Wednesday, 3 September 2014

Kolonialisme Dan Imperialisme Barat Di Indonesia

   Kolonialisme berasal dari kata colunus (colonia) yang berarti suatu usaha untuk untuk mengembangkan kekuasaan suatu negara diluar wilayah negara tersebut. Kolonialisme pada umumnya bertujuan untuk mencapai dominasi ekonomi atas sumber daya, manusia, dan perdagangan di suatu wilayah. Wilayah koloni umumnya adalah daerah-daerah yang kaya akan bahan mentah untuk keperluan negara yang melakukan kolonialisme.



Imperialisme adalah usaha memperluas kekuasaan suatu negara untuk menguasai negara lain. Imperialisme dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu imperialisme kuno dan imperialisme modern. Imperialisme kuno berlangsung sebelum revolusi industri dan bertujuan untuk memiliki kekayaan (gold), mencapai kejayaan (glory), dan menyebarkan agama (gospel). Spanyol dan portugis adalah negara yang menjalankan imperialisme kuno. Sementara Inggris merupakan negara yang menganut imperialisme modern.



A.       Dampak Sosial, Ekonomi, Budaya keberadaan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia



Praktek imperialisme dan kolonialisme di Indonesia mempunyai dampak yang sangat besar bagibangsa Indonesia. Bukan hanya mengakibatkan terjadinya penderitaan dan kesengsaraan fisik, tetapi juga psikhis, bahkan akibatnya terasa hingga saat ini. Selain mengakibatkan penderitaan dankesengsaraan, imperialisme barat juga meninggalkan kosakata, budaya, marga, sarana jalan danbeberapa pabrik gula, dan aturan perundangan.

Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonialsangat dipengaruhi oleh sistem kolonial yang diterapkan oleh pemerintahan Hindia Belanda.Setelah sistem tanam paksa dihapuskan pada tahun 1870 pemerintah kolonial menerapkansistem ekonomi baru yang lebih liberal.

Sistem tersebut ditandai dengan dikeluarkannya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Menurut undang-undang tersebut penduduk pribumi diberi hak untukmemiliki tanah dan menyewakannya kepada perusahaan swasta. Tanah pribadi yang dikuasai rakyatsecara adat dapat disewakan selama 5 tahun. Sedangkan tanah pribadi dapat disewakan selama 20tahun. Para pengusaha dapat menyewa tanah dari guberneman dalam jangka 75 tahun. Dalam jangkapanjang, akibat sistem sewa tersebut tanah yang disewakan cenderung menjadi milik penyewa. Apabilapada masa sistem tanam paksa perekonomian dikelola oleh negara maka sejak Undang-undang Agraria1870 kegiatan ekonomi lebih banyak dijalankan oleh swasta.Nilai-nilai kapitalisme mulai masik ke dalam struktur masyarakat Indonesia. Komersialisasi telahmenggantikan sistem ekonomi tradisional. Nilai uang telah menggantikan satuan ekonomi tradisionalyang selama ini dijalankan oleh masyarakat pedesaan.

Masalah sistem perburuhan dikeluarkan aturanyang ketat. Tahun 1872 dikeluarkan Peraturan Hukumam Polisi bagi buruh yang meninggalkan kontrakkerja. Pada tahun 1880 ditetapkan Koeli Ordonanntie yang mengatur hubungan kerja antara koeli(buruh) dengan majikan,terutama di daerah perkebunan di luar Jawa. Walaupun wajib kerja dihapuskansesuai dengan semangat liberalisme, pemerintah kolonial menetapkan pajak kepala pada tahun 1882.Pajak dipungut dari semua warga desa yang kena wajib kerja. Pajak tersebut dirasakan oleh rakyat lebihberat dibandingkan denganwajib kerja.

Proses interaksi kekuasaan antara negara-negara tradisional (kerajaan) milik pribumi dan kekuasaan Belanda pada abad ke-19 menunjukkan dua perkembangan yang sangat berbeda. Di satu pihak, tampak makin meluasnya kekuasaan kolonial dan imperialiasme Belanda. Di lain pihak terlihat makin merosotnya kekuasaan tradisional milik pribumi. Meluasnya kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia membawa akibat terhadap perubahan dalam berbagai segi kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya.



Dalam bidang politik, pengaruh kekuasaan Belanda semakin kuat karena intervensi yang intensif dalam masalah-masalah istana, seperti pergantian takhta, pengangkatan pejabat-pejabat keraton, ataupun partisipasinya dalam menentukan kebijaksanaan pemerintahan kerajaan. Dengan demikian, dalam bidang politik penguasa-penguasa pribumi makin tergantung pada kekuasaan asing sehingga kebebasan dalam menentukan kebijaksaan pemerintahan istana makin menipis. Di samping itu, aneksasi wilayah yang dilakukan oleh penguasa asing mengakibatkan makin menyempitnya wilayah kekuasaan pribumi. Penghasilan yang berupa lungguh, upeti atau hasil bumi makin berkurang, bahkan hilang sebab kedudukannya telah berganti sebagai alat pemerintah Belanda.



Dalam bidang ekonomi, penghasilan penguasa pribumi makin berkurang. Sudah pasti keadaan ini akan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan para penguasa pribumi. Di pihak rakyat, khususnya para petani dibebani kewajiban untuk mengolah sebagian tanahnya untuk ditanami dengan tanaman-tanaman eskpor dan masih harus menyumbangkan tenaganya secara paksa kepada pemerintah kolonial. Hal inilah yang mengakibatkan runtuhnya perekonomian rakyat

Akibat Politik dan Ekonomi



Ø  Negara imperialis menjadi pusat kekayaan sedangkan negara jajahan menjadi bertambah miskin.

Ø  Hasil industri dipasarkan ke daerah jajahan.

Ø  Munculnya investasi swasta Perdagangan dunia meluas sebagai akibat meningkatnya lalu lintas perdagangan internasional



Di bidang demografi (kependudukan), berdasarkan sensus Raffles (buku History of Java tulisan Raffles) bahwa pada tahun 1815 jumlah pendudukan Jawa mencapai 4,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut lebih dari 1,5 hidup di daerah kerajaan dan kirakira 3 juta ada di daerah yang langsung diperintah oleh pemerintah kolonial.



Sejak akhir abad ke-19 telah terjadi mobilitas dalam masyarakat, baik secara geografis maupun sosiologis. Dalam pengertian geografis bahwa perpindahan tempat tinggal dan kerja makin lama makin sering dilakukan. Transmigrasi, migrasi intern, dan urbanisasi menunjukkan adanya keinginan untuk keluar dari lingkungan hidup yang lama. Hal itu karena pengaruh penetrasi ekonomi asing dan kerapatan penduduk, mobilitas dalam kerja terjadi pula. Sebagian dari masyarakat tani beralih kerja menjadi pedagang, meskipun secara kecil-kecilan. 



Demikian juga jenis pekerjaan tukang dan pelayanan lainnya bertambah banyak pula. Peralihan kerja dan perpindahan ke tempat lain, ada yang membawa dampak ke kehidupan sosial. Orang yang pindah ke kota dan mendapat pekerjaan yang baik, akan naik harganya di mata masyarakat. Demikian pula jika seseorang sukses dalam usahanya. Dengan demikian terjadilah semacam mobilitas sosial vertikal.



Dalam perkembangannya, pada tahun 1900 penduduk Jawa telah mencapai hampir 28,5 juta jiwa. Perkembangan penduduk di Jawa pada abad ke-19 dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain terjadinya peningkatan hidup dari penduduk pribumi,meluasnya pelayanan kesehatan ( introduksi vaksinasi cacar), dan perwujudan ketertiban dan perdamaian oleh pemerintah Belanda.



Dalam bidang sosial, perluasan kolonialisme dan imperialisme berakibat makin melemahnya kedudukan dan perekonomin penguasa pribumi. Penguasa pribumi lebih banyak ditugaskan untuk menggali kekayaan bumi Indonesia, seperti memungut pajak, mengurusi tanaman milik pemerintah, dan mengerahkan tenaga kerja untuk kepentingan pemerintah Belanda.Turunnya kedudukan penguasa pribumi mengakibatkan turunnya derajat dan kehormatan sebagai penguasa pribumi. 



Di bidang budaya, makin meluasnya pengaruh kehidupan Barat dalam lingkungan kehidupan tradisional. Tata kehidupan Barat seperti cara bergaul, gaya hidup, cara berpakaian dan pendidikan mulai dikenal di kalangan atas atau istana.



Sementara itu, beberapa tradisi di lingkungan istana mulai luntur. Tradisi keagamaan rakyat pun mulai terancam pula. Di kalangan penguasa timbul kekhawatiran bahwa pengaruh kehidupan Barat mulai merusak nilai-nilai kehidupan tradisional. Tantangan yang kuat terutama dari kalangan pimpinan agama yang memandang kehidupan Barat bertentangan dengan norma-norma ajaran agama Islam. Orientasi keagamaan seperti ini, terdapat juga di kalangan para bangsawan dan pejabat-pejabat istana yang patuh kepada agama. Dalam suasana kritis, pandangan keagamaan ini dijadikan dasar ajakan untuk melakukan perlawanan.



Perubahan dalam berbagai segi kehidupan sebagai akibat makin meluasnya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia menimbulkan kegelisahan, kekecewaan, dan kebencian yang meluas di kalangan rakyat Indonesia. Itulah sebabnya pada abad ke-19 muncul perlawanan-perlawanan besar di seluruh wilayah Indonesia.


Bidang Politik
1.       Pamong Praja yang dulu berdasarkan garis keturunan diubah menjadi sistem kepegawaian.

2.       Jawa menjadi pusat pemerintahan dan membaginya menjadi wilayah perfektur

3.       Hukum yang dulu menngunakan hukum adat diubah menggunakan sistem barat modern.

4.       Kebijakan yang yang diambil raja dicampuri Belanda

·         Bidang Ekonomi

1.       Belanda membuka tambang minyak bumi di Tarakan Kalimantan Timur

2.       Belanda membangun rel kereta ap untuk memperlancar arus perdagangan.

3.       Liberalisme ekonomi

·         Bidang sosial

             1.Pembentukan status sosial dimana yang tertinggi adalah orang Eropa,Asia Timur jauh baru kaum pribumi.

             2.Struktur penguasa lokal lenyap.

·         Bidang Budaya

1.       Westernisasi menyebar lewat jalur pendidikan dan pemerintahan.

2.       Birokrat menggunaka bahasa Belanda sebagai simbol status mereka

3.       Masuknya agama katholik dan Protestan

No comments: