimbangan dia dan satu tangan mendekati tanah. Saat
dia mencoba untuk berdiri dengan terburu, dia sudah terlambat. Tangan
kanan ahli tembak itu menyala dan lintasan tembakan yang terpancar
menyebarkan percikan-percikan oranye pada rompi putih orang itu.
Sebuah pawai riuh yang menyedihkan bermain. Si ahli tembak
meneriakkan kata-kata kemenangan yang kasar dan tampilan kumpulan uang
di latar belakangnya, ditemani dengan sebuah suara metalik kecil, naik
sebanyak lima ratus credits. Orang distrik dingin itu menurunkan
bahunya, dan dengan kecewa berjalan keluar dari gerbang.
"...jadi?"
Perempuan di sampingku, dengan sedikit tersenyum di bawah syalnya, mengangkat bahunya.
"Karena kamu pasti tidak bisa bergerak dalam sebuah garis lurus,
kamu hanya bisa bergerak dengan banyak ke kiri dan kanan dan apa saja
yang kamu coba, itulah batasnya."
"Hmm...begitu. Saat kamu bisa melihat garis persepsinya, itu sudah terlambat."
Sambil aku bergumam, aku sedang menggerakkan kakiku ke depan mendekati gerbang.
"Tunggu... Tunggu sebentar, kamu..."
Kepada perempuan dengan mata lebar yang mencoba menghentikan aku,
aku mengembalikan sebuah senyum ringan dan menekan tangan kananku pada
kasir.
Aku mendengar sebuah suara seperti sebuah kasir kuno. Sebuah suara penuh semangat bergema.
Mungkin karena penampilan dari seorang bodoh yang lain atau mungkin
karena penampilan dari diriku sendiri, para audiens dan grup tiga orang
itu mulai berkumpul. Perempuan dengan syal itu menaruh kedua tangannya
pada pinggang dia dan menggelengkan kepala dia sedikit dengan sebuah
ekspresi muak.
Pada saat yang sama dengan suara kasar ahli tembak itu yang
berbeda dari yang sebelumnya, perhitungan mundur mulai tepat di depan
mataku.
Aku menurunkan pinggangku dan mengambil sebuah postur untuk
sebuah lari cepat berkekuatan penuh. Angkanya menurun dan pada saat
palang metal terbuka, aku menendang maju dan meloncat pada lantai.
Sambil maju beberapa langkah, ahli tembak itu dengan cepat
menaikkan tangan kanan dia dan dari ujung pistolnya yang digenggamnya
dengan erat, tiga garis merah memanjang. Mereka semua menunjuk pada
kepalaku, sisi kanan dari dadaku, dan kaki kiriku.
—Pada saat aku merasakan ini, dengan semua kekuatanku, aku
meloncat depan ke kanan. Langsung setelah itu, sebuah garis tembakan
oranye melewati menuju ke kiri dari badanku. Dengan segera, aku
menendang panelnya dengan kaki kananku dan kembali ke tengah.
Tentu saja, di dalam sebuah game VRMMO, ini adalah pertama kali aku menghadapi sebuah pistol.
Tetapi, di ALO dan SAO, ada banyak monster yang menyerang dari
jarak jauh dengan busur dan panah, racun, dan magic. Ada satu cara untuk
menghindari lintasan tembakan dari serangan-serangan itu dan itu adalah
untuk membaca garis tembakan dari matanya musuh. Mungkin karena
fiksasinya developer Kayaba Akihiko pada detil-detil, sifat dari
monster-monster dalam VRMMO berdasarkan dari sistem cardinal semuanya
diberikan karakteristik untuk mengarahkan pandangan mereka pada poin
yang ditargeti tanpa deviasi apapun.
NPC itu yang mengarahkan pistolnya pada aku pada saat itu mungkin juga tidak dikecualikan dari peraturan ini.
Aku tidak menatap pada apapun kecuali mata si ahli tembak, bahkan
tidak melihat pada garis lintasan persepsi peluru merah atau bahkan pada
mulut hitam senjata api itu. Dari gerakan-gerakan tanpa hidup, yang
berkejang, aku memahami petunjuk dari lintasan peluru di mana
peluru-peluru akan terbang, dan pada saat yang sama, hanya sedikit saja
bergerak ke kiri atau ke kanan, dan mungkin atas atau bawah, dan
menghindari garis persepsi tak bersuara yang ditunjukkan itu sendiri.
Bahkan, saat pelurunya lewat, aku sudah memasuki postur lari sebelum
menjalani lari cepat yang selanjutnya.
Saat aku sudah menghindari dua set dari tiga tembakan beruntun,
nampaknya aku telah melewati tanda sepuluh meter dan sebuah efek suara
pendek bersuara. Tetapi, suara itu hampir tidak mencapai diriku.
Ahli tembak itu melepaskan silinder yang telah menjadi kosong
setelah menembak enam peluru dan pada saat yang sama saat dia
melemparkan peluru yang kosong di belakang punggunggnya, dengan tangan
kirinya, dia sepenuhnya mengisi pistolnya dengan enam peluru. Seluruh
seri dari operasi itu mengambil setengah detik—benar-benar sebuah
tembakan gesit yang curang—untuk dilakukan sebelum sekali lagi diarahkan
kepadaku.
Serangan yang selanjutnya bukanlah tiga tembakan secara cepat
yang jelas sampai sekarang. Lebih dari setengah itu menurut intuisi, aku
menghindari ritem yang tidak biasa dari dua, satu dan lalu tiga peluru
dan bergerak lima meter. Lagi, ada sebuah pawai riuh pendek. Pada saat
yang sama adalah isi ulang si ahli tembak itu yang secepat kilat dalam
setengah detik.
Jarak yang tersisa adalah lima meter dan aku sudah di depan
musuh. Itu mungkin hanya imajinasiku tetapi aku bisa dengan jelas
melihat muka berjenggot itu berubah menjadi sebuah ekspresi yang
mengejek.
Di bawah topi sepuluh galon itu, mata hitam itu bergetar sedikit
dan bergerak ke bawah pada tingkat yang sama dengan dadaku. Memutuskan
bahwa menghindar ke kiri atau kanan adalah tidak mungkin, aku melempar
badanku ke bawah, meluncur pada ubin metal. Aku melewati bawahnya enam
lintasan tembakan yang terlepas seperti sebuah senapan mesin dan mencapai dua dan setengah meter lagi.
Dengan ini, musuh itu tidak mempunyai peluru lagi. Meskipun jika
ada sebuah celah setengah detik untuk mengisi ulang lagi, itu sudah
cukup untuk menyentuh dia.
Sambil bangun, yang aku pikirkan adalah bahwa aku melihat mata si
ahli tembak itu beringis secara lebar. Paling tidak, itulah yang aku
rasakan.
Dengan refleks, aku mengubah tujuan dari lari cepat terakhirku dan loncat dengan semua tenagaku.
Tanpa isi ulang apapun, enam sinar laser dari revolver itu melewati tempat di mana aku baru saja berdiri.
Sambil berteriak 'Apakah barusan hal itu!' dari dalam mulutku,
aku berputar sebuah rotasi penuh dan mendarat di depan si ahli tembak.
Di sini, aku ingin meneriakkan sesuatu yang keren tetapi, sebelum
beberapa kartu rahasia dapat digunakan, seperti sebuah sinar datang
dari mata dia, aku sebaiknya memutuskan pertandingan ini, jadi aku
dengan cepat melompat pada dada musuh yang memakai baju kulit.
Setelah sebuah momen kediaman seperti suara-suara di dalam toko telah menghilang.
"KAMU BENAR-BENAR...!!!"
Bersamaan dengan teriakan meriah itu, si ahli tembak terjatuh ke
lantai pada kakinya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Pada saat yang sama, ada sebuah badai pawai riuh yang tidak teratur.
Sebuah suara keruntuhan bergema, dan menaikkan kepalaku ke sumber
suara itu, tembok bata di belakang si ahli tembak roboh seperti meledak
dari dalam. Tanpa kehilangan waktu apapun untuk terkejut, sebuah hujan
dari semua item-item dengan kasar mengalir keluar dari dalam. Semua itu
meloncat kembali pada kakiku dan dengan sebuah suara yang baik keluar
dari itu, item-item itu menghilang.
Di bawah papan neon, angka-angka digital dari jumlah semua uang
yang terbawa turun angka-angkanya dan sebelum lama, telah menjadi nol
dan pada saat yang sama, air terjun berwarna uang itu juga berhenti.
Sebuah suara yang cukup berisik bergema dari dalam toko dengan game itu
di-reset dan si ahli tembak itu, juga, bangun dan mulai memutar-mutar
pistol dia di sekitar ujung jarinya. Seperti biasa, dia mulai
meneriakkan logat-logat provokatif tetapi setelah penampilan yang curang
secara ekstrim dari 12 tembakan secara cepat sebelumnya, sangat
diragukan jika seseorang yang memutuskan untuk menantang dia akan
muncul.
"...fuu."
Aku mengeluarkan sebuah nafas dan keluar dari area game dari pintu keluar di sisi kiri.
Pada saat itu, dari audiens orang-orang yang telah berkalilipat
pada suatu titik tertentu, sebuah putaran kegemparan muncul. Suara-suara
mengatakan hal-hal seperti 'apakah tadi barusan', 'siapakah orang itu'
berkumpul bersama.
Dari ujung kumpulan orang-orang, perempuan dengan rambut berwarna
air itu, setengah jogging, buru-buru ke diriku dan dengan kedua matanya
tidak sengaja terbuka lebar seperti sebuah kucing, menatap padaku.
Setelah beberapa detik, sebuah suara yang tercampur-aduk dan putus-putus
mengalir keluar dari bibir dia.
"... Kamu, refleks seperti apa yang kamu punya...? Momen terakhir
itu, di depan mataku... Kamu menghindari sinar-sinar laser dari
kejauhan dua meter... Meskipun, pada jarak itu, sudah hampir tidak
kelambatan waktu antara garis prediksi lintasan peluru dengan tembakan
yang sebenarnya..."
"Uh, ummm... itu karena..."
Aku ragu-ragu untuk sebentar memikirkan tentang bagaimana aku harus menjawab dan pada akhirnya, mengatakan.
"Itu karena, game menghindari peluru ini adalah sebuah game untuk memprediksi garis prediksi lintasan peluru kan?"
"Me... Memprediksi garis prediksi!?"
Teriakan mungil perempuan itu berjalan melewati udara di dalam
toko. Semua audiens juga membuka mulut-mulut mereka dan jatuh terdiam.
.................................
Setelah beberapa menit, akhirnya, pada titik saat kumpulan
orang-orang telah pecah menjadi grup-grup kecil, aku memutar leherku ke
sini situ untuk melihat senapan-senapan di dalam etalase-etalase.
"Umm... Meskipun kalibernya lebih kecil dari sebuah pistol mitraliur, kenapa senapan serbu ini lebih besar?"
Aku mencoba pertanyaan simpel itu pada perempuan berhati baik
yang berdiri di sampingku, tetapi tampaknya dia masih belum reda dari
efek-efek tersisa dari syok itu, dan seperti seekor kucing yang telah
melihat sesuatu yang biasanya ia tidak lihat, dia sedang menatap padaku
dengan mata-mata yang tercampur dengan kewaspadaan dan keingintahuan.
"... Kamu bahkan tidak mengetahui sesuatu seperti itu dan kamu
mempunyai sebuah kemampuan menghindar yang tidak terpikirkan... Kamu
bilang kamu transfer kan? Game seperti apa yang kamu mainkan
sebelumnya?"
"Uh, umm... Aku selalu di dalam sebuah game tipe fantasi..."
"Begitu... Ya, sudah kalau begitu. Kalau kamu akan memasuki babak
penyisihan BoB, ada sebuah kesempatan untuk memperlihatkan aku
bagaimana kamu sebenarnya bertarung. Sekarang, apa tadi, alasan senapan
serbu ini memiliki kaliber kecil? Itu mulai dari M16-nya Amerika, dengan
konsep desain perluru berdiameter kecil berkecepatan tinggi yang
berdasarkan pada akurasi dan penekanan pada kekuatan penembusan..."
Pada titik itu, tiba-tiba menutup mulutnya, perempuan itu
cemberut seperti dia merasakan kepahitan dari kata-katanya sendiri.
Tetapi reaksi aneh itu juga hilang dalam sekejap dan dengan langsung,
sebuah senyum yang lebih tenang mengambil tempatnya.
"... Hal seperti itu tidak penting kan? Sekarang, ayo buru-buru dan selesaikan belanjamu."
"I...Iya. Ayo."
Sambil aku dengan ragu-ragu mengangguk, dia memutar pandangan dia
dari aku dan mulai dengan pelan berjalan di depan sebuah etalase.
"Setelah mendapatkan lebih dari 300K, aku pikir kamu bisa membeli
sesuatu yang cukup bagus tetapi... karena itu tergantung pada apa yang
disukai orang itu dan yang dia akan berkomitmen pada sampai akhir, hal
yang pertama adalah untuk mengetahui itu."
"Berkomitmen pada...?"
Aku mengikuti perempuan itu dan melihat-lihat sekitar pada semua senapan-senapan yang berkilau hitam tetapi, tidak ada 'ping'
yang muncul. Itu adalah natural, karena berdasarkan pengetahuanku
tentang senapan-senapan, berakhir pada 'untuk pistol, ada
revolver-revolver dan senjata otomatis'.
Sambil merintih, sebelum aku tahu, kita sudah sampai pada akhir
dari etalase-etalase yang terbaris di dalam toko tanpa celah apapun. Karena telah sampai begini, aku akan meninggalkan pada perempuan itu untuk memutuskan——— adalah apa yang aku pikirkan saat sesuatu yang aneh memasuki area penglihatanku.
Di pojok sebuah etalase yang panjang, sesuatu yang jelas berbeda
dari sebuah senapan, beberapa barang metal, seperti sebuah tabung
terbaris.
Barang-barang itu tiga sentimeter diameternya dan sekitar dua
puluh lima sentimeter panjangnya. Pada satu sisi, sebuah perlengkapan
metal tetap seperti sebuah pengait tali untuk mendaki gunung tergantung,
pada sisi yang lain sedikit lebih tebal dan pada pusatnya, ada sebuah
lubang hitam seperti sebuah bolongan pada colokan listrik.
"Umm... Apa ini?"
Mendengar aku, perempuan itu memberi sebuah tatapan sekilas dan angkat bahu seperti ada sebuah kekakuan pada pundak dia.
"Ah... Itu adalah sebuah 'Kouken'."
"Ko-Kouken?"
"Pedang cahaya, ditulis sebagai 'Kouken'. Nama sebenarnya adalah
«Photon Sword» tetapi semua orang biasa menyebutnya 'Laser Blade' atau
'Light Saber' atau 'Beam Saber'."
"Pe-pedang!? Di dalam dunia ini, ada sebuah pedang?"
Aku bergegas ke etalase itu. Karena dia baru bilang sekarang,
pedang itu benar-benar menyerupai senjata pada sebuah film sains fiksi
tua yang digunakan oleh para ksatria yang melindungi aturan alam
semesta.
"Ada tetapi, dalam semua kepraktisannya, tidak ada orang yang memakainya."
"Ke... Kenapa tidak?"
"Ya, itu karena, jika kamu tidak bergerak sampai jarak dekat,
kamu tidak bisa memukul, dan untuk mencapai sedekat itu, tanpa ragu,
kamu akan menjadi seperti sebuah sarang madu terlebih dahulu..."
Perempuan itu menghentikan kata-katanya di situ dan dengan bibirnya sedikit terbuka, menatap padaku.
Hampir menyengir, aku langsung tersenyum dan merespon.
"Dengan kata lain, tidak apa-apa asal aku bisa mendekat, kan?"
"Te-Tetapi, meskipun kemampuan menghindarmu menakjubkan, melawan sebuah senapan full otomatis... ah."
Saat perempuan itu masih belum selesai berbicara, dengan jariku,
aku menekan pada pedang dengan lapisan warna hitam metalik yang aku
sukai. Aku memilih [BELI] pada pilihan-pilihan di menu yang muncul dan
dengan kecepatan yang hebat, seorang NPC pedagang di toko bergegas
kemari dengan sebuah senyuman, memperlihatkan sebuah objek seperti
sebuah panel metalik. Aku sadar bahwa scanner
dengan permukaan warna hijau itu yang berada di tengah-tengah papan
adalah sama seperti kasir yang ada di game sebelumnya dan menekan
padanya dengan telapak tangan kananku.
Efek suara dari kasir uang itu berbunyi dengan gembira, dan panel
itu menunjukkan sebuah pedang foton hitam muncul dengan sebuah efek
suara *fuun*. Aku mengambilnya, dan pedagang toko itu mengatakan 'terima
kasih untuk pembelian anda~' dan membungkuk sebelum kembali kepada
posisi dia.
"... Ahh, aku membelinya."
Perempuan itu memandangku sekilas dari 45 derajat ke kanan dan mengatakan ini,
"Tentu saja, semua orang mempunyai gaya bertarung pribadinya sendiri."
"Iya. Kalau telah terjual, itu berarti itu pasti bisa digunakan, meskipun jika itu adalah pedang ini."
Aku menjawab sambil aku menggunakan tangan kananku untuk memegang
erat pada senjata berbentuk silinder pendek itu, dan lalu membawanya
tepat di depanku. Aku menggunakan jempolku untuk menekan sebuah tombol,
dan dengan suara rendah *Guun*, sebuah energi pedang biru keunguan
merambat keluar sambil mencapai kepanjangan kira-kira 1 meter, menerangi
seluruh tempat.
"Oohh."
Aku tidak bisa menahan untuk mengatakan itu. Aku telah
menggunakan pedang-pedang dengan ukuran yang berbeda-beda sampai
sekarang, tetapi ini pertama kalinya pedang yang aku sedang gunakan
terbuat dari cahaya murni.
Aku menatap padanya sejenak, dan menemukan bahwa pedang itu
sendiri tidak mempunyai arah apapun karena seluruh bagian melingkarnya
itu persis seperti sebuah silinder yang panjang dan tipis. Aku mencoba
untuk mengayunnya secara horizontal, dan lalu menggunakan sword skill
satu-tangan yang aku kenal di dalam SAO bahkan tanpa bantuan sistem,
bernama 'Vertical Square'.
'*Bu-n*, *buon*, pedang cahaya itu mengeluarkan sebuah suara yang
menarik sambil pedang itu memotong pada udara dalam lintasan-lintasan
yang rumit sebelum akhirnya berhenti. Tentu saja, tanganku tidak
merasakan tahanan apapun karena berat dari pedangnya.
"Heh—"
Perempuan itu bertepuk tangan beberapa kali di sampingku dan menunjukan tampang terkejut.
"Kamu benar-benar terlihat seperti seorang jagoan di sini. Apakah
itu sebuah skill dari sebuah dunia fantasi...? Sepertinya aku tidak
bisa meremehkanmu, huh?
"Tidak, tidak begitu... tetapi ini benar-benar ringan."
"Tentu saja. Senjata ini tidak mempunyai kelebihan lain selain
dari menjadi senter. Baiklah— Kalau kamu ingin menggunakan itu sebagai
senjata utamamu, lebih baik untuk mempunyai sebuah SMG atau sebuah pistol sebagai senjata sampinganmu. Kamu harus mengendalikan musuhmu jika kamu ingin mendekat."
"...Begitu. Itu benar."
"Berapa banyak yang kamu masih punya?"
Aku memanggil jendelanya. 300,000 creditku telah turun menjadi
150,000 credits. Aku mengatakan jumlahnya, dan perempuan itu mengedip
sebelum mengangkat bahu.
"Uhe, jadi sebuah pedang cahaya itu begitu mahal? 150k tersisa...
Kamu harus mempunyai uang untuk membeli peluru-peluru dan
perlengkapan-perlengkapan perlindungan. Kelihatannya kamu hanya bisa
membeli sebuah pistol."
"Aku meninggalkan sisanya kepada kamu kalau begitu."
"Jika kamu ingin ikut serta dalam BoB, lebih baik untuk memiliki
sebuah senjata yang kuat... Jika kamu ingin menahan musuhmu, seharusnya
lebih penting untuk mementingkan akurasi daripada kekuatan... Hmm..."
Perempuan itu batuk kering sambil dia dengan pelan bergerak
menuju ke sebuah lemari dengan setumpuk pistol-pistol di situ. Akhirnya,
dia menunjuk pada salah satu dari pistol-pistol itu dan mengatakan,
"Kamu akan kehabisan uang jika begini, tetapi «FN Five-Seven» ini seharusnya cukup bagus."
Jari tipis dia menunjuk pada sebuah pistol otomatis kecil dengan pegangan bulat yang halus.
"Five...seven?"
"Angka itu bermaksud pada kalibernya. Yaitu 5.7mm, dan sedikit lebih kecil daripada bullet Parabellum
9mm yang normal, tetapi bentuknya mirip dengan peluru sniper, jadi
akurasinya dan kemampuan menusuknya cukup baik. Itu adalah sebuah peluru
unik, jadi peluru itu hanya bisa dibagi dengan senapan serbu «P90» yang
juga dibuat oleh FN, tetapi aku pikir tidak apa-apa karena kamu hanya
memiliki pistol ini..."
"Be-begitu..."
Dengan mendengar sebuah penjelasan yang tak terkendali dari dia,
aku sekali lagi merasa sedikit tertarik pada perempuan dengan rambut
biru muda ini.
GGO adalah sebuah game di mana jenis kelaminnya itu tetap, jadi
dia pasti seharusnya seorang perempuan di kehidupan nyata, tetapi aku
benar-benar tidak bisa mengatakan ras atau umur dia. Apa yang aku bisa
katakan dari perasaan instingku adalah bahwa umur dia seharusnya
kira-kira sama dengan aku.
Karena sedang memainkan MMORPG ini, adalah natural untuk kenal
dengan item-item di dalam game. Seperti saat Asuna dan Lyfa sedang
menyebutkan pedang-pedang dan magic dalam ALO. Hal itu tidak akan
berakhir tanpa berbicara untuk 50 menit.
Tetapi— untuk beberapa alasan, aku merasa bahwa 'senapan' itu dan
hal-hal itu adalah sepenuhnya berbeda. Juga, aku dengar bahwa
kebanyakan dari senapan-senapan yang muncul di dalam GGO adalah
senjata-senjata yang ada di kehidupan nyata. Dan juga, jenis senjata
seperti ini akan dengan mudah membuat seseorang berpikir tentang
pertumpahan darah dan pembunuhan. Perempuan ini yang dari umur yang sama
dengan aku akan benar-benar dive ke dalam dunia seperti itu, dan akan
terus bertarung sampai dia menjadi seorang pemain veteran yang mengerti
semua senapan-senapan. Aku cukup tertarik pada motivasi dia dan tenaga
yang menggerakkan dia untuk memainkan game ini...
"Oi, apakah kamu mendengarkan?"
"Ah, i-iya."
Aku buru-buru membubarkan pikiran-pikiranku dan mengangguk kepalaku.
"Aku akan beli ini kalau begitu. Apakah ada hal lain yang aku perlu beli?"
Aku membeli pistol «Five-Seven» yang dia rekomendasikan, dan juga
membeli tempat-tempat peluru pra-persiapan, sebuah jaket anti-peluru
tebal, sebuah tipe pinggang «Optical Gun Shielding Field»
dan perlengkapan kecil lain. Setelah aku selesai dengan pembelianku,
300,000 credits yang aku dapatkan pada game menghindar itu sudah menguap
menjadi asap.
Aku merasakan berat dari pedang cahaya di pinggang kananku dan
«Five Seven» di pinggang kiriku sambil aku berjalan keluar dari toko,
dan saat aku pergi keluar, aku menemukan bahwa langit matahari terbenam
sedang sedikit demi sedikit memerah.
"Maaf karena telah menundamu untuk sangat lama. Terima kasih banyak."
Aku menundukkan kepalaku dan mengatakan teima kasih. Perempuan
itu tersenyum di bawah syalnya dan menggelengkan kepalanya sebelum
mengatakan,
"Tidak, aku tidak memiliki apa-apa untuk dilakukan sebelum babak penyisihan... Ah."
Poerempuan itu berhenti setengah jalan saat dia berbicara, dan
buru-buru melihat pada pencatat waktu yang besar dan tebal di tangan
kiri dia.
"Sial. Registrasi tutup pada jam 3. Wah, aku mungkin tidak akan sampai ke situ meskipun jika aku lari ke vila Presidensial..."
"Eh, kamu juga akan mendaftar sekarang?"
"Iya."
Telah terpengaruh oleh perempuan ini yang memberi sebuah muka
pucat, aku melihat pada jam digital yang telah aku beli. Waktu di situ
menunjukkan— 14:51.
Aku melihat ke atas dan dengan panik bertanya,
"La-Lalu, tidakkah ada sebuah skill gerakan teleportasi atau
sesuatu seperti itu? Seperti sebuah item transportasi atau mantra atau
suatu kekuatan super atau sesuatu!?"
"Aku akan memberitahumu sambil kita lari!"
Setelah meneriakkan itu, perempuan itu buru-buru berputar balik
dan lari menuju ke bagian utara dari jalan raya. Aku buru-buru mengikuti
syal yang berlayangan itu dan menghabiskan beberapa detik untuk
menyusul dia. Dia memandang padaku dan berkata dengan sebuah suara yang
cemas,
"...Hanya ada satu jenis gerakan instan di GGO. Itu adalah saat
kamu bangkit kembali setelah kamu mati. Area pembangkitan kembali di
Gurokken adalah di vila Presidensial, tetapi HP pasti tidak akan
berkurang di jalan-jalan raya, jadi kita tidak bisa menggunakan teknik
itu..."
Kita berlari lurus menuruni jalan-jalan di mana ada NPC-NPC dan
pemain-pemain, dan perempuan itu melanjutkan menjelaskan kepadaku dari
waktu ke waktu. Juga, aku harus menggunakan seluruh tenagaku hanya untuk
berlari dengan dia. Aku tidak bisa terbiasa dengan garis visual yang
lebih lemah daripada ALO, dan dia sedang berlari dengan sangat cepat.
Kecepatan itu lebih dari gerakan dia yang halus daripada bantuan dari
kemampuan dia, dan aku bisa mengatakan bahwa dia sepenuhnya telah
terbiasa dengan gerakan setelah dia dive.
Perempuan itu melihat lagi pada jam di tangannya dan menunjuk pada sebuah jalan di depan sebelum mengatakan,
"...Vila Presidensial ada di situ. Di ujung utara dari jalan ini,
jadi masih ada 3km. Untuk mengoperasikan mesin registrasi akan
membutuhkan 5 menit, jadi jika kita tidak sampai di situ dalam tiga
menit...!"
Aku melihat pada jalan utama yang terentang, dan menemukan bahwa
ada sebuah menara besar yang memancarkan cahaya merah karena matahari
yang terbenam. Ini adalah sebuah jalan yang lurus, tetapi meskipun jika
kita berlari dalam kecepatan 1km/min sambil menghindari orang-orang,
akan sangat susah di dalam dunia VR meskipun jika kita tidak bisa
terengah-engah.
Jika aku tidak bisa mendaftar tepat waktu, hal itu akan berarti
karena aku tidak melakukan investigasiku dengan benar, tetapi jika
perempuan berambut biru muda di sampingku ini tidak menolongku, dia
melakukan hal ini dengan mudah. Merasa sedikit bersalah, aku memandang
pada dia dan melihat dia mengertakkan giginya. Sisi dari wajah dia
menunjukkan keputusasaan, dan sebuah suara kecil yang datang dengan
suara pernafasan virtual dapat terdengar.
"...Tolong...Tolong, harus sampai..."
—Aku pikir bahwa untuk perempuan ini, babak penyisihan dari
'Bullet of Bullets' yang akan diadakan bukan hanya sekedar permainan,
tetapi sesuatu dengan arti yang besar di belakangnya. Pasti ada sebuah
alasan kenapa dia harus ikut serta dalam turnamen ini...
Setelah aku sadar akan hal ini secara insting, aku buru-buru
melihat sekitar, berharap menemukan suatu cara untuk sampai ke vila
Presidensial yang sangat jauh dalam 3 menit.
Pada saat ini, sebuah papan iklan muncul di depan mataku.
Pada lapangan lebar di kiri, ada tempat parkir yang melebar
setelah beberapa waktu. Ada 3 kendaraan mini yang berwarna merah, kuning
dan biru, dan tepat di dalamnya pada panel atas kiri, ada kata-kata
«Rent-A-Buggy» dalam papan Neon. Tentu saja, aku langsung tahu apa yang
dimaksud dengan itu.
"...Yang itu!"
Aku dengan tergesa-gesa memegang tangan kiri perempuan itu dan
mulai mengubah arah. Perempuan itu mengeluarkan sebuah 'Eh!?' dalam
syok, dan hampir melayang saat aku memegang dia, tetapi kita tetap
bergerak melewati para orang-orang di jalan dan lari menuju parkiran
mobil dengan papan «Rent-A-Buggy!».
Kendaraan-kendaraan yang terbaris di dalam semuanya adalah buggy,
masing-masing memiliki sebuah roda di depan dan 2 roda di belakang. Aku
meninggalkan perempuan itu di dalam buggy merah yang terparkir di depan
aku dan melompat ke kursi depan. Aku menemukan sebuah scanner sidik
jari di bawah panel meteran yang mirip dengan yang aku lihat saat aku
sedang beli-beli, taruh tangan kananku di situ, dan mesinnya langsung
mulai dengan sebuah suara kasir.
Untungnya, bagian depan dari buggy itu sama persis dengan bagian
depan sepeda motor, dan sepenuhnya manual. Aku memegang erat pada
pegangannya dan menancap gas tanpa berkata apapun. Saklar kontak di
dalam mengeluarkan sebuah raungan, dan roda depan dari buggy itu naik ke
atas sebelum meluncur masuk ke jalan seperti sebuah peluru.
"KYAH...!"
Aku mendengar sebuah teriakan lucu di kursi belakang, dan dua lengan kecil terikat pada pinggangku.
"Pegang yang erat!"
Meskipun mungkin sudah terlambat untuk mengatakan itu, aku
meneriakkannya, dan setelah sebuah belokkan ke kanan di mana
roda-rodanya benar-benar menghanguskan permukaan jalannya, aku menancap
gas sampai ke kecepatan maksimum sesaat kita sampai di jalan. Setelah
mengganti gigi beberapa kali, meterannya akhirnya melewati 100km, aku
benar-benar merasa lega bahwa aku tidak menaiki sebuah skuter elektrik
tetapi sebuah sepeda motor tua dengan seleksi gigi manual di dunia
nyata.
Sambil aku melanjutkan menghindari kendaraan-kendaraan beroda 4
dari masa depan yang datang di jalan, aku terus mengganti gigi-gigi, dan
mendengar perempuan itu berteriak ke dalam kuping kananku,
"Ke...Kenapa!? Buggy ini sangat susah untuk dikendarai. Bahkan
tidak ada begitu banyak pemain laki-laki yang bisa mengendarainya dengan
lancar...!"
—Maaf, tetapi aku adalah salah satu dari beberapa pemain-pemain laki-laki itu yang menjadi kekecualian.
Tetapi di dalam situasi seperti itu, tentu saja aku tidak bisa
mengatakan yang sejujurnya, jadi aku hanya bisa menyembunyikannya dengan
samar dan mengatakan,
"Tidak... tidak juga, aku pernah memainkan sebuah game tipe balapan sebelumnya... Woah!"
Bus besar di depan tiba-tiba berubah jalur, dan aku hanya bisa
menggunakan roda-roda belakang untuk melayang sepenuhnya untuk
menghindarinya. Setelah menurunkan gigi, aku sekali lagi menancap gas
sebelum melewatinya. Bahkan, pada masa di mana tahun 2025 akan segera
berakhir, cukup masuk akal bahwa tidak banyak orang memiliki pengalaman
mengendarai sebuah sepeda motor kuno manual. Pada dasarnya, standar
untuk latihan pada institut-institut pelatihan adalah skuter elektrik.
Aku mendapatkan sepeda motorku karena seorang kenalan dari Egil bersedia
untuk memberinya kepadaku secara gratis, itulah kenapa aku bekerja
sangat keras untuk mendapatkan lisensi medium yang memperbolehkan
kendaraan-kendaraan manual. Tetapi, beberapa waktu setelah mengambil
sepeda motor itu yang dibuat dari Thailand, aku sadar bahwa ini
dimaksudkan untuk menyimpan uang si pemilik itu agar dia tidak usah
membuangnya. Itu karena dikatakan bahwa kendaraan-kendaraan dengan mesin
gas tidak akan diperbolehkan lagi dalam beberapa tahun...
—Saat aku sedang memikirkan tentang hal ini, sebuah tawaan
tiba-tiba terdengar dari belakang, dan aku menjadi syok sebagai
akibatnya.
"Ahaha... enak sekali. Sangat menyenangkan!"
Aku menghabiskan banyak waktu hanya untuk tersadar bahwa suara
ini adalah milik dari perempuan bermata kucing itu. Tidak terpikirkan
bahwa seorang perempuan yang sedikit tegang dan kesepian untuk
mengeluarkan tawaan seperti itu.
"Hey, ayo... lebih cepat!"
Setelah mendengar suara perempuan itu, aku memandang pada vila
Presidensial yang besar itu yang sejauh 1km, dan menjawab 'OK!'. Aku
menundukkan kepalaku dan mengganti gigi pada injakan kaki ke maksimum.
Mesinnya mengeluarkan sebuah raungan *KA-A-A-A-A-A-AN*, dan speedometer
menunjukkan kira-kira 200km.
Pada kecepatan ini, hanya akan membutuhkan beberapa detik untuk melewati 1km.
Tetapi sorakan yang dibuat perempuan ini dalam waktu yang pendek ini meninggalkan sebuah kesan yang dalam di dalamku.
Pada tangga yang membimbing ke anak-anak tangga yang lebar dalam vila
Presidensial, aku memarkirkan buggynya secara paralel dan berhenti.
Aku melihat pada jam tanganku, dan masih ada sedikit lebih dari 5 menit sampai jam 3.
"Kita pasti akan sampai! Ke sini!"
Perempuan itu yang melompat dari kursi belakang memegang tangan
kananku dan lanjut berlari. Sisi dari wajahnya kembali lagi ke yang
menunjukkan sebuah ekspresi yang tajam seperti sebuah mata pedang yang
tajam— tidak, seperti sebuah senapan mesin berkekuatan tinggi.
Setelah mendaki untuk kira-kira 20 anak tangga, sebuah menara
yang besarnya luar biasa berdiri di depanku. Menara itu memiliki sebuah
plaza yang panjang dan sempit yang kelihatan sederhana pada kedua sisi,
dan aku bisa melihat sebuah piringan bulat yang terlihat seperti sebuah
antena atau pelat radar.
"Inilah Vila Presidensial, biasanya dipanggil jembatan. Tempat di
mana kamu memulai game ini dari adalah «Memorial Hall», dan itu ada di
sisi lain."
Perempuan itu menarik tanganku sambil mengatakan itu.
"Jembatan? Jembatan penyeberangan...?"
Aku bertanya, dan perempuan itu memiringkan kepalanya sedikit dan menjawab,
"Bukan sebuah jembatan penyebarangan, tetapi sebuah 'jembatan
navigasi', aku pikir? Gurokken adalah pos komando dari sebuah kapal luar
angkasa, jadi itu memiliki nama seperti itu."
"Kapal luar angkasa...Ahh, jadi itu kenapa kota ini panjang."
"Iya. Nama aslinya adalah «Space Battle Cruiser» atau «SBC» untuk
pendeknya. Pendaftaran untuk partisipasi atau hal-hal lain yang terkait
dengan game diadakan di sini."
Sambil dia menjelaskan sampai ke sini, kita kebetulan melewati sebuah menara besar, pintu masuk lantai pertama dari jembatan.
Di dalam itu ada sebuah ruangan bulat yang cukup luas.
Tiang-tiang bulat yang terbaris dalam sebuah bentuk silang
memanjang hingga ke atap, dan agak terlihat futuristik. Pada tembok yang
mengitari, ada layar-layar tipis besar yang ada di sekitar, menunjukkan
iklan-iklan tentang berbagai jenis aktivitas dan perusahaan-perusahaan
nyata sambil mereka menghujankan warna-warna utama. Tentu saja, yang
paling terang dari itu semua adalah video promosional dari «Bullet of
Bullets ke-3».
Tetapi sekarang, aku tidak memiliki waktu untuk menikmati ini
sambil perempuan itu menarik aku dan terus berjalan ke sebuah pojokan
yang terletak di kanan dalam.
Ada beberapa mesin panjang di samping tembok, dan mereka semua
terlihat seperti ATM di sebuah toko serba ada atau platform multimedia.
Perempuan itu membawaku ke depan sebuah mesin dan dengan cepat mengatakan,
"Daftarlah di sini. Ini sama seperti sebuah layar sentuh normal. Apakah kamu tahu cara memakainya?"
"Haa, aku akan mencobanya."
"OK, aku akan mendaftar di situ. Jika ada sesuatu yang kamu tidak paham, tanya aku."
Setelah mengatakan itu, perempuan itu berjalan maju menuju sebuah mesin sekitar yang terpisah oleh sebuah papan.
Layar utama menunjukkan kata-kata «SBC Gurokken Presidential
Villa», dan yang mengejutkan adalah bahwa semua kata-kata di dalam telah
dikonversi menjadi Jepang. Sebelum dive, aku mengecek melalui website
yang resmi dari GGO di dunia nyata melaui internet, dan benar-benar
terepotkan dengan kata-katanya yang semuanya dalam Bahasa Inggris.
Tetapi, tampak bahwa game itu sendiri telah dilokalisasi sedikit ke
suatu tingkat.
Aku menggunakan ujung-ujung jariku untuk menggulir menu ke bawah,
dan langsung menemukan tombol untuk mendaftar ke Bullet of Bullets
ke-3. Tentu saja, aku langsung memencet tombol itu, dan layar itu
langsung memunculkan sebuah formulir di mana aku harus memasukkan
namaku, pekerjaanku dan berbagai jenis keterangan-keterangan. Masih ada
180 detik lagi.
Karena ini adalah sebuah game, paling tidak nama karakter akan
secara otomatis terketik, dan juga, apa pekerjaanku dan lain-lain... Aku
terus menggerutu sambil aku melihat pada formulir itu, tetapi aku
langsung menemukan bagian kosong yang paling mengejutkan.
Di situ tertulis 'Dalam kotak di samping, tolong masukkan nama
asli kamu beserta alamatnya. Tentu saja, kamu bisa ikut serta dalam
akitivitas ini dengan meninggalkan kotak ini kosong atau dengan
memasukkan sebuah alamat palsu, tetapi kamu tidak akan bisa mendapatkan
beberapa hadiah-hadiah teratas."
Hal ini menyebabkan jari-jariku tiba-tiba berhenti. Tujuan
utamaku adalah untuk memperlihatkan diriku sebanyak mungkin di dalam
turnamen dan membiarkan diriku menjadi target «Death Gun», istilah
«hadiah» menyebabkan jiwaku sebagai seorang gamer MMO untuk ragu-ragu.
Itu karena hadiah-hadiah pada saat ini adalah perlengkapan langka yang
biasanya tidak bisa didapatkan dalam game.
Sambil jariku tertarik pada panel nama itu dan bersiap untuk
mengetik 'K' untuk 'Kirigaya' pada keyboard hologram, aku akhirnya
memaksa diri untuk tidak melakukan hal itu.
Aku tidak datang ke sini untuk bermain. Prioritasku adalah untuk
bertemu dengan pemain misterius ini «Death Gun» dan menentukan apakah
kemampuannya itu adalah asli atau palsu. Jika «Death Gun» benar-benar
memiliki sebuah kemampuan seperti itu, tidaklah bijak untuk
memperlihatkan keterangan-keterangan asliku di dalam game ini. Aku tidak
bisa menolak kemungkinan bahwa «Death Gun» adalah seseorang di dalam
perusahaan pengoperasian, dan bahwa ada kemungkinan bahwa dia bisa
membaca seluruh catatan log in seluruh pemain.
Aku akhirnya mengesampingkan godaan untuk hadiah langka itu, dan
hati yang berdarah di dalamku meninggalkan semuanya kosong sebelum
memencet tombol kirim di bagian paling bawah.
Layarnya berubah lagi, dan sebuah teks paragraf memperlihatkan
bahwa aku telah teregistrasi dengan sukses, dan lalu menunjukkan waktu
untuk ronde pertama dari babak penyisihan. Tanpa diduga, hari itu adalah
hari ini— 30 menit dari sekarang.
"Apakah kamu sudah selesai?"
Perempuan dengan rambut biru laut itu tiba-tiba bertanya dari
sampingku. Kelihatannya dia sudah menyelesaikan registrasi dia dengan
sukses. Dengan itu, aku menenangkan diri dan menganggukan kepalaku.
"Iya, akhirnya selesai. Terima kasih banyak...dan...maaf karena telah merepotkanmu sangat banyak."
Setelah mendengar permintaan maafku, perempuan itu tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku cukup bahagia dalam perjalanan dengan buggy itu barusan. Ngomong-ngomong, ada di grup apa kamu?"
"Umm..."
Aku sekali lagi melihat kembali pada layarnya dan menjawab,
"Aku di Grup F, nomor 37."
"Ah...begitu. Kita mendaftar pada waktu yang sama, jadi aku juga
di dalam grup F. Aku juga nomor 12... baguslah, meskipun jika kita
bertemu di final."
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Jika kita bisa masuk ke final dari babak penyisihan, kita bisa
masuk ke dalam battle royale di final baik jika kita kalah maupun
menang. Mungkin sekali kita berdua bisa mendapat hak untuk ikut serta di
dalam battle royale. Tetapi, jika kita benar-benar bertemu di final
dari babak penyisihan..."
Mata-mata seperti kucing dia itu bersinar, dan lalu dia mengatakan,
"Aku tidak akan menahan diri."
"Ahh... begitu. Jika kita bertemu, aku pasti akan melakukan yang terbaik."
Aku tersenyum dan menjawab sebelum mengganti layarnya kembali ke layar utama. Lalu, aku menanyakan sebuah pertanyaan,
"Ngomong-ngomong, ini adalah sebuah game luar negeri, tetapi
mesin-mesin di sini semuanya sudah dilokalisasi ke Jepang. Tetapi
website resminya dalam bahasa Inggris..."
"Ahh... Perusahaan pengoperasian, «Zasker», adalah sebuah
perusahaan Amerika, tetapi kelihatannya ada beberapa orang Jepang di
tengah-tengah orang yang bekerja pada Server Jepang. Tetapi... kamu
harus tahu bahwa baik itu Jepang ataupun Amerika, GGO ada di area
abu-abu saat terkait dengan hukum."
"Itu karena dari «Money Trading System»."
Setelah mendengar responsku, perempuan itu memberi sebuah senyuman yang sedikit masam sambil dia menganggukkan kepala dia.
"Betul sekali. Pada suatu pandangan tertentu, ini adalah sebuah
kasino yang dijalankan secara privat. Dengan itu, website resmi hanya
akan memberi informasi yang paling dasar dan tidak akan memperlihatkan
di mana perusahaan pengoperasiannya berada. Juga, hal-hal seperti
manajemen karakter-karakter, konversi uang ke akun bank elektronik dan
semua hal-hal yang berhubungan dengan game hanya bisa dilakukan di dalam
game."
"Aku hanya bisa mengatakan... Game ini benar-benar melakukan hal-hal secara berlebihan."
"Karena itu tempat ini bisa dikatakan juga sebagai sebuah dunia
yang sepenuhnya berbeda dengan dunia nyata...tetapi karena hal ini, aku
merasa bahwa aku yang sekarang dengan aku yang di kenyataan adalah dua
orang yang benar-benar berbeda..."
Aku merasa bahwa ada sebuah bayangan di dalam mata perempuan itu, dan aku mengedipkan mata untuk beberapa saat, merasa bingung.
"...?"
"I-itu bukan apa-apa, maaf. Kita sebaiknya pergi ke arena babak
penyisihan kita— tempat itu tepat di bawah tempat ini. Apakah kamu
siap?"
"Ehh."
Aku menganggukkan kepalaku, dan perempuan itu sekali lagi
memegang tanganku dan mengatakan 'di sini' sebelum berjalan masuk ke
dalam lantai pertama dari ruangan vila Presidensial ini. Ada beberapa
elevator di tembok, dan jari-jari tipis perempuan itu menekan pada
tombol ke bawah di samping pintu elevator di paling kanan.
Pintunya langsung terbuka, dan perempuan itu masuk sebelum
menekan pada tombol «B20F». Kelihatannya ada banyak ruang untuk bergerak
ke atas dan bawah. Badanku benar-benar merasa seperti sedang turun dan
melambat, dan pintu terbuka.
Saat aku melihat kegelapan di luar pintu— Nafasku langsung hilang.
Tempat itu adalah sebuah setengah kubah yang seluas ruangan
lantai pertama. Hanya ada sangat kecil cahaya di dalam, hanya beberapa
lampu tembok terpasang dalam bingkai-bingkai metal memancarkan cahaya
redup.
Lantai atau pilar-pilar memancarkan baik kilapan hitam dari
lantai metal atau warna teh hijau dari kabel-kabel yang bertautan.
Tembok dari kubah besar itu memiliki beberapa meja sederhana, dan
atapnya memiliki banyak panel hologram besar. Tetapi sekarang, apa yang
aku lihat hanya menunjukkan kegelapan total. Hanya ada kata-kata dalam
merah tua 'Babak Penyisihan BoB 3' dan sebuah timer hitung mundur yang
sisanya kira-kira 28 menit.
Tetapi, yang membuatku gelisah bukanlah pemandangan-pemandangan ini ataupun BGM lagu metal yang bermain.
Lebih tepatnya, aku agak tidak nyaman dengan bayangan-bayangan
hitam yang berkumpul di meja-meja dekat tembok atau yang sedang berada
tepat di samping pilar metal— keberadaan yang mereka pancarkan.
Kita berada di sebuah game, tetapi tidak satu orangpun yang sibuk
berteriak-teriak. Mereka sedang berbisik-bisik dengan sesama atau
berdiri sendiri di sekitar. Aku bisa mengatakan bahwa mereka adalah
partisipan dari babak penyisihan BoB yang akan segera dimulai, dan aku
tahu bahwa mereka semua sudah sepenuhnya terbiasa dengan dunia virtual
ini. Mereka adalah pemain-pemain VRMMO yang benar-benar veteran.
—Tidak, sesuai dengan total waktu aku telah dive, aku tidak
merasa ada orang di sini yang sudah telah dive lebih lama daripada aku.
Aku telah log in sepanjang waktu dalam dua tahun itu, baik 2 tahun yang
lalu maupun tahun lalu.
Tetapi, masing-masing pemain memiliki «Play Style» mereka sendiri. Seperti aku, aku spesialisasi di PvE,
dan ada pemain-pemain yang benar-benar kebalikan daripada aku. Mereka
adalah orang-orang yang sangat bergairah tentang PvP. Dari pandangan
tajam yang mereka beri dari helm-helm mereka yang tidak memiliki rasa
keberatan apapun dari sebuah helm besi berat, aku tahu bahwa orang-orang
ini mati-matian mencoba untuk mendapatkan informasi tentang ini.
Aku tidak banyak bertarung dengan pemain-pemain, sejak ALO
berpindah ke perusahaan pengoperasiannya pada musim semi tahun ini.
Dalam waktu sela yang jauh terlalu panjang itu, aku pasti telah
kehilangan sentuhan dalam PvP, dan bagaimana lirikan-lirikan yang
diberikan oleh orang-orang ini terasa sangat memberati adalah bukti dari
itu.
—Orang-orang ini, tugas ini lama kelamaan mulai bertambah sulit, Kikuoka-san.
Tanpa disadari membisikkan hal ini jauh di dalam hatiku, siku
kananku tiba-tiba didorong. Setelah melihat ke samping, aku menemukan
seorang perempuan dengan rambut biru muda sedang memberi sebuah tampang
terkejut.
"...Ada sesuatu?"
"Bu, bukan apa-apa..."
Setelah aku buru-buru menjawab dengan lembut, perempuan itu menganggukkan kepalanya sedikit dan balas membisik,
"Ayo kita ke toilet dulu. Lagipula kamu juga harus mengganti bajumu ke baju perang yang kamu barusan beli."
Dan lalu, dia mulai bergerak sekitar para pemain. Kaki dia sedang
bergerak secara biasa, dan aku tidak merasakan ketegangan apapun dari
dia. Tetapi, ini bukan karena orang-orang di sekitar kita mengabaikan
keberadaan kita. Lirikan-lirikan yang diberi oleh grup orang-orang ini
kepada dia ada sangat banyak hasrat perang sampai tidak bisa
dibandingkan dengan lirikan-lirikan mereka saat mereka melirik padaku.
Bahkan seorang laki-laki yang menaruh sebuah senapan mesin yang besarnya
menakutkan dengan sengaja mengosongkan barelnya dengan keras.
Tanpa diduga, perempuan ini memiliki keberanian yang hebat dan
bisa mengabaikan tekanan yang sangat dahsyat. Aku merasa lebih terkejut
lagi sambil aku mengejar syal kuning kotor itu.
Tidak ada meja-meja jauh di dalam kubah, tetapi malah, beberapa
pintu metal yang sedingin es berbaris di situ. Perempuan itu membuka
sebuah pintu dengan sebuah lampu hijau, memimpin aku masuk, menutup
pintu di belakangku, dan menekan pada panel operasi dari dalam pintu
itu. Dengan sebuah suara klik, indikatornya berubah menjadi merah.
Ada sebuah ruangan ganti baju yang sedikit sempit di dalam pintu. Tentu saja, tidak orang lain selain dari kita.
"...Fuu."
Setelah tiba pada pusat dari ruangan itu, perempuan itu mengeluarkan nafas sedikit dan lalu tampak sedang menggerutu.
"Benar-benar... sekumpulan orang-orang yang naif..."
"Ap...orang-orang na-naif? Apakah sedang membicarakan tentang orang-orang itu dengan hasrat membunuh yang dahsyat?"
Aku mengingat muka-muka orang-orang itu yang sedang merengut di
dalam kubah, dan perempuan ini nampaknya menangani hal itu sebagai suatu
fakta sambil dia menganggukkan kepalanya dan mengatakan,
"Iya betul. Mengeluarkan senjata utama mereka untuk menyombongkan
diri 30 menit sebelum turnamen itu sudah sama seperti meminta orang
lain untuk memikirkan cara-cara untuk menangani mereka."
"Ah...ahh..jadi begitu..."
"Kamu sebaiknya memakai light saber kamu dan Five-Seven hanya sebelum turnamen dimulai."
Perempuan itu tersenyum sambil mengatakan hal ini, dan setelah melihat aku menganggukkan kepalaku sedikit, dia berbalik.
Lalu, dia melakukan sesuatu yang lebih menakutkan daripada kata-kata yang dia telah katakan barusan.
Dia melambaikan tangan kanannya dan memanggil menu utama, dan langsung meng-klik padanya untuk melepaskan seluruh perlengkapan.
Syal kuning kotor itu, jaket berwarna kari itu, celana kargo yang kendor
dan T-shirt yang tidak berpola itu semuanya hilang secara sistematik.
Sekarang ini, perempuan itu hanya mengenakan baju dalam yang menutupi
sebuah area kecil dan serat-seratnya menunjukkan kilapan kecil.
"U...uwaa!?"
Aku mengeluarkan suara yang serak dan dengan penuh ketakutan
menggunakan tangan kananku untuk menutupi wajahku. Lalu, melalui
celah-celah, aku melihat muka perempuan itu yang tak dapat dijelaskan.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat ganti baju."
"O-ok, erm, itu..."
Bahkan saat menghadapi kejutan yang paling besar sejak aku dive
ke dalam GGO, aku terus dengan mati-matian memikirkan cara-cara untuk
menangani hal ini.
Dalam situasi ini, tidak ada banyak pilihan yang aku punya. Aku
bisa mencari sebuah alasan untuk keluar dari ruangan ini, atau aku bisa
lanjut dan berpura-pura sebagai seorang perempuan dan mengenakan
perlengkapanku di atas pakaianku. Tetapi, kedua metode itu akan menipu
perempuan ini yang telah menolong aku banyak.
Dalam situasi gawat ini, aku hanya bisa mengertakkan gigiku dan
membuat sebuah opsi ketiga sebelum perempuan ini melakukan tragedi
paling mengerikan dengan melepaskan semua pakaiannya.
Aku menurunkan kepalaku secepat mungkin dan membiarkan kartu
namaku termaterialisasi dari menu utama sebelum menyerahkannya kepada
perempuan ini dengan kedua tanganku.
"Er, erm... Permisi! Aku belum memperkenalkan diriku sampai sekarang... Ini adalah siapa, bukan, apa diriku!"
"Eh? Ap...Apa?"
Aku merasakan kartu nama itu meninggalkan tanganku dengan sebuah suara yang membingungkan.
"Kiri...to. Fuun, itu adalah nama yang menarik.........tunggu......."
Aku, Kirito, tidak pernah mengikuti guild apapun, bukan,
«squadron» di dunia ini, jadi pada kartu namaku, hanya ada nama— dan
jenis kelamin.
"Laki-laki..... Erm, eh......!? Tetapi, kamu, begitu........"
Suara yang tercengang itu datang, dan pada bagian teratas dari
penglihatanku, dengan kepalaku turun lurus ke bawah, aku bisa melihat
sebuah kaki telanjang yang mungil dan kecil mengambil sebuah langkah ke
belakang.
"Ini tidak mungkin.......se-seorang laki-laki......!? Dengan avatar seperti ini ........!?"
Dan lalu, ada sebuah keheningan.
Aku tidak tahan pada ketegangan dari atmosfir yang mengepung ruang ganti ini dan bersiap untuk mengangkat kepalaku.
Pada saat ini, sebuah objek putih dengan cepat terbang ke sini,
dan setelah meledak pada sisi kiri dari mukaku, ada sebuah efek cahaya
ungu.
Aku terus berputar seperti sebuah gasing karena impaknya,
tersadar bahwa itu adalah telapak tangan dari perempuan itu setelah
terjatuh pingsan di lantai dengan bintang-bintang.
"Jangan ikuti aku."
"Ta-tapi aku tidak tahu harus melakukan apa setelah itu..."
"Jangan ikuti aku."
"Ta-tapi aku tidak mengenal orang lain..."
"Jangan ikuti aku."
Sambil kita menjaga volume dari percakapan kita rendah, aku terus
dengan mati-matian mengejar perempuan berambut biru muda itu di
depanku.
Sekarang ini, dia sedang mengenakan sebuah jaket militer berwarna
gurun pasir, armor anti-peluru yang mempunyai warna yang sama dan
sepatu bot perang. Satu-satunya hal yang sama dengan pakaian jalanannya
adalah syal yang ada di leher dia. Seperti saran yang dia telah katakan
kepadaku, dia tidak mematerialisasi senjata dia.
Pakaianku kurang lebih sama dengan milik dia, tetapi milikku
adalah baju hitam yang lebih cocok untuk kamuflase malam. Kali ini, aku
ingin menyerah pada pilihanku dan memilih sebuah warna yang lebih
bersemangat, tetapi tempat peperangannya ditentukan secara acak, dan
perempuan di sampingku mencatat bahwa sisa uangku tidak memperbolehkan
aku untuk membeli pakaian berwarna untuk semua medan, jadi aku berakhir
dengan memilih warna yang aku paling suka.
Dan orang yang memberi saran itu hanya sejauh 1 meter dari aku terus melanjutkan berjalan tanpa melihat ke belakang.
Tentu saja, aku bisa mengerti kenapa dia sangat marah, tetapi aku
tidak berbohong dengan mengatakan 'Aku seorang perempuan' atau bicara
dalam nada perempuan. Itu adalah kesalahanku karena telah
menyalahgunakan kesalahan dia, tetapi jika dia memang mengatakan
kepadaku kapan kita akan ganti baju, aku pasti akan merespon kepada
dia...
Aku tidak bisa menahan untuk menggerutu di dalam hatiku saat aku
dengan sengaja mengikuti dia dari belakang. Tetapi, perempuan itu
tiba-tiba berhenti. Pada titik ini, kita sudah telah berjalan-jalan
setengah dari kubah ini.
Perempuan itu berbalik untuk menghadap padaku, yang juga berhenti.
Mata biru dia sedang marah kepadaku. Ekspresi dingin dia lebih
mirip dengan seekor macan tutul dari pada seekor kucing sekarang. Aku
pikir bahwa dia akan meraung dan mengecil sambil bibir kecil dia
bernafas dengan besar, tetapi dia hanya menghela nafas dengan cepat.
Dia duduk dengan keras pada sebuah kursi kotak di sisi dan lalu
memutar wajah dia ke arah lain. Aku dengan gugup duduk berlawanan dengan
dia.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat pada panel layar hologram
full, dan menemukan bahwa ada kurang dari 10 menit sampai mulainya babak
penyisihan. Aku tidak tahu harus melakukan apa-apa setelah itu, apakah
aku harus berjalan ke mana saat babak penyisihan dimulai atau bahwa aku
masih perlu untuk mengikuti beberapa langkah-langkah tertentu. Aku
bahkan tidak tahu di mana untuk mendapatkan informasi ini.
Aku hanya bisa dengan penuh rasa takut memundurkan diriku ke
belakang sambil badanku terus bergerak secara gugup secara tidak nyaman.
Pada saat ini, perempuan itu memandang padaku dan bernafas dengan
keras.
"...Aku akan menjelaskan dasar-dasarnya paling tidak. Kita adalah musuh setelah itu."
Setelah mendengar dia mengatakan hal itu dengan suara yang dalam, aku tidak bisa menahan untuk tersenyum.
"Ter-Terima kasih."
"Jangan salah paham. Aku belum memaafkan kamu. Saat waktu mundur
di atas itu berakhir— semua partisipan di sini dalam gedung ini akan
secara otomatis di transfer ke arena ronde pertama di mana hanya ada
kamu dan musuhmu."
"Fu, jadi begitu."
"Lapangan arenanya adalah seluas 1km persegi. Pemandangan, ikilm
dan waktu semuanya itu akan dipilih secara acak. Pada awalnya, kedua
pemain akan paling tidak terpisah sejauh 500 meter dari sesama, dan
pemenang dari pertarungan itu akan di transfer ke area menunggu sambil
para orang yang kalah di transfer ke ruangan di lantai pertama. Orang
yang kalah tidak akan kehilangan senjata atau menjatuhkan suatu item
secara acak, dan jika kamu menang, kamu akan langsung ditransfer untuk
memulai ronder kedua jika pertarungan musuh di ronder selanjutnya sudah
usai. Jika musuhnya masih bertarung, kamu harus menunggu sampai
pertarungannya berakhir. Grup F memiliki 64 orang, jadi jika kamu
memenangkan 5 pertarungan, kamu bisa memasuki ronde final dan juga
mendapatkan hak untuk memasuki final dari turnamen ini. Itu saja untuk
penjelasanku— Aku tidak akan menjawab pertanyaan apapun lagi."
Dia terdengar dingin, tetapi setelah penjelasan dia yang
mendetail, aku kurang lebih mengerti ada apa dengan babak penyisihan.
Aku sekali lagi berterimakasih pada perempuan itu.
"Aku pikir aku sudah mengerti intinya. Terima kasih."
Dan lalu, dia sekali lagi memandang padaku sebelum dia langsung
mengganti pandangannya. Perempuan itu lalu membuka mulutnya dan
mengatakan dengan lembut,
"—Kamu harus sampai di final. Karena aku telah mengajarkan sangat
banyak kepadamu, aku berharap untuk mengajarkan kepadamu satu hal
terakhir."
"Hal terakhir?"
"Aku akan membuatmu merasakan peluru yang akan menyebabkan kekalahanmu."
Setelah mendengar kata-kata seperti itu, aku tidak bisa menahan
untuk tersenyum. Ini bukanlah sebuah senyuman yang sarkastik atau yang
terpaksa, tetapi yang datang dalam dari dalam diriku. Aku benar-benar
suka dengan orang-orang dengan kepribadian seperti dia.
"...Aku akan menantikan saat itu. Tetapi apakah kamu yakin kamu bisa mencapai ke final?"
Perempuan itu mendengus dengan dingin dan bernafas,
"Jika aku kalah dalam babak penyisihan, aku akan keluar untuk kebaikan diriku sendiri. Kali ini, aku harus pasti—"
Hal itu terasa seperti dia sedang menatap pada semua musuh-musuh sambil dia mengeluarkan sebuah terang berwarna kaca.
"—Harus bunuh semua musuh yang kuat."
Kata-kata ini dikatakan dengan suara yang kecil, tetapi arus
suara yang kecil itu masuk ke kupingku. Bibir perempuan itu menyengir
sambil dia menunjukkan sebuah senyuman seperti binatang. Punggungku
mulai merasakan kedinginan yang aku sudah tidak pernah rasakan untuk
sangat lama.
Tidak heran bahwa perempuan ini tidak akan menyadari tekanan yang diberikan oleh orang-orang lain itu.
Itu karena dia sangat lebih kuat daripada orang-orang itu. Tidak
memedulikan baik kemampuan sebagai seorang pemain VRMMO— atau kekuatan
mental yang menyokongi dia.
Perempuan itu memandang kepadaku yang telah menahan nafasku dan
tetap berdiam diri. Senyuman di wajah dia menghilang. Dia tampaknya
sedang memikirkan tentang sesuatu sambil dia menghentikan pandangannya.
Lalu, dia menggunakan tangan kanannya untuk memunculkan jendela menu.
Setelah beberapa operasi yang simpel, sebuah kartu kecil muncul di
ujung-ujung jarinya.
Perempuan itu lalu membiarkan kartunya meluncur melewati meja, yang aku tangkap. Dia mengatakan,
"Ini sebaiknya menjadi terakhir kalinya kita berbicara seperti
ini, jadi aku sebaiknya memberitahukan namaku. Itulah nama dari orang
yang akan mengalahkan kamu—"
Dengan diam aku melihat pada kartu itu. Kata yang terindikasi
pada kartu itu adalah— «Sinon», dan jenis kelaminnya sudah pasti
perempuan.
"Sinon..."
Aku gumamkan. Perempuan itu menggerakkan rambut biru aquanya dan mengangguk sedikit. Aku lagi memberitahukan namaku.
"Aku adalah Kirito. Senang bertemu denganmu."
Secara tidak sadar aku mengulurkan tanganku di atas meja, tetapi
tentu saja, perempuan bernama Sinon itu tidak menghiraukan apa yang aku
lakukan dan langsung memutar muka dia. Aku hanya bisa memberi sebuah
cengiran dan menarik tanganku kembali.
Setelah itu, Sinon tetap menjaga kediamannya, dan tidak tampak bahwa dia ingin melanjutkan pembicaraan.
Aku melihat pada layar besar di dalam kubah dan mengetahui bahwa
ada sekitar 5 menit lagi. Pada saat ini, aku mulai ragu tentang apakah
lebih baik aku memeluk kakiku dan menunggu di atas kursi atau mencoba
lagi untuk berbicara dengan dia. Tetapi, tepat pada saat aku akan
membuat pilihanku, aku bisa mendengar suara tapak kaki berjalan menuju
Sinon.
Aku mengangkat wajahku dan melihat bahwa ada seorang pemain yang
tinggi dan besar dengan rambur silver yang panjang pada dahi dia sedang
berjalan lurus ke meja ini.
Dia sedang memakai sebuah kamuflase sederhana berpola abu-abu
yang sedikit lebih terang daripada warna arang, dan ada sebuah senapan
mesin yang agak besar yang tergantung pada pundaknya— mungkin bukan
sebuah senapan submesin atau sebuah senapan serbu, dan dia memiliki
wajah yang terlihat cerdas yang pas dengan badannya yang tinggi dan
kurus. Karena dia tidak terlihat seperti dia memiliki banyak armor pada
dirinya, hal itu memberi aku perasaan bahwa dia mampu untuk bergerak
dengan lincah dalam medan perang. Dia terlihat lebih seperti seorang
anggota special ops daripada seorang tentara yang banyak berpengalaman.
Lelaki itu tidak melihat padaku sambil aku sedang duduk di pojok
sementara dia tersenyum pada Sinon. Dengan segera, apa yang terlihat
seperti sebuah avatar yang berkemampuan tinggi menunjukkan sebuah
kelembutan seorang lelaki, yang membuat aku berkedip.
"Yaa, kenapa kamu sangat lambat, Sinon? Aku kuatir tentang apakah kamu terlambat."
Saat mendengar nada orang itu yang bersuara seperti dia sedang
mencoba untuk berlagak sebagai seorang kenalan, aku pikir bahwa Sinon
pasti akan memberi orang itu sebuah tatapan kematian dan meringis
kembali. Tetapi tanpa diduga, suasana dingin di sekitar perempuan itu
langsung mereda, dan dia bahkan menunjukkan sedikit senyuman.
"Hello, Spiegel. Tadi ada beberapa kecelakaan, jadi aku
terlambat. Eh, tapi...tidakkah kamu berintensi untuk menunjukkan
dirimu?"
Laki-laki itu yang dipanggil Spiegel menyeringai dengan canggung
sambil dia menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh tangannya.
"Sebenarnya, aku tidak tahu apakah kamu akan terepotkan atau
tidak, tetapi aku datang untuk mendukung kamu, Sinon. Lagipula, aku bisa
menonton siarang langsungnya pada layar besar itu."
Tampaknya mereka berdua adalah teman atau anggota dari sebuah
guild yang sama. Sinon menggerakkan badannya ke samping, dan Spiegel
dengan biasa duduk di samping dia.
"Ngomong-ngomong, kecelakaan apa itu yang kamu sebutkan?"
"Ahh...tidak banyak, hanya saja aku membawa seseorang ke sini dan lainnya..."
Setelah Spiegel bertanya, Sinon langsung menatap padaku dengan
sebuah ekspresi yang dingin. Aku dengan terpaksa memanjangkan leherku
yang kuturunkan kembali, dan laki-laki itu yang hanya baru sadar akan
keberadaanku sekarang menganggukkan kepala dia.
"Hello, akulah seseorang itu..."
"Ah...he-hello. Senang bertemu dengan anda. Jadi...apakah kamu temannya Sinon?"
Dia tidak tampak seperti seseorang yang boleh disepelekan, tetapi
pria ini yang dipanggil Spiegel tidak tampak cocok dengan penampilannya
yang galak dari luar karena dia cukup sopan. Atau malah— Apakah dia sedang memperlakukan aku seperti seorang perempuan?
Aku mencoba untuk berpikir dengan kata-kata pilihanku sambil aku
memikirkan tentang cara untuk menjawab ini dalam sebuah cara yang lebih
berhumor, tetapi Sinon langsung menyambar,
"Jangan tertipu. Dia seorang laki-laki."
"Eh!?"
Aku hanya bisa menggunakan nada biasaku untuk mengatakan namaku pada Spiegel, yang melebarkan matanya.
"Ah— Aku dipanggil Kirito. Aku seorang laki-laki tentunya."
"Se-seorang laki... Eh, itu berarti, erm..."
Spiegel memberikan sebuah ekspresi yang agak terganggu sambil dia
melihat bolak-balik dari aku ke Sinon. Tampaknya dia tidak memahami
kenapa Sinon akan pergi keluar dengan seorang pemain laki-laki.
Memikirkan bahwa inilah masalahnya, aku merasa ingin menyindir
mereka, jadi aku mencoba untuk menambahkan bensin pada api sambil aku
mengatakan,
"Sebenarnya, aku cukup dirawat dengan baik oleh Sinon, loh."
Pada saat ini, Sinon langsung menembakkan sebuah tatapan yang seperti sebuah petir biru padaku dan mengatakan dengan galak,
"Oi... Jangan katakan itu. Aku tidak pernah merawat kamu sama
sekali. Ngomong-ngomong, kapan aku memperbolehkan kamu memanggilku
Sinon...?"
"Kenapa kamu mengatakan hal-hal itu tanpa ampun?"
"Ada apa dengan ampun di sini? Kamu hanya seseorang yang asing!"
"Eh— Tetapi tidakkah kamu menolongku mengkoordinasi perlengkapanku?"
"Itu...Itu karena, kamu..."
Pas saat kami baru sampai pada titik itu...
BGM yang kecil di dalam kubah secara perlahan menghilang, dan apa
yang bunyi selanjutnya adalah sebuah pawai dari sebuah gitar elektrik.
Setelah itu, sebuah suara manis tersintesis yang dibunyikan pada volume
yang keras terbunyikan di atas beberapa ratus kepala orang-orang.
"Maaf untuk membuat anda menunggu. Kita sekarang akan memulai
babak penyisihan dari Bullet of Bullets ke-3. Semua pemain yang
terdaftar akan secara otomatis ditransfer ke medan dari ronde pertama
saat jam hitung mundur itu mencapai nol. Pada saat ini, aku akan
mengatakan selamat berjuang kepada anda semua."
Sebuah tepuk tangan dan sorakan yang memekakkan berbunyi di dalam
kubah. *Katatata*, suara dari senapan-senapan mesin yang sedang
ditembakkan dan suara bernada tinggi dari laser-laser yang sedang
ditembakkan telah dikeluarkan, dan lampu-lampu dari warna yang
berbeda-beda mendekorasi atap seperti kembang api.
Di tengah keributan itu, Sinon berdiri dan menunjukkan telunjuk jari tangan kanannya padaku.
"Kamu harus mencapai final. Lalu aku akan meledakkan kepalamu."
Aku lalu berdiri, menyeringai, dan menjawab,
"Jika kamu ingin pergi ke sebuah kencan denganku, dengan senang hati aku akan melakukannya."
"Kamu-kamu bo..."
Jam hitung mundur 20 detik itu sedikit lagi akan mencapai nol,
dan aku melambaikan tanganku pada Sinon sebelum memutar balik dan
berjalan menuju ke depan untuk ditranspor ke medan. Pada saat ini,
mataku bertemu dengan Spiegel, yang telah menatap padaku selama ini.
Matanya yang tajam menunjukkan kewaspadaan dan permusuhan yang
jelas. Tepat pada saat aku merasa bahwa aku mungkin telah berlebihan—
Badanku terkepung dengan sebuah pilar bercahaya biru, dan penglihatanku segera menjadi biru.
Akhirnya, aku telah ditranspor ke sebuah panel heksagonal yang sedang melayang dalam kegelapan.
Ada sebuah jendela hologram merah muda di depan aku, dan di
atasnya tertulis kata-kata besar «Kiritp Vs Uemaru». Tidak seperti SAO,
yang hanya memperbolehkan alfabet Inggris, adalah mungkin untuk
menggunakan Jepang dalam GGO. Nama «Uemaru» itu tertulis dalam kanji,
tetapi tentu saja, aku belum pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya.
Juga, pada ujung bawah dari jendelanya, ada sebuah barisan kata-kata
«Preparation Time: 58 seconds left. Field: The Forgotten Old Monastery».
Menit untuk persiapan ini mungkin seharusnya diadakan untuk
memperbolehkan kita untuk mengganti ke perlengkapan yang pas untuk
pertarungan ini. Aku tidak mengetahui apapun tentang map dan senjataku
yang telah disiapkan, dan aku bahkan tidak menggunakannya. Aku memakai
tangan kananku untuk memanggil menu, dan di dalam jendela perlengkapan
yang mirip dengan ALO, senjata utamaku adalah sebuah «Kagemitsu G4»
light saber, dan senjata sampinganku adalah sebuah «Five-Seven». Setelah
mengecek apakah aku lupa untuk memakai perlengkapan pertahananku, aku
menutup jendelanya.
Sambil aku menunggu waktu untuk dengan lambat bergerak, tiba-tiba aku memiliki sebuah pikiran yang aneh.
Senyuman ganas yang diperlihatkan untuk sesaat oleh perempuan
yang dipanggil Sinon itu. Senyuman itu mempunyai niat membunuh dari
sebuah peluru, ditembakkan dari sebuah senapan, yang bisa menembus
melewati segala jenis tameng atau armor.
Hal itu membuat aku ingat pada suara itu yang bergema dalam pikiranku.
Untuk mengalahkan yang kuat— deklarasi langsung ini
terdengar agak kekanak-kanakan dalam suatu sudut pandang tertentu, tapi
aku belum pernah memiliki perasaan sedingin ini, bahkan saat aku masih
di SAO. Aku merasakan badan ramping dia mengeluarkan sebuah hasrat nyata
yang jauh melewati perannya di dalam game ini.
Di dalam dunia virtual ini yang dibuat melalui sinyal-sinyal
elektrik, aku belum pernah melihat seorang pemain yang menunjukkan
hasrat yang sangat intens seperti dia. Di antara para pemain perempuan,
satu-satunya yang aku kenal yang bisa menjadi serius adalah Asuna.
Tidak— bahkan saat dia dipanggil «The Flash» atau bahkan «The Berserker»
sebelum itu, dia belum pernah memberiku impresi seperti ini sebelumnya.
Apakah mungkin? Apakah perempuan dengan rambut biru muda itu adalah «Death Gun» yang aku cari?
Kikuoka sekali pernah membiarkan aku mendengar database suara
dari apa yang dibilang sebagai kepunyaan «Death Gun», tetapi teriakan
melengking dari metal yang bergesek antara satu dengan yang lain
benar-benar berbeda dari suara jelasnya Sinon. Tetapi, GGO hanyalah
sebuah dunia yang berbeda dari SAO. Seorang pemain bisa memiliki
karakter lebih dari satu, dan ada banyak kejadian log in menggunakan
karakter-karakter yang berbeda.
Dan dari suara dari nadanya, nampaknya Sinon memiliki keyakinan
yang pasti bahwa dia bisa mencapai ke final. Jika tebakanku bahwa Death
Gun pasti akan muncul dalam turnamen ini adalah betul, aku bisa
mempersempit orang-orang di sini hingga kira-kira 30 orang, dan tentu
saja, Sinon adalah salah satunya.
Sejujurnya, aku benar-benar tidak ingin mengetes kemungkinan ini.
Aku tidak merasakan hasrat membunuh apapun dari dia, saat dia memandu
aku ke toko dan menjelaskan berbagai hal padaku. Malah, dia sedikit
memberikan perasaan kesepian, seperti dia ingin menjadi dekat dengan
orang lain.
Sebenarnya mana Sinon yang asli, aku berpikir.
—Tidak, aku tidak akan mendapatkan jawabannya sebanyak apapun
aku memikirkannya. Saat pedang kita bertemu, tidak, saat kita berdua
menembakkan pistol kita, kita seharusnya bisa mendapatkan beberapa
petunjuk.
Saat aku memikirkan tentang hal ini dan mengangkat penglihatanku,
waktu hitung mundurnya mencapai nol, dan badanku lagi diselimuti oleh
sebuah efek.
Setelah itu, aku didamparkan di bawah langit matahari terbenam yang samar.
Angin yang bertiup di sampingku tampaknya membawa sebuah suara
tajam mirip peluit. Ada banyak lapisan awan rusak mengambang di atas
dalam udara, dan di bawah aku, rumput-rumput layunya semuanya
mengambang.
Di sampingku, ada pilar-pilar silinder yang merupakan dari gaya Ionian atau Corinth.
Pilar-pilar itu terpisah kira-kira 3m dan berbaris dalam bentuk busur.
Beberapa dari pilar itu telah dirusak, dan beberapa dari pilar itu telah
sepenuhnya rubuh. Tempat itu terlihat seperti reruntuhan dari sebuah
bait peradaban yang hilang.
Aku menyenderkan badanku pada pilar terdekat, dan lalu cepat-cepat melihat pada sekitarku.
Padang rumput layu yang luas di sekelilingku sedang tertiup
keras, dan jauh di perbukitan, aku bisa melihat reruntuhan-reruntuhan
yang mirip dengan tempat ini. Menurut penjelasannya Sinon, lapangan ini
adalah persegi, lebarnya 1000 meter, tetapi untuk mencapai dari sini ke
situ akan memakan kira-kira beberapa kilometer. Seharusnya ada sebuah
batas yang membatasi seperti sebuah sungai atau jurang, atau sesuatu
seperti itu.
Aku terus mengingat penjelasan dia. Sekarang, musuhku seharusnya
sekitar 500 meter di kejauhan dari di mana aku sekarang, tetapi aku
tidak bisa melihat siapa-siapa dalam penglihatanku. Seperti aku, dia
seharusnya bersembunyi di suatu tempat di belakang
reruntuhan-reruntuhan. Tidak ada indikasi dari musuh di sekitar, jadi
aku harus mencari musuh itu sendiri.
Aku bisa terus menunggu di sini dan membiarkan musuh kehilangan
kesabarannya sebelum mengambil aksi. Tetapi, «menunggu» benar-benar
tidak cocok dengan kepribadianku. Daripada menunggu di sini, lebih baik
aku lari ke reruntuhan terdekat di sisi yang lain dan menggunakan
tembakan pistol dari musuh untuk cepat-cepat menganalisa posisiku... Aku
berpikir sambil menggunakan tangan kiriku untuk merasakan «Five-Seven»
di pinggangku.
Pada saat ini, sebuah tiupan angin yang kuat tertiup lewat, dan
padang rumput di sekitar mulai bergoyang. Saat tiupan angin berhenti,
rumput-rumput layunya melurus lagi...
Dan di padang rumput kira-kira 20 meter dari mataku, sebuah profil tiba-tiba berdiri dengan diam.
Penglihatanku yang terkabur langsung melihat senapan serbu yang
dikeluarkan oleh musuh, jenggot berwarna teh yang beristirahat pada
batang senapan, lensa dari kacamata debu yang menutupi lebih dari
setengah wajahnya dan helm yang memiliki rumput palsu di atasnya. Hanya
ada aku dan musuhku di dalam medan perang, jadi dia pasti «Uemaru».
Aku tidak tahu entah kapan dia memperpendek jarak antara kita.
Salah satu dari alasan yang jelas adalah baju kamuflase yang dia sedang
pakai. Pakaian itu terlihat sama persis dengan padang rumput di sekitar,
dan memiliki pola yang agak disederhanakan padanya. Saat aku berpikir Ah begitu, jadi itu penggunaan dari 60 detik...
Senapan serbu hitam yang disiapkan musuh pada bahu kanan dia
menunjukkan beberapa garis merah— «Bullet Line», dan garis-garis itu
menembus aku dan area di sekitarku.
"UWAH!"
Aku tidak bisa menahan untuk meneriakkan itu saat aku menendang
tanah dengan keras dan berpindah ke tempat dengan garis-garis peluru
tersedikit— ke atas menuju langit.
Senapan musuh lalu bersuara *katatatataatatata!!* Dan pergelangan
kaki kananku terkena tembakan dua kali. Bar HP di atas kiri dari
penglihatanku menunjukkan pengurangan kira-kira sebanyak 10%. Tentu
saja, aku tidak bisa menghindari semua pelurunya. Pada saat ini, aku
teringat pada «Full-Auto Shooting» yang diperingatkan oleh Sinon.
Aku melakukan sebuah jungkir balik di udara dan mendarat pada
sebuah pilar yang setengah rusak di belakangku. Aku mencoba untuk
membalas dan mengeluarkan pistol Five-Seven dari sabukku dengan tangan
kiriku.
Tetapi, musuh tidak akan memberiku waktu untuk membidik sama
sekali. Langsung setelah itu, beberapa garis peluru muncul pada badanku
lagi.
"WAHHH!!"
Aku mengeluarkan sebuah teriakan yang memalukan sambil aku
berguling ke belakang pilar. Peluru lain menggores pergelangan tangan
kiriku, dan HP ku turun tanpa ampun.
Hujan peluru yang turun padaku tampaknya mengenai pilar,
menyebabkan suara *Bishibishibishi* dan membuat beberapa fragmen
terbang. Aku buru-buru meringkuk lenganku bersama dan menyembunyikan
seluruh badanku di belakang pilar.
— Ini benar-benar berbeda dari pertarungan antar pedang!
Pada game menghindar itu dengan NPC ahli tembak, ada celah waktu
dan paling banyak 6 peluru, tetapi aku sudah harus berkonsentrasi
sepenuhnya hanya untuk menghindari tembakan-tembakan itu. Sekarang, saat
menghadapi sebuah— rentetan yang lebih dari 10 peluru per detik, tentu
saja aku berada pada akhir dari akalku.
Untuk menyayat muka berjenggot Uemaru dengan light saber
«Kagemitsu» pada pinggang kananku, aku harus mencapai tepat di depan
dia. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan mendapatkan peluru-peluru
tertembak padaku dan HP ku akan tertembak habis.
Jika aku tidak bisa menghindari semuanya, aku hanya bisa
memikirkan sebuah cara untuk «bertahan» dari peluru-peluru itu.
Sayangnya, meskipun jika ada sebuah «protective field» di dunia ini yang
bisa melemahkan kekuatan dari peluru-peluru, tidak ada tameng sihir
atau sesuatu yang bisa melindungi dari peluru asli. Dalam SAO, ada
«Weapon Defense Skill» yang memperbolehkan sebuah pedang untuk
menggantikan sebuah tameng...
Pada saat ini, aku tiba-tiba menaruh tanganku pada light sabe
yang tergantung pada kaitan di bawah sabukku. Aku hanya perlu
mengelakkan beberapa peluru jika aku bisa bertahan dengan pedang ini.
Ini seharusnya tidak mustahil. Tidakkah seseorang di sebuah film sains
fiksi menggunakan sebuah light saber untuk mengelakkan peluru-peluru
dengan mudah? Jika game ini dikembangkan oleh sebuah perusahaan Amerika,
mereka akan bisa merekreasi adegan ini. Tapi untuk melakukan gerakan
yang sangat susah itu, aku harus pertama memprediksi trajektori dari
peluru-peluru yang ditembakkan kepadaku...
Tidak—
Tidak, aku bisa melakukan ini. Aku seharusnya bisa melakukan
hal ini. Tidakkah «Bullet Lines» mengatakan kepadaku di mana
peluru-peluru akan melesat?
Aku menelan ludahku dan menggunakan tangan kananku untuk menarik light saber keluar dari sabukku.
Saat ini, tembakan telah berhenti. Aku rasa Uemaru telah lagi
tersembunyi di antara rerumputan dan siap untuk datang ke sini dari kiri
atau kanan.
Aku menutup mataku dan berkonsentrasi dengan kupingku.
Angin terus bertiup. Pada saat ini, aku berusaha sebaik mungkin
untuk menghilangkan suara efek berisik dari kesadaranku dan
berkonsentrasi pada gerakan-gerakan dari padang rumput yang bergoyang
untuk mendengarkan beberapa suara yang tidak biasa dari dalam sistem.
Ini adalah sebuah kemampuan yang hanya bisa dilakukan dalam
sebuah ruangan VR di mana aku bisa mengisolasi tiap suara sepenuhnya.
Dari saat SAO, «Outside-system Skill» ini telah banyak menolongku.
Sebagai contoh, sebuah bahan level S «Ragout Rabbit» akan memerlukan
kemampuan ini untuk melakukan sebuah serangan yang fatal.
Tetapi berhubung tentang apakah aku bisa berhasil atau tidak—
Dan saat ini, kupingku menangkap sebuah suara yang tidak biasa
datang dari sisi kiri bawah dari jarum jam 7 hingga jarum jam 9. Dia
bergerak untuk sekitar 2, 3 detik sebelum berhenti dan mulai menyelidiki
posisi aku.
Musuh lalu mulai bergerak, berhenti dan bersiap untuk bergerak lagi...
"A... AYO JALAN!"
Aku menggunakan teriakanku untuk menginjak keras pada tanah dan lari lurus ke tempat di mana musuh sedang bersembunyi.
Uemaru mungkin tidak menduga aku akan lari kepada dia saat dia
sedang bersembunyi di rerumputan. Saat dia berdiri dari rerumputan layu,
dia menggunakan kira-kira setengah detik untuk duduk pada satu kaki dan
bergerak ke posisi menembak.
Kita aslinya terpisah kira-kira 25m, tapi pada saat ini, aku lari
melewati setengah dari jarak itu. Aku terus berlari sambil aku
menggunakan jempol kananku untuk menyalakan saklar dari pedang foton
itu. *Bu~n*. Suara yang membuatku rileks bisa terdengar, dan sebuah mata
pedang bernyala-nyala ungu kebiruan keluar dari pegangan pedang.
Hingga sekarang, aku telah secara insting mencari tempat-tempat
dimana aku bisa bersembunyi. Tapi kali ini, aku hanya membiarkan mataku
untuk melihat tepat di depan badanku dan menahan ketakutan yang datang
dari belakang leherku dan mengiritasi saraf-sarafku. Setelah berusaha
sebaik mungkin untuk mengobservasi musuh, aku menemukan bahwa tidak
semua dari garis merah tipis muncul pada saat yang sama. Ada sedikit
perbedaan waktu antara mereka, dan perbedaan itu seharusnya menjadi
ururtan di mana peluru-peluru akan keluar dari laras senapan.
Aku mengontrol badanku yang lebih ramping daripada di kenyataan
dan lari ke depan. Pada saat ini, ada 6 garis peluru yang terbidik pada
badanku.
Garis-garis peluru yang lain pada kiri dan kanan semuanya sedikit
tidak terarah. Dengan jarak ini, senapan musuh— dan akurasi dari si
penembak itu sendiri tidak banyak.
Sensasi P v P
yang sudah lama terlupakan nampaknya telah membuat karakterku untuk
beralih ke mode perang. Sambil jarak yang tersisa di penglihatanku
menunjukkan sebuah ekstensi keluar dari pusatnya, badan dari target
terlihat benar-benar jelas. Perasaan semakin cepat ini yang membuat aku
merasa teringat kembali pada masa lalu. Pada saat ini adalah di mana aku
mulai melambat, kesadaranku adalah satu-satunya yang membalap.
Moncong dari senapan musuh tiba-tiba mengeluarkan sebuah percikan oranye.
Pada waktu ini, mata pedang dari light saber menghalangi
garis-garis dari peluru pertama dan kedua dengan akurasi yang sangat
tepat.
*BA-BAM!!* Permukaan dari light saber mengeluarkan dua percikan oranye
terang. Pada saat aku menyadari ini, tangan kananku lansung mengarahkan
pedang foton pada garis peluru ketiga dan keempat dalam secepat kilat.
Lalu, suara dari peluru-peluru dielakkan dari energi intens bisa
terdengar lagi.
Aku terus bergerak ke depan sambil tidak menghiraukan peluru-peluru
yang «tidak akan mengenaiku sama sekali». Sebenarnya, ini adalah hal
yang benar-benar mencapaikan secara mental, tapi aku menggertakkan
gigiku dan terus mengayunkan pedang di tanganku.
5... dan itu yang ke-6! Setelah mengelakkan semua peluru yang
bisa mengenaiku dengan sukses, aku menendang tanah dengan keras dengan
semua energiku untuk menutupi jarak yang tersisa antara kita.
"Tidak... Tidak mungkin!"
Rahang berjenggot Uemaru yang menganga sambil ia melebarkan
mulutnya dan berteriak dalam syok. Tetapi, orang ini tidak berhenti sama
sekali. Dia mengeluarkan tempat pelurunya dengan handal dan
mengeluarkan tempat peluru yang telah disiapkan pada pinggang dia dan
bersiap untuk memasukkannya pada senapan.
Untuk mencegah dia dari melakukan hal ini, aku memegang
Five-Seven di tangan kananku dan mengarahkannya pada Uemaru. Pada saat
jari-jariku menyentuh pelatuk, sebuah lingkaran hijau muda muncul di
pusat dari dada musuh. Ini mengejutkanku, tetapi aku terus menembakkan 5
peluru.
Rekoil ringan yang tak diduga berjalan dari pergelangan tangan
hingga bahu, dan di dalam lingkaran yang setengah transparan, Uemaru
terkena tembak sekali di bahu dan di abdomen dan tiga tembakan yang lain
menghilang ke belakang dia menuju rerumputan.Tetapi, peluru-peluru yang
mengenai dia menembus armor dia dan menyebabkan luka padanya. Layar
menunjukkan bar HP dia turun sekitar 10%. Uemaru terhuyung-huyung dan
langsung ragu-ragu.
Untuk aku, ini adalah waktu yang cukup.
Saat aku memasuki jarak menyerang, aku memutar badanku sedikit ke kanan—
Tepat saat aku melangkah keluar dalam kecepatan seperti aku ingin
menerobos tanah virtual, aku menerjang ke depan tanpa menghabiskan
sedikitpun dari kecepatan itu sama sekali. Di dalam dunia SAO, gerakan
ini disebut «Vorpal Strike», serangan yang kritikal saat pedang itu
menerjang menuju dada musuh.
Suara berisik seperti sebuah mesin jet berbunyi sambil pedang
cahaya itu menembus badan musuh dengan mudahnya. Hal itu terasa seperti
ledakan energi yang tidak bisa dikeluarkan di mana lagi meledak di dalam
musuh.
Lalu, dengan cahaya dan suara yang berlebihan, barang yang
berbentuk silinder di tangan kananku tertembak keluar, dan badan musuh
menjadi fragmen-fragmen yang banyak sekali sambil bertebaran di udara.
Aku merasakan perasaan mati rasa dari pertarungan yang baru saja selesai sambil aku menahan tubuhku dengan pelan.
*Wu~wun*. Aku mengayunkan light sabernya dan hampir memasukkan
pedang pada sarung di punggungku langsung, tetapi aku buru-buru
mematikannya.
Setelah menggantung pedangnya pada kaitan di sisi kanan dari
pinggangku dan pistol di tangan kiriku pada holsternya, aku akhirnya
mengeluarkan sebuah helaan nafas yang panjang. Aku memandang pada langit
matahari terbenam, dan menemukan bahwa awan-awan yang mengambang rendah
terlihat seperti sebuah layar menunjukkan kata-kata 'Selamat'.
Aku memenangkan ronde pertama dengan susah payah. Benar-benar
sebuah berita baik bahwa aku bisa menggunakan light saber seperti itu
untuk bertahan pada peluru-peluru senapan. Tetapi, aku memerlukan banyak
konsentrasi untuk menggunakannya, dan saraf-sarafku sudah mulai hangus
dan berasap.
Aku masih harus melewati 4 ronde yang mencapaikan lagi—
Sebuah cahaya biru datang ke badanku yang capai dan mulai
mengelilingiku. Suara yang sunyi dari angin pelan-pelan menghilang. Saat
suaranya menjadi suara keramaian dari banyak manusia, aku menemukan
diriku kembali di area menunggu.
Hal itu terlihat seperti aku telah ditransfer ke kursi-kursi
kotak dekat tembok seperti di mana aku sebelumnya. Aku melihat pada sisi
kiri dan kanan, tetapi tidak menemukan Sinon atau Spiegel di sekitar.
Jika Sinon masih bertarung, yang aku pikirkan adalah ke mana laki-laki
yang terkait dengan Sinon pada suatu cara itu pergi. Aku mengarahkan
penglihatanku pada seluruh area, dan menemukan bahwa ada sesosok figur
yang kukenal di dekat pusat dari kubah, berpakaian baju jalanan. Dia
tidak menyadari bahwa aku telah datang kembali karena dia hanya terfokus
pada layar besar di langit-langit.
Aku mengangkat kepalaku seperti yang dia lakukan juga, dan
menemukan bahwa layar besar yang tadinya hanya memperlihatkan waktu
hitung mundur sekarang sedang memperlihatkan banyak pertarungan.
Layarnya memperlihatkan pemain-pemain di padang gurun, hutan-hutan atau
reruntuhan-reruntuhan yang memakai pistol, senapan mesin atau
senapan-senapan untuk bertarung melalui sudut-sudut yang berbeda seperti
adegan-adegan di film-film.
Pertarungan-pertarungan ini pasti beberapa dari ratusan
pertarungan yang sedang berjalan dan dipilih untuk ditayangkan. Setelah
adegan di mana seorang pemain tertembak dan hancur berkeping-keping
tertayangkan, pemain-pemain tak terhitung yang terkumpul di dalam kubah
akan mengeluarkan sorakan yang menulikan.
Aku memikirkan tentang apakah pertarungan Sinon akan ditayangkan
sambil aku mengambil beberapa langkah ke depan. Aku mengecek tiap gambar
dari ujung atas kanan, tetapi sambil kamera-kameranya terus bergerak,
aku benar-benar tidak bisa mengetahuinya. Aku berkonsentrasi dan
berusaha untuk mencari rambut biru aqua dia.
—Karena aku terlalu berkonsentrasi, aku terlalu terkejut sampai
hatiku hampir berhenti saat kuping kananku tiba-tiba mendengar sebuah
suara. Suara yang dalam, parau dan agak metalik tampaknya masuk ke dalam
pikiranku.
"Apakah kamu, yang asli?"
"...?"
Aku secara insting mengambil selangkah ke belakang dan melihat kembali.
Dengan langsung, aku pikir bahwa aku melihat seorang hantu.
Tentu saja, aku tidak merujuk pada hantu asli, tapi pada
«Ghost-Type» monster mob yang muncul di lantai ke-65 dari Aincrad pada
malam hari di dalam Ancient Fore.
Orang di depanku memakai sebuah mantel abu-abu gelap yang
compang-camping. Kerudung yang dibiarkan menutup berwarna hitam
sepenuhnya, dan hanya matanya yang berada jauh di dalam yang menunjukkan
sebuah cahaya merah kecil.
Di bawah cahaya dari kubah menunggu yang gelap, orang tak dikenal
di depanku ini benar-benar terlihat seperti sebuah monster tipe hantu
di SAO. Maka, aku secara insting ingin mundur dan mengeluarkan light
saberku untuk bertarung. Aku bahkan tidak bisa mengontrol insting ini
sama sekali sambil tangan kananku tersentak.
Aku terengah-engah saat aku melihat kaki dari orang itu. Di ujung
dari mantel compang-camping itu, aku bisa melihat ujung dari sepatu bot
yang agak kotor.
Dia bukanlah seorang hantu, tetapi seorang pemain. Setelah
mengecek fakta yang jelas ini, aku melepaskan nafasku yang agak ditahan.
Melihat dengan teliti, mata merah itu bukanlah cahaya hantu,
tetapi cahaya dari lensa dari sepasang kacamata debu hitam yang menutupi
seluruh wajah dia. Respons yang agak seperti prajurit baru dari aku ini
dan cara orang itu baru saja mendekati aku di tempat yang sedekat ini
dalam cara yang tidak sopan, aku bertanya dengan tidak ramah.
"Asli... apa yang kamu maksud dengan itu? Siapakah kamu?"
Tetapi, pemain yang berpakaian mantel abu-abu hitam itu tidak mengatakan
nama dia sambil dia dengan sengaja mengambil selangkah lebih dekat ke
aku bahkan saat aku mengambil selangkah ke belakang. Kali ini, aku tidak
mengambil selangkah ke belakang, tetapi menerima tatapan dia secara
langsung dari kira-kira 20cm jauhnya dari dia.
Suara itu yang nampaknya memiliki suatu bentuk dari efek suara dari
dalamnya dan memiliki beberapa nuansa yang bergema berdering dalam cara
yang terputus-putus.
"Aku melihatnya, pertarungannya. Sebuah pedang, kamu menggunakannya."
"Ah...ahhh. Itu tidak melawan peraturan, kan?"
AmuSphere yang sialan benar-benar menunjukkan keraguan di dalam
hatiku karena jawabanku bersuara agak parau. Orang bermantel abu-abu
gelap itu nampaknya telah membaca hatiku sambil dia berjalan beberapa
sentimeter lagi.
Lalu, dia mengatakan hal lain dengan suara yang lebih dalam lagi.
Karena suaranya cukup kecil, pada jarak ini, aku harus berkonsentrasi
hanya untuk mendengarnya.
"Biarkan aku menanyakan, kamu lagi. Apakah kamu, adalah yang, asli?"
Sebelum aku bisa mengerti arti di belakang kata-kata ini, hatiku
terasa seperti telah diserang oleh pertanda seperti petir, dan aku hanya
bisa berdiri terdiam di situ.
—Aku tahu orang ini!
Betul sekali. Aku pasti pernah bertemu dengan dia di suatu
tempat. Aku pernah berbicara dengan dia secara langsung seperti apa yang
aku lakukan sekarang.
Tapi di mana? Setelah log in ke dalam GGO, aku hanya pernah
berbicara dengan orang yang ada di tempat di mana aku muncul yang mau
membeli avatarku, Sinon yang membawaku untuk membeli item-item dan
mendaftar, dan temannya, tiga sebagai totalnya. Maka, aku tidak bisa
mengatakan kalau aku pernah bertemu dengan dia di dunia ini sebelumnya.
Pada saat ini, mantel compang-camping itu tergoyang, dan sebuah
tangan yang kurus keluar dari dalam. Aku bersiap untuk mundur, tetapi
setelah melihatnya, aku menemukan bahwa selain dari sarung tangannya
yang secompang-camping mantelnya, tidak ada apa-apa lagi.
Tangan di udara itu menunjuk padaku, dan membuka sebuah jendela
sebelum menggerakkannya dengan tidak semangat. Sekarang, jadwal
pertarungan yang sekarang sedang berjalan di dalam babak penyisihan BoB
ketiga ini muncul di jendela itu.
Jari yang tipis dan seperti metal itu memencet pada Grup F, dan
pada akhirnya, gambar dari Grup F membesar untuk dapat terlihat di
seluruh layarnya. Dia memencetnya sekali, dan bagian pusat dari jadwal
pertarungan itu menjadi lebih luas.
Mataku tertarik oleh jari dia.
Ada 2 nama padanya.
Pada sisi kiri adalah «Uemaru», dan pada sisi kanan adalah
«Kirito». Pada nama di kanan, ada sebuah garis bersinar terang merentang
keluar dari dalamnya. Berita bahwa aku mengalahkan Uemaru dan masuk
pada ronde kedua sudah dilaporkan
Jari dia bergerak sedikit, menyentuh kata «Kirito» ke atas dan bawah, dan lalu, berdering lagi— suara dia.
"Nama, ini. Sword skill, itu... Apakah, kamu asli?"
Dengan langsung, aku terkejut untuk ketiga kalinya, dan ini adalah yang memiliki impak terbesar.
Kakiku mulai bergetar, dan aku harus bekerja keras untuk tidak membiarkan diriku jatuh.
Pemain bermantel abu-abu ini— Aku tahu dia!
Asal dari nama «Kirito», dan sword skill yang aku gunakan untuk mengalahkan «Uemaru». Orang ini mengetahui tentang hal itu.
Dengan kata lain... Aku tidak bertemu dengan orang ini di GGO ataupun ALO.
Tetapi di SAO. «Sword Art Online». Aku sekali bertemu dengan
orang ini di stage utama dari game kematian itu, kota melayang Aincrad.
Avatar ini yang tersembunyi di bawah mantel compang-camping...
tidak, pemain yang memakai AmuSphere dan memainkan avatar ini adalah
seorang «yang selamat dari SAO» seperti aku.
Hatiku sudah berdetak dengan gila tanpa sepengetahuanku. Jika
bukan karena fakta bahwa kita berada di dalam kubah gelap, dia mungkin
sudah menyadari bahwa muka avatarku sudah menjadi putih semua.
Tenang. Tenang!! Pada saat ini, pikiranku hanya bisa mengulangi kata seperti itu.
Bahkan saat bertemu dengan seorang yang selamat dari SAO, aku
tidak perlu untuk panik sebanyak ini. Saat Aincrad sudah akan rubuh, aku
menjadi terkenal karena laporan dari skill unikku «Dual Blades» dan
bagaimana aku secara terbuka melawan pemimpin dari Knights of the Blood,
Heathcliff. Juga, «Vorpal Strike» yang baru saja aku gunakan pada
Uemaru adalah skill yang cukup umum di bawah kategori pedang satu
tangan. Pemain-pemain berlevel tinggi di Aincrad itu bisa menebak dari
tayangan pertarungan itu dan nama dari pemain di jadwal pertarungan
bahwa aku adalah Kirito dari clearing group SAO. Jika dia adalah aku,
jika aku menemukan seorang pemain yang aku mungkin kenal pada awalnya,
aku mungkin akan berbicara kepadanya dan berbincang tentang masa lalu
atau sesuatu.
Jadi aku tidak perlu untuk merasa ketakutan sama sekali. Aku seharusnya tidak takut.
Tetapi kenapa aku benar-benar...
Pada momen selanjutnya— tangan yang tipis dan panjang itu
menghilangkan jadwal pertarungannya dan membiarkan tangan dia kembali ke
dalam mantelnya, dan sebuah bagian menarik perhatianku.
Ada sebuah celah tipis di sisi depan dari sarung tangan itu yang
terlihat sepeti perban tua, mungkin sedikit lebih tinggi dari dalam
pergelangan tangannya. Dari situ, aku bisa melihat kulit pucat dia.
Dan pada kulit itu, ada sebuah tato kotak kira-kira 5cm lebarnya.
Tato itu adalah sebuah Western Coffin
yang digambar dalam gaya manga. Tutupnya menampilkan sebuah muka
tersenyum yang misterius, dan tutupnya sedikit terbuka. Sebuah lengan
putih menggapai keluar dari dalam, melambai pada siapa saja yang
dilihatnya. Pada dunia lain itu, orang yang lain menggunakan air beracun
untuk melumpuhkanku dan bersiap untuk membunuhku. Pada saat itu, dia
memiliki tato yang sama juga.
Itu adalah emblem dari «Laughin Coffin».
Saat aku teringat pada gambar itu, benar-benar sebuah keajaiban
bahwa aku bisa menahan teriakanku atau mencegah diriku dari terjatuh ke
lantai, atau bahkan bahwa aku tidak dipaksa untuk log out karena
gelombang otak yang abnormal.
Pemain di bawah mantel yang compang-camping itu menatap padaku, yang tidak bereaksi sama sekali, dan lalu membisikkan,
"Kamu, tidak tahu, apa yang aku tanyakan?"
"...Ahh. Aku tidak mengerti. Apa yang kamu maksud, dengan yang asli."
"...."
Mantel abu-abu gelap itu dengan diam mengambil selangkah ke
belakang. Mata merah itu terlihat seperti sedang berkedip sambil mata
itu berkerlip.
Setelah apa yang terlihat seperti beberapa detik yang panjang,
perasaan yang terasa anorganik nampaknya bertambah saat suara itu
berdering.
"...Kalau begitu, lupakan saja. Baik, apakah, namamu, adalah sebuah kebohongan, atau palsu... atau apakah kamu, yang asli."
Dia memutar badannya dan meninggalkan kata-kata terakhir.
—"Suatu hari, aku akan membunuhmu."
Kata-kata ini membuatku merasa bahwa dia tidak sedang membicarakan tentang membunuh di dalam game.
Mantel compang-camping itu pergi dengan diam seperti hantu— dan lalu tiba-tiba menghilang.
Sekarang, keadaan sekitar tidak seperti sebelumnya di mana pemain itu masih di sekitar.
Badanku yang kurus dan ramping mulai bergoyang, dan setelah
sedikit saja menyangga badanku, aku terjatuh seperti longsor dan duduk
pada kursi kotak di sampingku. Aku lalu memeluk kaki tipisku dan menaruh
lututku pada dahiku.
Aku menutup mataku, dan di dalam kelopak mataku, aku bisa melihat
sebuah tato kecil yang jelas meskipun itu hanya untuk sefraksi dari
sedetik.
Sebuah peti mati tertawa. Hanya ada satu guild yang menggunakan emblem seperti itu di Aincrad.
Itu adalah guild pembunuhan «Laughing Coffin».
Di dalam dua tahun penyelesaian SAO, bisa dibilang bahwa ada banyak
sekali pemain oranye yang mengalami kendala ekonomi dan mulai mencuri
uang dan perlengkapan dari pemain-pemain lain. Biasanya, mereka akan
berkumpul bersama dari grup-grup hingga satu orang dan memaksa mereka
untuk memberikan item yang berharga. Pada maksimalnya, mereka hanya akan
menggunakan beberapa racun kelumpuhan.
Saat seseorang menyerang orang lain dan menyebabkan bar HP untuk
habis, pemain itu benar-benar akan mati di dunia nyata, jadi tidak ada
orang yang berani melakukan hal itu. Itu karena 10.000 pemain ini
semuanya adalah Net-gamer berat, dan semuanya adalah orang yang tidak
memiliki hubungan apapun dengan kejahatan di dunia nyata.
Tetapi, peraturan tak tertulis «Tidak menyebabkan HP untuk jatuh ke nol» ini dirusak oleh seorang pemain aneh.
Nama pemain ini adalah «PoH». Itu adalah nama yang sangat lucu
untuk seorang karakter, tetapi tanpa diduga— atau malah, adalah karena
hal ini sehingga dia memiliki sebuah karisma tertentu.
Poin atraktif yang pertama tentang PoH adalah bahwa dia memiliki
sebuah penampilan tampan yang terlihat eksotik, dan adalah seorang
pemain multilingual yang cukup pandai dalam tiga bahasa. Dia mungkin
adalah anak berdarah campuran dari orang Jepang dan orang Barat, dan
bahasa Jepang dia, Inggrisnya yang lancar, dan Spanyolnya yang cukup
bagus bersuara tepat seperti seorang DJ penyanyi rap profesional, yang
akan mengubah pemain-pemain di sekitar dia. Pada akhirnya, mereka
berubah dari menjadi pemain ke organisasi ilegal asli yang kukuh dan
tidak berperasaan.
Dan poin kedua itu sangat simpel. Teknik PoH sendiri.
Dia adalah pengguna Belati yang bertalenta. Sebuah belati di
tangan dia sudah seperti kepanjangan dari tangan dia. Mata pedangnya
bahkan tidak perlu bantuan dari sistem dan bisa menhancurkan
monster-monster— atau pemain-pemain. Apalagi pada akhir dari game
kematian itu, saat dia mendapat apa yang dipanggil sebagai belati yang
mengerikan besarnya «Mate Chopper», kemampuan dia sangat bagus hingga
para pemain di clearing group takut akan dia.
Pengikut-pengikut durhaka yang mengagumi PoH tertarik pada dia
dalam cara yang berlawanan dengan cara orang-orang tertarik kepada
Heathcliff dari Knights of Blood. Dengan pelan, mereka memperluas
batas-batas di hati mereka.
Setahun setalah game dimulai, pada Malam Tahun Baru di tahun 2023.
PoH dan kawan-kawan, yang telah tumbuh menjadi kira-kira 30
orang, menyerang sebuah guild kecil yang sedang mengadakan sebuah pesta
di luar di dalam sebuah padang pada tempat pemandangan, dan membunuh
mereka semua.
Pada hari selanjutnya, ada notifikasi tentang «Laughing Coffin»,
sebuah guild yang tidak diterima oleh sistem dan ditandai sebagai
«merah», dan berakhir di para pemberi informasi utama dari Aincrad.
Tetapi, pemain bermantel abu-abu yang aku baru saja berbicara dengan
seharusnya bukan PoH sendiri. Cara berbicara yang tidak terkontrol dan
kadang-kadang terputus-putus itu benar-benar berbeda dengan cara bicara
PoH yang nampak seperti senapan mesin dengan nada yang sangat antusias.
Tetapi, benar-benar ada seseorang di «Laughing Coffin» yang
berbicara seperti itu. Aku bertemu dengan orang itu sebelumnya, dan aku
pikir kita pernah bertarung sebelumnya. Dia bukan seorang anggota biasa,
tetapi seorang anggota yang cukup tinggi tingkatnya. Aku sudah bisa
mengingat sangat banyak, tetapi kenapa aku tidak bisa mengingat muka
atau namanya?
Tidak, aku sebenarnya tahu. Alasan kenapa aku tidak bisa memikirkannya adalah karena aku sendiri menolak untuk mengingatnya.
«Laughing Coffin» dibentuk pada hari pertama dari 2024, dan telah dikalahkan pada suatu malam musim panas setelah Agustus.
Tentu saja, guild itu tidak secara otomatis dibubarkan, tetapi
dibantai. Itu karena clearing group, para pemain medan perang terdepan
membentuk kira-kira 50 pemain dalam sebuah usaha pemberantasan sambil
kita menggunakan paksaan untuk menghancurkan mereka.
Sebenarnya, kita seharusnya melakukan hal itu dulu sekali, tetapi
kita tidak bisa menemukan tempat pangkalan Laughing Coffin, jadi hal
itu ditunda hingga setelah Agustus.
Di dalam Aincrad, pemain-pemain bisa membeli rumah-rumah atau
kamar-kamar, dan baik apakah itu ada di jalan-jalan atau di luar, kita
bisa dengan akurat menunjukkan posisi dengan tepat melalui NPC
perusahaan real estate. Clearing group menebak bahwa mereka akan membeli
sebuah rumah yang lebih besar atau sebuah bangunan seperti kastil yang
memperbolehkan 30 orang untuk tinggal di dalamnya, jadi para pemberi
informasi menerima permintaan clearing group dan mengecek semua rumah
besar dari lantai pertama.
Tetapi meskipun kita menemukan beberapa tempat persembunyian
guild oranye dari sedang ke kecil, kita masih tidak bisa menemukan
pangkalan Laughing Coffin yang paling penting setelah beberapa bulan.
Sebenarnya, tentu saja kita tidak bisa menemukan mereka. Laughing
Coffin menggunakan sebuah lantai yang kita telah lama kuasai— sebuah
area menara yang tidak terhubung dengan level di atasnya, yang merupakan
sebuah zona aman di dalam sebuah gua yang bisa dengan mudah dilupakan
setelah seorang designer meng-instalnya ke situ. Pemain-pemain clearing
akan dengan biasa hanya ikut serta dalam menyelesaikan labirin-labirin
dalam menara-menara tinggi, dan pemain kelas sedang akan menyelip ke
dalam labirin-labirin di mana ada banyak orang-orang. Tentu saja, akan
ada pemain-pemain yang menemukan bahwa ada beberapa masalah dengan gua
itu dan masuk, tetapi tidak susah untuk mengimajinasikan bahwa mereka
dibunuh dengan mudah oleh Laughing Coffin untuk mencegah dari keberadaan
mereka untuk dibeberkan.
Alasan pangkalan rahasia dari Laughing Coffin terbeberkan adalah
karena salah satu dari anggota mereka yang mungkin tidak dapat menahan
perasaan bersalah dari membunuh membongkar rahasia itu kepada clearing
group. Para pemain clearing lalu menggunakan informasi ini untuk
menginvestigasi dan mengecek bahwa orang-orang itu sedang menggunakan
gua itu sebagai pangkalan sebelum akhirnya mengumpulkan pasukan berskala
besar. Pemimpin dari pasukan itu adalah anggota dari guild terbesar
«Holy Dragon Alliance». Beberapa pemain kuat dari «Knights of the Blood»
dan guild-guild lain juga ikut. Tentu saja, sebagai seorang pemain
solo, aku juga diundang untuk mengikuti grup itu.
Jumlah dan rata-rata level kita semuanya jauh lebih tinggi
daripada Laughing Coffin, jadi kita pikir jika kita menyegel pintu masuk
ke zona aman ke pangkalan mereka, akan ada kemungkinan besar mereka
akan menyerah tanpa perlawanan. Tetapi— sama seperti bagaimana ada
seseorang yang membongkar rahasia mereka...
Rahasia kita yang dijaga sepenuhnya dan strategi perang kita
diketahui oleh mereka untuk beberapa alasan tertentu. Saat kami memasuki
labirinnya, tidak ada anggota Laughing Coffin sedang menunggu di
ruangan besar dari zona aman. Tentu saja, mereka tidak kabur atau
bersembunyi di lorong-lorong dari labirin, tetapi menyerang kita dari
belakang.
Mereka mempersiapkan berbagai jenis perangkap, racun, item tipuan
dan berbagai cara untuk menyerang kita secara tiba-tiba dengan
cara-cara yang tidak pasti. Clearing group benar-benar bingung pada
awalnya, tetapi respons kepada situasi-situasi mendadak adalah sebuah
kemampuan yang diperlukan oleh clearing group, jadi kita langsung
menyiapkan diri kita sendiri lagi dan mulai menyerang ke belakang.
Tetapi— ada sebuah perbedaan yang tak diduga di antara Laughing Coffin dan clearing group.
Yaitu perasaan bersalah dari membunuh seseorang. Saat kita sadar
bahwa anggota-anggota Laughing Coffin yang mengamuk tidak akan menyerah
bagaimanapun HP mereka diturunkan, kita mulai bimbang.
Tentu saja, kita mendiskusikan kemungkinan ini sebelumnya, dan
pada saat itu, kita membuat keputusan bahwa kita harus bertarung sekuat
tenaga bahkan jika kita harus membuat HP musuh turun menjadi nol. Tetapi
termasuk aku, anggota-anggota dari pasukan tidak dapat melakukan
pukulan terakhir saat HP musuh berada dekat dengan angka nol. Salah satu
dari prajurit bahkan melempar pedang dia dan berlutut ke tanah.
Pertama, ada beberapa martir di dalam para prajurit. Lalu,
prajurit-prajurit yang sama yang mengamuk membunuh beberapa
anggota-anggota dari Laughing Coffin juga.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah neraka yang berdarah-darah.
Setelah pertarungan berakhir, ada 11 korban dari sisi para
prajurit dan 21 dari sisi Laughing Coffin. Di antara mereka, aku sendiri
menggunakan pedangku untuk membunuh dua dari mereka.
Tetapi di antara pemain-pemain yang mati dan tertangkap, tidak ada tanda dari nama dari pemimpin PoH.
Dua belas pemain-pemain musuh lain yang selamat dari pertarungan
itu semuanya dikurung di dalam penjara Dark Iron Palace. Jika pemain
bermantel abu-abu itu benar-benar salah satu dari orang-orang yang
selamat, aku mungkin harus berbicara dengan dia pada suatu waktu setelah
selesai dari pertarungan. Aku ingat cara bicara dia, tetapi tidak bisa
mengingat wajah dia dan namanya, semua ini karena aku memaksa diriku
sendiri untuk melupakan tentang semua hal itu.
Tidak...
Tidak, mungkin di bawah mantel itu...
Adalah salah satu dari dua orang yang aku bunuh sendiri.
Tanpa diduga, aku memikirkan hal ini. Maka, aku terus memeluk
lututku sambil aku duduk pada sebuah kursi dan buru-buru menggelengkan
kepalaku. Aku mulai untuk menggertakkan gigiku dengan semua tenagaku dan
mencoba untuk merubah pemikiranku.
Yang mati tidak bisa dihidupkan kembali. Di dalam insiden SAO,
baik orang-orang yang aku cintai maupun yang aku benci, 4000 korban itu
tidak akan pernah kembali lagi. Jadi orang itu di dalam mantel abu-abu
pasti salah satu dari 12 anggota Laughing Coffin yang selamat. Aku
seharusnya mengetahui nama-nama mereka. Aku berusaha sebaik mungkin
untuk menahan rasa sakit dari mencari-cari dalam ingatan-ingatanku
sambil aku mencoba untuk mengingat informasi mereka.
Lalu pada saat itu...
Aku lagi menyadari sebuah kemungkinan, dan terengah-engah.
Suara seperti metalik yang terdistorsi itu yang dikeluarkan oleh
orang bermantel abu-abu itu adalah sebuah bisikan yang cukup dalam.
Bagaimana jadinya jika dia berteriak dengan semua tenaga dia...
Teriakan dari file suara yang aku dengan minggu lalu berdering di dalam kupingku lagi.
"...Ini, adalah kekuatan asli, tenaga asli! Orang-orang bodoh, ukirlah rasa takut dari nama ini di dalam hati-hatimu!"
"Nama dari pistol ini dan aku : «Death Pistol»... «Death Gun»!!"
Suara itu sangat mirip. Aku tidak mungkin salah. Suara-suaranya akan menjadi sama.
Orang itu—
Apakah orang bermantel abu-abu itu «Death Gun»?
Jika begitu, misiku untuk dive ke dalam GGO, menarik perhatian dan menjadi target «Death Gun» sudah selesai dengan cepat.
Tapi... Tapi, aku tidak pernah menduga hal-hal akan berjalan secepat ini.
«Death Gun» adalah seseorang yang selamat dari SAO, dan salah satu dari anggota SAO— kalau begitu.
Maka dia bisa menggunakan sebuah pistol di dalam game untuk membunuh dua pemain asli di dunia nyata.
Mungkin... Mungkin... Benar-benar ada kekuatan seperti itu...
Pada saat ini, aku tiba-tiba ditepuk pada bahu kiri, dan hampir
berteriak. Aku benar-benar syok sambil aku bergetar, dan melihat ke
atas, hanya untuk melihat rambut biru aqua berayun di depanku.
"Ada apa dengan ekspresimu...?"
Perempuan itu— Sinon merengut saat dia mengatakan hal itu. Aku hanya bisa memaksa sesuatu seperti sebuah senyuman pada dia.
"Ah...ti-tidak, tidak ada apa-apa..."
"Apakah pertarungan kamu barusan itu hampir kalah? Tapi kamu kembali cukup awal, kan?"
Setelah mendengarkan kata-kata ini, aku akhirnya ingat bahwa aku
sedang ikut serta di dalam babak penyisihan dari turnamen «Bullet of
Bullets». Aku mengedip, melihat sekitar, dan menemukan bahwa kubah yang
sebelumnya terisi oleh pemain-pemain sekarang hanya ada setengahnya
tersisa. Tampaknya ronde pertama dari babak penyisihan telah usai, dan
para pemain yang kalah telah ditranspor ke permukaan. Musuhku
selanjutnya seharusnya langsung muncul, dan ronde kedua akan mulai.
Tetapi dalam situasi seperti ini, aku tidak merasa aku masih bisa bertarung.
Aku terus menatap pada Spiegel, yang memberi suatu tampang yang
agak terkejut dari kejauhan, dan Sinon yang berada tepat di depanku
sebelum menghembuskan nafas dengan lemah dari mulutku.
Dengan langsung, Sinon memberi tatapan serius dan berkata,
"Kamu sudah sangat canggung setelah pertarungan pertama. Kamu
terlihat seperti kamu pasti tidak akan dapat mencapai ke final.
Semangatlah... Aku harus membalasmu karena telah menipuku!"
Setelah mengatakan itu, dia mengangkat tangan kanan dia dan lagi menepuknya pada bahuku.
Aku secara tidak sadar menggunakan tanganku untuk memegang tangan
kecil dia yang akan meninggalkanku. Aku lalu membawanya ke dadaku, dan
lalu membiarkan lengannya di dahiku.
"Tu-Tunggu sebentar...apa yang kamu lakukan!?"
Sinon buru-buru membisikkan hal itu sambil dia bersiap untuk
menarik tangan dia kembali. Tetapi, aku terus memegang erat pada
tangannya dan tidak melepasnya.
Meskipun ini adalah kehangatan yang datang dari sebuah avatar
poligonal, tetapi avatar ini mampu memberikanku kehangatan ini yang
tidak bisa diartikan. Saat aku merasakan perasaan dingin yang menakutkan
yang berdiam di hatiku, badanku mulai bergetar.
"...Apa yang kamu lakukan...?"
Aku mendengar sebuah suara yang terganggu pertama, dan lalu, aku merasakan tangan yang kecil dan hangat di dadaku itu mulai merileks
READ MORE →