Saturday, 11 October 2014

Badan Usaha Menurut jumlah Pekerja


1.      Pengertian Usaha
Usaha adalah kegiatan yang dilakukan manusia untuk mendapatkan penghasilan, baik berupa uang, barang mapun jasa yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup guna mencapai kemakmuran.
2.      Pengertian Perusahaan
Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia menggunakan barang dan jasa yang merupakan hasil kegiatan produksi. Kegiatan produksi yang dilakukan secara terorganisir dengan menggunakan faktor-faktor produksi umumnya dilakukan oleh perusahaan. Dengan demikian perusahaan diartikan sebagai bagian teknis dari kesatuan organisasi modal dan tenaga kerja yang bertujuan menghasilkan barang-barang atau jasa.
3.      Pengertian Badan Usaha
Badan Usaha merupakan kesatuan yuridis dan ekonomis dari faktor-faktor produksi yang bertujuan mencari laba atau memberi layanan kepada masyarakat. Disebut kesatuan yuridis karena badan usaha umumnya berbadan hukum. Disebut kesatuan ekonomis karena factor-faktor produksi yang terdiri dari asas sumber daya alam, modal, dan tenaga kerja dikombinasikan untuk mendapat laba atau memberi layanan kepada masyarakat.
Pengelompokan badan usaha menurut banyaknya pekerja terdiri atas sebagai berikut.
1) Perusahaan Kecil
Perusahaan kecil adalah perusahaan yang memiliki tenaga antara 5–19 orang. Biasanya kamu akan menjumpai perusahaan ini ketika melihat sebuah industri rumah tangga. Adakah industri rumah tangga di daerah sekitarmu? Perusahaan ini dipimpin dan dikelola oleh pemiliknya sendiri serta dibantu beberapa karyawan atau anggota keluarganya sendiri. Perusahaan ini biasanya didirikan dalam bentuk badan usaha perseorangan.
2) Perusahaan Sedang
Perusahaan sedang adalah perusahaan yang memiliki tenaga kerja antara 20–99 orang. Pengelolaan usaha ini sudah lebih baik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Perusahaan ini sudah menggunakan jasa orang lain untuk membantu mengelola usahanya walaupun pemiliknya tetap aktif ikut dalam mengelola perusahaan tersebut.
3) Perusahaan Besar
Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki tenaga kerja lebih dari 100 orang. Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi yang besar. Oleh karena jumlah karyawan dan hasil produksinya sangat besar, pengelolaan perusahaan ini sudah menerapkan sistem manajemen yang rapi dan profesional. Jadi, dalam perusahaan terdapat pembagian kerja atau spesialisasi.
READ MORE →

Wednesday, 24 September 2014

Sistim Sewa Tanah Dan Sistim Tanah paksa

I.   Sistim Sewa Tanah
Kemenangan Inggris dalam perang melawan Belanda-Prancis, menandai berakhirnya kekuasaan Belanda di Nusantara. Kekuasaan Inggris di Indonesia mencakup Jawa, Palembang, Banjarmasin, Makassar, Madura, dan Sunda Kecil. Pusat pemerintahan Inggris atas Indonesia berkedudukan di Madras, India dengan Lord Minto sebagai gubernur jenderal. Daerah bekas jajahan Belanda dipimpin oleh seorang letnan gubernur yang bernama Stamford Raffles (1811-1816).

Selama pemerintahannya Raffles banyak melakukan pembaharuan yang bersifat liberal di Indonesia. Pembaharuan yang dilakukan Raffles di Indonesia secara teoritis mirip dengan pemikiran Dirk van Hogendorp pada tahun 1799. Inti dari pemikiran kedua orang tersebut adalah kebebasan berusaha bagi setiap orang, dan pemerintahan hanya berhak menarik pajak tanah dari penggarap. Pemerintahan dijalankan untuk mencapai kesejahteraan umum, dan kesadaran baru bahwa baik serikat dagang, terlebih kekuasaan negara tidak mungkin bertahan hidup dengan memeras masyarakatnya.

Gagasan Raffles mengenai sewa tanah ini dilatar belakangi oleh keadaan Jawa yang tidak memuaskan dan tidak adanya kebebasan berusaha. Gagasan dan cita-cita Raffles merupakan pengaruh dari Revolusi Perancis yaitu prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan yang semula tidak ada pada masa Belanda. Pada masa pemerintahan Belanda, para pedagang pribumi dan Eropa mengalami kesulitan dalam hal berdagang. Hal ini disebabkan oleh adanya sistem monopoli yang diterapkan pemerintah Belanda. Sistem monopoli yang diterapkan oleh pemerintahan Belanda ini pada masa Raffles diganti dengan perdagangan bebas.

Selain itu adanya paksaan dari pemerintah Belanda kepada para petani untuk menyediakan barang dan jasa sesuai kebutuhan Belanda, mengakibatkan matinya daya usaha rakyat. Oleh karena itu, pada masa Raffles inilah masyarakat diberi kebebasan bekerja, bertanam, dan penggunaan hasil usahanya sendiri. Pada masa Raffles para petani diberi kebebasan untuk menentukan jenis tanaman apa yang akan ditanam.

Tidak adanya kepastian hukum pada masa pemerintahan Belanda, telah mengakibatkan terjadinya kekacauan di berbagai daerah. Tidak adanya perlindungan hukum untuk para para penduduk mengakibatkan adanya sikap sewenang-wenang para penguasa pribumi. Tidak adanya jaminan bagi para petani mengakibatkan hilangnya dorongan untuk maju. Sesuai pernyataan Hogendorf, ia tidak percaya pendapat orang-orang Eropa tentang kemalasan orang Jawa, karena apabila diberi kebebasan menanam dan menjual hasilnya, petani-petani Jawa akan terdorong untuk menghasilkan lebih banyak dari pada yang dicapai dibawah masa Belanda.

Jika kebebasan dan kepastian hukum dapat diwujudkan, untuk mencapai kemakmuran orang-orang Jawa yang dahulunya tertindas akan dapat berkembang. Masyarakat pun dengan keinginannya sendiri akan menanam tanaman-tanaman yang diperlukan oleh perdagangan di Eropa. Semua ini pada akhirnya juga akan menguntungkan bagi perekonomian pihak Inggris.

Stelsel yang diterapkan pemerintah Belanda sangat ditentang oleh Raffles, hal ini dikarenakan munculnya penindasan dan menghilangkan dorongan untuk mengembangkan kerajinan. Secara makro kondisi ini akan menyebabkan rendahnya pendapatan negara atau negara mengalami kerugian. Pada hakikatnya pemerintahan Raffles menginginkan terciptanya suatu sistem ekonomi di Jawa yang bebas dari segala unsur paksaan yang dahulu melekat pada sistem penyerahan paksa dan pekerjaan rodi yang dijalankan pemerintah Belanda.


Dalam pemerintahannya, Raffles menghendaki adanya sitem sewa tanah atau dikenal jugadengan sistem pajak bumi dengan istilah landrente. Dalam usahanya untuk melaksanakan sisten sewa tanah ini Raffles berpegang pada tiga azas, yaitu:
1.    Segala bentuk dan jenis penyerahan wajib maupun pekerjaan rodi perlu dihapuskan dan rakyat tidak dipaksa untuk menanam satu jenis tanaman, melainkan mereka diberi kebebasan untuk menentukan jenis tanaman apa yang akan ditanam.
2.    Pengawasan tertinggi dan langsung dilakukan oleh pemerintah atas tanah-tanah dengan menarik pendapatan atas tanah-tanah dengan menarik pendapatan dan sewanya tanpa perantara bupati-bupati, yang dikerjakan selanjutnya bagi mereka adalah terbatas pada pekerjaan-pekerjaan umum
3.    Menyewakan tanah-tanah yang diawasi pemerintah secara langsung dalam persil-persil besar atau kecil, menurut keadaan setempat, berdasarkan kontrak-kontrak untuk waktu yang terbatas.

Adanya suatu aparatur pemerintahan yang terdiri dari orang-orang Eropa dan mengesampingkan peranan penguasa pribumi (para bupati), menurut Raffles hal ini adalah salah satu tindakan penghapusan feodalisme Jawa. Para bupati dialih fungsinya menjadi pengawas ketertiban dan tidak boleh ikut dalam pemungutan pajak tanah (landrente). Tentang persewaan tanah, menurut Raffles pemerintah (gubernemen) sebagai pengganti raja-raja Indonesia merupakan pemilik semua tanah-tanah sehingga dengan demikian mereka boleh menyewakan tanah-tanah tersebut, yaitu dengan menuntut sewa tanah berupa pajak tanah maka pendapat negara akan baik.

Untuk menentukan besarnya pajak, tanah dibagi menjadi tiga kelas,yaitu:
1.    Kelas I, yaitu tanah yang subur, dikenakan pajak setengah dari hasil bruto.
2.    Kelas II, yaitu tanah setengah subur, dikenakan pajak sepertiga darihasil bruto.
3.    Kelas III, yaitu tanah tandus, dikenakan pajak dua per lima dari hasil bruto.


A. PELAKSANAAN SEWA TANAH
Sewa tanah diperkenalkan di Jawa semasa pemerintahan peralihan Inggris (1811-1816) oleh Gubernur Jenderal Stamford Raffles, yang banyak menghinpun gagasan sewa tanah dari sistem pendapatan dari tanah India-Inggris. Sewa tanah didasarkan pada pemikiran pokok mengenai hak penguasa sebagai pemilik semua tanah yang ada.

Thomas Stamford Raffles menyebut Sistem Sewa tanah dengan istilah landrente. Peter Boomgard (2004:57) menyatakan bahwa: Kita perlu membedakan antara landrente sebagai suatu pajak bumi atau lebihtepat pajak hasil tanah, yang diperkenalkan tahun 1813 dan masih terus dipungut pada akhir periode colonial, dan andrente sebagai suatu sistem (Belanda: Landrente Stelsel), yang berlaku antara tahun 1813 sampai 1830.

Tanah disewakan kepada kepala-kepala desa di seluruh Jawa yang pada gilirannya bertanggungjawab membagi tanah dan memungut sewa tanah tersebut. sistem sewa tanah ini pada mulanya dapat dibayar dengan uang atau barang, tetapi selanjutnya pembayarannya menggunakan uang. Gubernur Jenderal Stamford Raffles ingin menciptakan suatu sistem ekonomi di Jawa yang bebas dari segala unsur paksaan, dan dalam rangka kerjasama dengan raja-raja dan para bupati.

Kepada para petani, Gubernur Jenderal Stamford Raffles ingin memberikan kepastian hukum dan kebebasan berusaha melalui sistem sewa tanah tersebut. Kebijakan Gubernur Jenderal Stamford Raffles ini, pada dasarnya dipengaruhi oleh semboyan revolusi Perancis dengan semboyannya mengenai “Libertie (kebebasan), Egaliie (persamaan), dan Franternitie (persaudaraan)”. Hal tersebut membuat sistem liberal diterapkan dalam sewa tanah, di mana unsur-unsur kerjasama dengan raja-raja dan para bupati mulai diminimalisir keberadaannya.

Sehingga hal tersebut berpengaruh pada perangkat pelaksana dalam sewa tanah, di mana Gubernur Jenderal Stamford Raffles banyak memanfaatkan colonial (Inggris) sebagai perangkat (struktur pelaksana) sewa tanah, dari pemungutan sampai pada pengadministrasian sewa tanah. Meskipun keberadaan dari para bupati sebagai pemungut pajak telah dihapuskan, namun sebagai penggantinya mereka dijadikan bagian integral (struktur) dari pemerintahan colonial, dengan melaksanakan proyek-proyek pekerjaan umum untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.

Tiga aspek pelaksanaan sistem sewa tanah:
1.    Penyelenggaraan sistem pemerintahan atas dasar modern
Pergantian dari sistem pemerintahan yang tidak langsung yaitu pemerintahan yang dilaksanakan oleh para raja-raja dan kepala desa. Penggantian pemerintahan tersebut berarti bahwa kekuasaan tradisional raja-raja dan kepala tradisional sangat dikurangi dan sumber-sumber penghasilan tradisional mereka dikurangi ataupun ditiadakan. Kemudian fungsi para pemimpin tradisional tersebut digantikan oleh para pegawai-pegawai Eropa.
2.    Pelaksanaan pemungutan sewa
Pelaksanaan pemungutan sewa selama pada masa VOC adalah pajak kolektif, dalam artian pajak tersebut dipungut bukan dasar perhitungan perorangan tapi seluruh desa. Pada masa sewa tanah hal ini digantikan menjadi pajak adalah kewajiban tiap-tiap orang bukan seluruh desa.
3.    Pananaman tanaman dagangan untuk dieksport
Pada masa sewa tanah ini terjadi penurunan dari sisi ekspor, misalnya tanaman kopi yang merupakan komoditas ekspor pada awal abad ke-19 pada masa sistem sewa tanah mengalami kegagalan, hal ini karena kurangnya pengalaman para petani dalam menjual tanaman-tanaman mereka di pasar bebas, karena para petani dibebaskan menjual sendiri tanaman yang mereka tanam.

Dua hal yang ingin dicapai oleh raffles melalui sistem sewa tanah ini adalah:
1.    Memberikan kebebasan berusaha kepada para petani Jawa melalui pajak tanah.
2.    Mengefektifkan sistem administrasi Eropa yang berarti penduduk pribumi akan mengenal ide-ide Eropa mengenai kejujuran, ekonomi, dan keadilan.
II.            Sistim Tanam Paksa
Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Sistem Budi Daya) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa, adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.
Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda pada 1835 hingga 1940.
Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.
Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.
Berikut adalah isi dari aturan tanam paksa
•    Tuntutan kepada setiap rakyat Indonesia agar menyediakan tanah pertanian untuk cultuurstelsel tidak melebihi 20% atau seperlima bagian dari tanahnya untuk ditanami jenis tanaman perdagangan.
•    Pembebasan tanah yang disediakan untuk cultuurstelsel dari pajak, karena hasil tanamannya dianggap sebagai pembayaran pajak.
•    Rakyat yang tidak memiliki tanah pertanian dapat menggantinya dengan bekerja di perkebunan milik pemerintah Belanda atau di pabrik milik pemerintah Belanda selama 66 hari atau seperlima tahun.
•    Waktu untuk mengerjakan tanaman pada tanah pertanian untuk Culturstelsel tidak boleh melebihi waktu tanam padi atau kurang lebih 3 (tiga) bulan
•    Kelebihan hasil produksi pertanian dari ketentuan akan dikembalikan kepada rakyat
•    Kerusakan atau kerugian sebagai akibat gagal panen yang bukan karena kesalahan petani seperti bencana alam dan terserang hama, akan di tanggung pemerintah Belanda
•    Penyerahan teknik pelaksanaan aturan tanam paksa kepada kepala desa
Dampak-Dampak dalam Sistem Tanam Paksa :
•         Dalam bidang pertanian
Cultuurstelsel menandai dimulainya penanaman tanaman komoditi pendatang di Indonesia secara luas. Kopi dan teh, yang semula hanya ditanam untuk kepentingan keindahan taman mulai dikembangkan secara luas. Tebu, yang merupakan tanaman asli, menjadi populer pula setelah sebelumnya, pada masa VOC, perkebunan hanya berkisar pada tanaman "tradisional" penghasil rempah-rempah seperti lada, pala, dan cengkeh. Kepentingan peningkatan hasil dan kelaparan yang melanda Jawa akibat merosotnya produksi beras meningkatkan kesadaran pemerintah koloni akan perlunya penelitian untuk meningkatkan hasil komoditi pertanian, dan secara umum peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian. Walaupun demikian, baru setelah pelaksanaan UU Agraria 1870 kegiatan penelitian pertanian dilakukan secara serius.


•         Dalam bidang sosial
•         Dalam bidang pertanian, khususnya dalam struktur agraris tidak mengakibatkan adanya perbedaan antara majikan dan petani kecil penggarap sebagai budak, melainkan terjadinya homogenitas sosial dan ekonomi yang berprinsip pada pemerataan dalam pembagian tanah. Ikatan antara penduduk dan desanya semakin kuat hal ini malahan menghambat perkembangan desa itu sendiri. Hal ini terjadi karena penduduk lebih senang tinggal di desanya, mengakibatkan terjadinya keterbelakangan dan kurangnya wawasan untuk perkembangan kehidupan penduduknya.

•         Dalam bidang ekonomi
•         Dengan adanya tanam paksa tersebut menyebabkan pekerja mengenal sistem upah yang sebelumnya tidak dikenal oleh penduduk, mereka lebih mengutamakan sistem kerjasama dan gotongroyong terutama tampak di kota-kota pelabuhan maupun di pabrik-pabrik gula. Dalam pelaksanaan tanam paksa, penduduk desa diharuskan menyerahkan sebagian tanah pertaniannya untuk ditanami tanaman eksport, sehingga banyak terjadi sewa menyewa tanah milik penduduk dengan pemerintah kolonial secara paksa. Dengan demikian hasil produksi tanaman eksport bertambah,mengakibatkan perkebunan-perkebunan swasta tergiur untuk ikut menguasai pertanian di Indonesia di kemudian hari.
•         Akibat lain dari adanya tanam paksa ini adalah timbulnya “kerja rodi” yaitu suatu kerja paksa bagi penduduk tanpa diberi upah yang layak, menyebabkan bertambahnya kesengsaraan bagi pekerja. Kerja rodi oleh pemerintah kolonial berupa pembangunan-pembangunan seperti; jalan-jalan raya, jembatan, waduk, rumah-rumah pesanggrahan untuk pegawai pemerintah kolonial, dan benteng-benteng untuk tentara kolonial. Di samping itu, penduduk desa se tempat diwajibkan memelihara dan mengurus gedung-gedung pemerintah, mengangkut surat-surat, barang-barang dan sebagainya. Dengan demikian penduduk dikerahkan melakukan berbagai macam pekerjaan untuk kepentingan pribadi pegawai-pegawai kolonial dan kepala-kepala desa itu sendiri.

READ MORE →

Wednesday, 3 September 2014

Kolonialisme Dan Imperialisme Barat Di Indonesia

   Kolonialisme berasal dari kata colunus (colonia) yang berarti suatu usaha untuk untuk mengembangkan kekuasaan suatu negara diluar wilayah negara tersebut. Kolonialisme pada umumnya bertujuan untuk mencapai dominasi ekonomi atas sumber daya, manusia, dan perdagangan di suatu wilayah. Wilayah koloni umumnya adalah daerah-daerah yang kaya akan bahan mentah untuk keperluan negara yang melakukan kolonialisme.



Imperialisme adalah usaha memperluas kekuasaan suatu negara untuk menguasai negara lain. Imperialisme dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu imperialisme kuno dan imperialisme modern. Imperialisme kuno berlangsung sebelum revolusi industri dan bertujuan untuk memiliki kekayaan (gold), mencapai kejayaan (glory), dan menyebarkan agama (gospel). Spanyol dan portugis adalah negara yang menjalankan imperialisme kuno. Sementara Inggris merupakan negara yang menganut imperialisme modern.



A.       Dampak Sosial, Ekonomi, Budaya keberadaan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia



Praktek imperialisme dan kolonialisme di Indonesia mempunyai dampak yang sangat besar bagibangsa Indonesia. Bukan hanya mengakibatkan terjadinya penderitaan dan kesengsaraan fisik, tetapi juga psikhis, bahkan akibatnya terasa hingga saat ini. Selain mengakibatkan penderitaan dankesengsaraan, imperialisme barat juga meninggalkan kosakata, budaya, marga, sarana jalan danbeberapa pabrik gula, dan aturan perundangan.

Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonialsangat dipengaruhi oleh sistem kolonial yang diterapkan oleh pemerintahan Hindia Belanda.Setelah sistem tanam paksa dihapuskan pada tahun 1870 pemerintah kolonial menerapkansistem ekonomi baru yang lebih liberal.

Sistem tersebut ditandai dengan dikeluarkannya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Menurut undang-undang tersebut penduduk pribumi diberi hak untukmemiliki tanah dan menyewakannya kepada perusahaan swasta. Tanah pribadi yang dikuasai rakyatsecara adat dapat disewakan selama 5 tahun. Sedangkan tanah pribadi dapat disewakan selama 20tahun. Para pengusaha dapat menyewa tanah dari guberneman dalam jangka 75 tahun. Dalam jangkapanjang, akibat sistem sewa tersebut tanah yang disewakan cenderung menjadi milik penyewa. Apabilapada masa sistem tanam paksa perekonomian dikelola oleh negara maka sejak Undang-undang Agraria1870 kegiatan ekonomi lebih banyak dijalankan oleh swasta.Nilai-nilai kapitalisme mulai masik ke dalam struktur masyarakat Indonesia. Komersialisasi telahmenggantikan sistem ekonomi tradisional. Nilai uang telah menggantikan satuan ekonomi tradisionalyang selama ini dijalankan oleh masyarakat pedesaan.

Masalah sistem perburuhan dikeluarkan aturanyang ketat. Tahun 1872 dikeluarkan Peraturan Hukumam Polisi bagi buruh yang meninggalkan kontrakkerja. Pada tahun 1880 ditetapkan Koeli Ordonanntie yang mengatur hubungan kerja antara koeli(buruh) dengan majikan,terutama di daerah perkebunan di luar Jawa. Walaupun wajib kerja dihapuskansesuai dengan semangat liberalisme, pemerintah kolonial menetapkan pajak kepala pada tahun 1882.Pajak dipungut dari semua warga desa yang kena wajib kerja. Pajak tersebut dirasakan oleh rakyat lebihberat dibandingkan denganwajib kerja.

Proses interaksi kekuasaan antara negara-negara tradisional (kerajaan) milik pribumi dan kekuasaan Belanda pada abad ke-19 menunjukkan dua perkembangan yang sangat berbeda. Di satu pihak, tampak makin meluasnya kekuasaan kolonial dan imperialiasme Belanda. Di lain pihak terlihat makin merosotnya kekuasaan tradisional milik pribumi. Meluasnya kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia membawa akibat terhadap perubahan dalam berbagai segi kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya.



Dalam bidang politik, pengaruh kekuasaan Belanda semakin kuat karena intervensi yang intensif dalam masalah-masalah istana, seperti pergantian takhta, pengangkatan pejabat-pejabat keraton, ataupun partisipasinya dalam menentukan kebijaksanaan pemerintahan kerajaan. Dengan demikian, dalam bidang politik penguasa-penguasa pribumi makin tergantung pada kekuasaan asing sehingga kebebasan dalam menentukan kebijaksaan pemerintahan istana makin menipis. Di samping itu, aneksasi wilayah yang dilakukan oleh penguasa asing mengakibatkan makin menyempitnya wilayah kekuasaan pribumi. Penghasilan yang berupa lungguh, upeti atau hasil bumi makin berkurang, bahkan hilang sebab kedudukannya telah berganti sebagai alat pemerintah Belanda.



Dalam bidang ekonomi, penghasilan penguasa pribumi makin berkurang. Sudah pasti keadaan ini akan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan para penguasa pribumi. Di pihak rakyat, khususnya para petani dibebani kewajiban untuk mengolah sebagian tanahnya untuk ditanami dengan tanaman-tanaman eskpor dan masih harus menyumbangkan tenaganya secara paksa kepada pemerintah kolonial. Hal inilah yang mengakibatkan runtuhnya perekonomian rakyat

Akibat Politik dan Ekonomi



Ø  Negara imperialis menjadi pusat kekayaan sedangkan negara jajahan menjadi bertambah miskin.

Ø  Hasil industri dipasarkan ke daerah jajahan.

Ø  Munculnya investasi swasta Perdagangan dunia meluas sebagai akibat meningkatnya lalu lintas perdagangan internasional



Di bidang demografi (kependudukan), berdasarkan sensus Raffles (buku History of Java tulisan Raffles) bahwa pada tahun 1815 jumlah pendudukan Jawa mencapai 4,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut lebih dari 1,5 hidup di daerah kerajaan dan kirakira 3 juta ada di daerah yang langsung diperintah oleh pemerintah kolonial.



Sejak akhir abad ke-19 telah terjadi mobilitas dalam masyarakat, baik secara geografis maupun sosiologis. Dalam pengertian geografis bahwa perpindahan tempat tinggal dan kerja makin lama makin sering dilakukan. Transmigrasi, migrasi intern, dan urbanisasi menunjukkan adanya keinginan untuk keluar dari lingkungan hidup yang lama. Hal itu karena pengaruh penetrasi ekonomi asing dan kerapatan penduduk, mobilitas dalam kerja terjadi pula. Sebagian dari masyarakat tani beralih kerja menjadi pedagang, meskipun secara kecil-kecilan. 



Demikian juga jenis pekerjaan tukang dan pelayanan lainnya bertambah banyak pula. Peralihan kerja dan perpindahan ke tempat lain, ada yang membawa dampak ke kehidupan sosial. Orang yang pindah ke kota dan mendapat pekerjaan yang baik, akan naik harganya di mata masyarakat. Demikian pula jika seseorang sukses dalam usahanya. Dengan demikian terjadilah semacam mobilitas sosial vertikal.



Dalam perkembangannya, pada tahun 1900 penduduk Jawa telah mencapai hampir 28,5 juta jiwa. Perkembangan penduduk di Jawa pada abad ke-19 dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain terjadinya peningkatan hidup dari penduduk pribumi,meluasnya pelayanan kesehatan ( introduksi vaksinasi cacar), dan perwujudan ketertiban dan perdamaian oleh pemerintah Belanda.



Dalam bidang sosial, perluasan kolonialisme dan imperialisme berakibat makin melemahnya kedudukan dan perekonomin penguasa pribumi. Penguasa pribumi lebih banyak ditugaskan untuk menggali kekayaan bumi Indonesia, seperti memungut pajak, mengurusi tanaman milik pemerintah, dan mengerahkan tenaga kerja untuk kepentingan pemerintah Belanda.Turunnya kedudukan penguasa pribumi mengakibatkan turunnya derajat dan kehormatan sebagai penguasa pribumi. 



Di bidang budaya, makin meluasnya pengaruh kehidupan Barat dalam lingkungan kehidupan tradisional. Tata kehidupan Barat seperti cara bergaul, gaya hidup, cara berpakaian dan pendidikan mulai dikenal di kalangan atas atau istana.



Sementara itu, beberapa tradisi di lingkungan istana mulai luntur. Tradisi keagamaan rakyat pun mulai terancam pula. Di kalangan penguasa timbul kekhawatiran bahwa pengaruh kehidupan Barat mulai merusak nilai-nilai kehidupan tradisional. Tantangan yang kuat terutama dari kalangan pimpinan agama yang memandang kehidupan Barat bertentangan dengan norma-norma ajaran agama Islam. Orientasi keagamaan seperti ini, terdapat juga di kalangan para bangsawan dan pejabat-pejabat istana yang patuh kepada agama. Dalam suasana kritis, pandangan keagamaan ini dijadikan dasar ajakan untuk melakukan perlawanan.



Perubahan dalam berbagai segi kehidupan sebagai akibat makin meluasnya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia menimbulkan kegelisahan, kekecewaan, dan kebencian yang meluas di kalangan rakyat Indonesia. Itulah sebabnya pada abad ke-19 muncul perlawanan-perlawanan besar di seluruh wilayah Indonesia.


Bidang Politik
1.       Pamong Praja yang dulu berdasarkan garis keturunan diubah menjadi sistem kepegawaian.

2.       Jawa menjadi pusat pemerintahan dan membaginya menjadi wilayah perfektur

3.       Hukum yang dulu menngunakan hukum adat diubah menggunakan sistem barat modern.

4.       Kebijakan yang yang diambil raja dicampuri Belanda

·         Bidang Ekonomi

1.       Belanda membuka tambang minyak bumi di Tarakan Kalimantan Timur

2.       Belanda membangun rel kereta ap untuk memperlancar arus perdagangan.

3.       Liberalisme ekonomi

·         Bidang sosial

             1.Pembentukan status sosial dimana yang tertinggi adalah orang Eropa,Asia Timur jauh baru kaum pribumi.

             2.Struktur penguasa lokal lenyap.

·         Bidang Budaya

1.       Westernisasi menyebar lewat jalur pendidikan dan pemerintahan.

2.       Birokrat menggunaka bahasa Belanda sebagai simbol status mereka

3.       Masuknya agama katholik dan Protestan
READ MORE →

Friday, 29 August 2014

LN Sword Art Online 2 (Bab 7)

Bab 7

Ada perasaan aneh di jari telunjuk tangan kanannya, menyebabkan Shino mengerutkan dahinya. Menggosok dengan jempolnya dengan maksud menenangkan iritasi tersebut, tidak dapat menenangkan dari perasaan tersebut.
Dia tahu alasannya.
Itu adalah salah dari Kirito, pemuda sombong, kasar dan pemula. Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengepal tangan kanannya. Normalnya ini mustahil dan dia menegerti apa yang ada di kepalanya. Sinon sekarang FullDive di dunia virtual dengan AmuSphere, tidak peduli berapa lama dia mengepal tangannya, aliran darah di tubuhnya atau sarafnya takkan terganggu. Semua sensasi di dunia virtual hanya akan dikirim ke otak oleh mesin dengan sinyal virtual.
――――Tapi.
Sekarang, tangan kanan Shino masih merasakan tekanan dan kehangatan yang sangat kuat dari tangan pengguna light saber, meskipun itu telah dua jam berlalu.
Menyerah untuk menghapus perasaan itu, Shino mengembalikan tangannya untuk memegang anti-material sniper riffle. Pada pegas yang ringan di pelatuk, dengan lembut dia memasukkan jarinya disana. Pegangan senjata kesayangannya «Hecate II» yang telah melewati banyak pertempuran bersamanya seperti bagian tubuhnya, tapi perasaan aneh itu tidaklah hilang.
Sinon telah bersembunyi di semak kecil di atas bukit menunggu kesempatan untuk membidik.
Arenanya adalah «Wilderness at the Crossroads». Topografi dari daerah itu adalah tempat yang gersang dengan dua jalan yang membelah arena. Musuhnya adalah «Stinger». BoB selection F Block, pertemputan kelima jadi ini adalah semi-final, dan duapuluh menit telah berlalu sejak pertandingan ini dimulai.
Jika dia menang di pertandingan ini maka, tanpa peduli hasil pertandingan selanjutnya, dia dapat mengikuti pertandingan utama BoB battle royale yang dijadwalkan besok, Minggu malam. Tapi untuk menang di pertandingan ini, Stinger pasti juga sangat kuat.
Meskipun namanya seperti itu, dia tidak memakai perlengkapan surface-to-air missile launcher «Stinger»[1]. Senjata utamanya adalah «FN • SCAR» carbine rifle, dengan perawatan yang baik. Dia juga memakai ACOG scope untuk meningkatkan akurasinya. Jadi jika mereka saling melihat dalam jarak dekat, Shino tidak mungkin untuk menang.
Beruntunglah, arena itu, ada empat blok yang dipisahkan oleh jalan, kau harus melewati jalan tengah untuk mencapai tempat lain. Ketika kedua pemain muncul di peta, mereka akan ditaruh dengan jarak minimal 500m, karena itu mustahil ada pemain di blok yang sama.
Dengan kata lain, jika Stinger ingin mencapai jangkauan Shino untuk membidik dengan SCAR, meskipun dia tahu untuk melewati jalan utama, dia harus menerobosnya, dengan kata lain Shino harus berhasil menyerangnya ketika dia di jalan.
Dengan pilihan ini, Stinger mencoba untuk menghabiskan waktu sebelum dia menerobos, strategi untuk membuat Shino kelelahan.
Meskipun begitu Shino tidak mengabaikan kemungkinan dia bergerak lebih awal, jadi dia tidak punya pilihan lain selain merenggakan sarafnya sampai batasnya dan berkosentrasi melihat pemandangan ini.
Sekarang, dari titik A sampai O dengan kemungkinan kelelahan menunggu terbagi menjadi 15 blok, lebih dari separuh dari mereka menentukan pertandingan mereka selesai, jadi 10 pertandingan yang lain diadakan dalam waktu yang sama. Di Standby Room, lobi lantai pertama, atau bar di sisi jalan, kau dapat menonton semua pertandingan. Focus di Sinon dan Stinger yang merasa penonton sudah sangat bosan. Sampai sekarang keduanya belum menembak peluru.
Di sisi lain bersamaan dengan semi-final grup F, ada sebuah pertempuran yang pasti tidak membosankan, pertempuran yang dilakukan dengan cara mencolok.
Alasannya adalah satu dari mereka spesialis jarak dekat dengan dua machinegun, sedangkan yang lain menggunakan senjata dengan jangkauan terpendek– pengguna light saber bertempur.
Sekarang dia tidak boleh kehilangan kosentrasi. Meskipun dia mengerti itu, pikirannya kembali kepada gadis misterius berambut hitam, tidak laki-laki.
Pertempuran yang pertama memakan waktu sebanyak sepuluh menit, dan ketika dia kembali ke Standby Room, orang pertama yang ditemuinya adalah Spiegel ―― Shinkawa Kyouji dan ucapan selamatnya. Setelah mengucapkan selamat dan terima kasih, Shino kembali ke tempat duduknya. Kemunculan Kirito membuatnya terkejut. Ini tidak mungkin. Dia tidak menyangka dia akan menang dan kembali lebih cepat dari darinya. 'Hmm, kau sedikit berbakat.' Dia berjalan ke arahnya sambil berpikir mengatakan hal itu, Sinon terkejut oleh hal lain.
Sebelum bertanding, Kirito memiliki sikap yang sangat santai, namun sekarang dia duduk di kursi sambil memegang lututnya, kepalanya menunduk dan bahunya gemetar.
... ...Dia menang. Apakah bertarung dengan musuh yang memakai senjata api menakutkan?
Memikirkan tentang itu, Shino tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk memegang bahunya yang terbungkus baju kamuflase berwarna pola malam.
Tiba-tiba, tubuh Kirito bergetar karena terkejut, dengan tindakan yang hanya dilakukan hati-hati, dia melihat ke atas.
Sinon tahu siapapun yang tidak tahu tentang dia akan berpikir dia adalah perempuan, dengan wajah yang manis dan wajah yang terlihat pintar dari avatarnya ―― pandangannya sepeerti melihat neraka, dipenuhi ketakutan.
"... ...Kenapa kau berwajah seperti itu?"
Sinon tanpa sadar berbisik, mendengar kata itu, Kirito berkedip sesaat dan mengganti wajahnya menjadi senyuman.
Tidak ada yang salah, Kirito menjawab dengan suara lemah, dan Sinon menanyakan apakah pertarungan pertamanya sulit. Tapi, wajahnya tersembunyi di balik avatar gadis berambut panjang berwarna hitam, dan dia tidak menjawab apapun.
Dia bukan musuh yang dia harus terlibat hal di luar itu.
Kirito seharusnya tahu Sinon telah salah mengartikan gendernya. Tapi dia tidak sengaja untuk tidak menjelaskan kesalapahaman itu dan membiarkan Sinon menunjukkan jalannya, membantu dia untuk berbelanja, dan akhirnya membawa dia ke ruang ganti yang sama. Tentu saja, dia mengira dia perempuan, dan itu salahnya karena tidak menanyakan kartu namanya. Karenanya setengah dari kemarahan Shino ditunjukkan kepada dirinya sendiri.
Di dunia nyata, meskipun dia dipermainkan oleh temannya, dia telah memutuskan di hatinya untuk tidak berteman dengan siapapun. Ketika dia bertemu pemain perempuan yang langka di GGO untuk menanyakan arah. Dia bahkan melupakan keputusannya.
Itu sangat menyenangkan. Ketika membawa dia ke toko untuk berbelanja dan menaiki kereta beroda tiga, Shino menyadari bahwa dia memberikan senyum paling tulus, sesuatu yang bahkan dia lakukan di GGO. Itu benar ―― Shino tidak benar-benar marah kepada Kirito karena dia laki-laki. Ketika dia bersama-samanya, dia menjadi lebih hati-hati, sesuatu yang tidak dapat dia maafkan untuk dirinya sendiri.
Karena itu, ketika dia tahu bahwa Kirito menang di putaran pertama, dia sangat senang.
Untuk bertemu dengannya di final, kemudian menembak wajahnya dengan peluru Hecate dan menjadi lebih kuat sebelum menghadapinya. Meskipun dia memiliki pikiran seperti itu, Kirito yang telah diambil alih oleh ketakutan seperti dia menjadi orang lain.
Shino berbicara tanpa sadar bercampur dengan kemarahan.
"Kau menjadi seperti ini karena satu pertandingan? Bertanding di final hanya seperti mimpi didalam mimpi. Bertahanlah... Aku... akan mengambil apa yang kau utangkan padaku."
Dia mengepalkan tangan kanannya dan sekali lagi menepuk pundak Kirito.
Tangannya tertutupi oleh dua tangan yang putih. Dia kemudian menariknya dengan kuat dan tanpa sadar tanganya terkena di dadanya.
"Hey, Hey... Apa yang kau lakukan!?"
Shino bereaksi dan menarik tanganya, tapi dia tidak pernah membayangkan bahwa tubuh Kirito memiliki STR yang sangat tinggi, dia memberitahu kepada tangannya.
Tanganya seperti es, dan Shino merasakan menyentuh tangannya membuat nafasnya dingin.
Pada saat itu, di penglihatan Shino muncullah tombol 'report sexual harassment'. Jika dia menekan tombol ini atau mengatakan "report," maka avatar Kirito akan dikirim ke penjara Gurokken dan, untuk waktu yang singkat, dia tidak dapat keluar. Tetapi, Shino tidak bergerak, dan dia tidak mengatakan apa-apa.
Melihat tangannya terkepal dan tubuh yang sedikit gemetar menghilang, Sinon merasakan perasaan deja vu. Dia pernah melihat gadis itu sebelumnya, dengan postur yang sama persis. Berpikir lebih lanjut, dia menyadari bahwa itu adalah dirinya.
Bukan Sinon the sniper, tapi Asada Shino dari dunia nyata. Itu seperti ketika Shino diliputi oleh ingatan yang buruk dipenuhi oleh bau darah dan mesiu, menangis meminta seseorang menyelamatkannya.
Menyadari di saat itu, Sinon tanpa sadar merilekskan tangan kanannya.
"............Kenapa kau............?"
Dia bertanya dengan lembut, tapi tidak ada jawabannya. Meski begitu Shino dapat merasakannya.
Menempelkan tangannya ke rambut hitam avatar itu ――tidak, di dalam avatar itu terdapat seseorang yang nama dan wajahnya dia tidak tahu mungkin terperangkap di kegelapan seperti Shino.
'Apa yang terjadi,' Sinon ingin bertanya.
Tapi sebelum itu, ada cahaya samar di sekitar tubuh Kirito, dan kemudian dia menghilang. Musuhnya telah ditetapkan, jadi dia dikirim ke bagian arena untuk pertandingan kedua.
Melihat seperti itu, dia mungkin tidak dapat bertarung dengan baik. Sinon berkata begitu dan menghela nafas.
Siapapun yang kalah akan kembali ke Hall daripada underground waiting area. Karena itu, bila Kirito kalah, hari ini atau dengan kata lain, dia mungkin tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.
Tentu saja, itu bukan hal besar. Mereka bahkan bukan teman, tetapi hanya akan pergi ke arah yang sama ke Government House. Setelah hari ini dia akan melupakan nama dan wajahnya.
- Seperti itu yang seharusnya.
Tapi pemikiran Shino yang paling gila, kedua, ketiga bahkan keempat pertandingan akan dimenangkan oleh Kirito hanya menggunakan lightsaber dan sebuah pistol.
Ketika Sinon menunggu untuk pertandingan selanjutnya, dia hanya memiliki kesempatan untuk melihat pertarungannya di monitor satu kali. Gaya bertarungnya adalah 'Last Stand' atau 'Banzai' dengan taktik bunuh diri. Menghadapi musuh dengan status AGI, dia menggunakan pistol FN Five-Seven, atas sugesti Shino, sebagai tembakan bantuan untuk serangan frontalnya. Dia menghiraukan peluru musuh yang mengenai armor dan menangkis yang mematikan, dan dengan itu. Dia dapat mengambil jarak dengan sekejap mata, kemudian memotong musuh bersama senjatanya.
Tidak ada seorangpun di pertandingan pertama dan kedua BoB bertempur dengan cara seperti ini. Di standby room, para penonton terkejut dan kagum, dan Sinon hanya dapat melihat dengan matanya.
Setelah momen tersebut, Kirito dapat dengan mudah masuk semifinal blok F. Tetapi menghadapi musuh yang tidak beralasan, bagaimana cara melawan dia melawannya?
Setelah melihat pertandingan Kirito, Sinon berpikir seolah itu semi-final telah dimulai, dan bagian dari pikirannya mempertimbangkan masalah ini. Di saat yang sama, dia tidak dapat berhenti untuk memikirkan pemain bernama Kirito.
Ketika berbelanja bersama, dia memberikan senyum penasaran. Ketika dia diketahui sebagai laki-laki, Kirito menunggunya untuk menyiksanya karena bersikap kurang ajar. Lalu setelah pertandingan pertama, memegang tangan Sinon, tubuhnya gemetar. Dan– dengan light sabernya, dia memotong musuhnya, seperti penampakan hantu.
Pada akhirnya yang mana benar-benar «Kirito»?
Dan kenapa dia terus memikirkan hal itu?
Menyadari bahwa dia kesal tanpa alasan, Shino menggigit bibirnya ketika mata kananya fokus pada high magnification scope. Pada saat itu-
Dari jarak yang cukup jauh, melihat jalan utama, dia melihat bayangan besar bergerak dari gunung.
Sinon dengan menyetel tembakan Hecate menjadi otomatis. Angin bertiup ke kiri dengan kecepatan 2,5m/ detik. Kelembapan 5%. Dia menaruh matanya ke scope dan membidik bayangan dan menunggu lingkaran peluru menyusut sebelum menembaknya tanpa ragu-ragu.
THUD –
Dari tempat itu, peluru kaliber 50 terbang menembus udara seperti lorong. Itu membuat seperti spiral yang mengarah sedikit ke bawah dan mengenai bayangan tersebut.
"... ...Di sana."
Sinon mengambil nafas sambil menekan pelatuk dari Hecate, mengkosongkan cartridge dan menaruh peluru selanjutnya di senjatanya. Bayangan yang jatuh bersama suara bukanlah Stinger. Melainkan sebuah batu dengan diameter 1m.
Pada saat berikutnya, di tempat yang sama, sebuah siluet yang besar menyerbu dari jejak debu dibelakang.
Sebuah kendaraan roda empat «Humvee». Benda itu bukanlah item yang pemain punya melainkan bonus dari suatu peta. Pemain yang pertama kali medapatkannya dapat menggunakannya. Itu seperti barang baru, kecuali kap di depannya - Sinon langsung mengerti, batunya telah dijatuhkan oleh mobil itu.
Stinger, orang yang seharusnya duduk di kursi pengemudi, tahu Hecate II Shino adalah bolt-action rifle dan tahu bahwa dia akan membidik di persimpangan yang harus dia lewati.
Jadi, dia menjatuhkan batu itu di persimpangan dengan Humvee untuk ditembak, dan ketika dia mengisi peluru, dia akan melewati persimpangan itu.
Ide itu benar. Faktanya kendaraan itu telah sampai di tengah persimpangan ketika dia mengisi peluru . Dia hanya memiliki satu kesempatan. Selain itu dia tidak memiliki waktu untuk membidik dengan benar.
Tetapi, Sinon tidak panik.
Stinger mengambil kesempatan dari kesalahan Sinon sebagai sniper, «No Bullet Line First Shot». Tapi sebagai gantinya, dia juga memberikan informasi. Di penglihatan Sinon jejak dari tembakannya telah menghilang. Selama dia tidak panik, dia dapat membuat peluru kedua terbang di tempat yang sama. Jika dia dapat menggunakan itu, maka dia mungkin mendapat akurasi yang tinggi dibanding tembakan pertama.
Setelah membuat sedikit penyesuaian dari senjatanya, Sinon menekan pelatuknya lagi. BOOM!
Peluru peluru kaliber 50 mengenai jendela pengemudi dan menembus kaca dengan mudahnya.
Kejadian berikutnya, kendaraan itu membuat lengkungan besar, pergi ke sisi jalan, dan kemudian menabrak ke sisi gunung. Dari mesin depan, api menyala.
"... ...Jika kau keluar dari mobil dan lari kau mungkin melihat garis peluru dan mungkin untuk menghindarinya ."
Sinon berbisik setelah memenangkan ronde ketiga. Menjaga scopenya di matanya, dia hanya melihat api dari Humvee. Tidak peduli berapa lama waktu dia menunggu, Stinger tidak muncul. Sepertinya dia mati di kursi penggemudi, tapi dia tetap di posisi menembak. Ketika udara malam menampilkan "CONGRATULATIONS" dengan kata berwarna, Sinon berdiri dari semak.
Waktu pertandingan, 19 menit and 15 detik. Semi-final selesai.
Dengan cara seperti ini, seperti yang dia rencanakan, dia mendapat tiket turnamen BoB. Tetapi dia tidak memiliki tanda kemenangan, bahkan senyumannya. Pikirannya hanya terpaku pada pertandingan blok F final.
Yang jadi misteri adalah Kirito, tidak diragukan lagi, menghabiskan waktu paling sedikit di semi-finalnya. Musuhnya menggunakan dua SMG[2]. Tidak peduli berapa banyak peluru dia tembakkan, jika dia membiarkan pengguna light saber itu mendekat, dia akan terkena serangan instant death[3] oleh pedang Kirito sebelum darahnya habis, Kirito setelah semuanya, dengan kecepatan yang mengagumkan, memiliki kemampuan «predict the trajectory prediction line». Kesempatan untuk menghentikannya dengan tembakan perlindungan dari M134 mini-gun, atau senjata sejenisnya.
Demikian, Shino dengan Hecate, menunggu dengan pelan transfer ke arena berikutnya.
Setelah beberapa detik, Shino tidak kembali ke standby room, tetapi langsung ke ruang persiapan final. Permukaan segi enam dari window di layar tertulis nama lawannya, dan pasti namanya adalah [Kirito].
Setelah transfer selanjutnya, dia membuka mata untuk melihat jalan yang meninggi serta lurus, dan matahari yang berdarah terbenam. Arena «Inter-Continental Highway». Meskipun tempat ini memiliki luas yang sama dengan sebelumnya, sekitar satu kilometer, sejak kau tidak dapat pergi ke perbukitan dari timur ke barat, kenyataannya, arenanya cukup ramping dan sederhana.
Namun, ada banyak reruntuhan mobil, truk bahkan helikopter, dan disana ada celah untuk naik dan turun, jadi dari sisi jalan, kau tidak dapat melihat sisi lainnya.
Sinon dengan cepat melihat ke belakang dan mengetahui bahwa dia sekarang berada di ujung sudut peta. Musuhnya adalah Kirito pasti ada di barat jalan, setidaknya 500m.
Dia melihat sekitar, lalu berlari ke jalan. Tujuannya adalah bus besar yang terparkir di pinggir jalan. Dari pintu semi otomatis menuju lantai dua. Dia tiarap di tengah lantai, mengambil Hecate II dari punggungnya. Dia membidik dengan moncong pistol di jendela di depan bus, mengambil posisi membidik, dan membalik scopenya dalam posisi membidik.
Matahari di depannya. Itu berarti, tidak peduli dia sembunyi, pantulan scopenya dari matahari akan menjadi bahaya membuatnya ketahuan. Seorang sniper dengan posisi ini dapat mudah ketahuan.
Tapi, di dalam bus, cermin kaca di depan akan menyembunyikan scopenya. Juga dari tingginya, dia dapat melihat hamper semua posisi di jalan tersebut.
Kirito mungkin mendekat dengan cepat dari satu gangguan ke gangguan lainnya. Dia tidak berpikir mengenainya dengan garis peluru. Kesempatannya, jika dia tahu lokasinya, itu adalah tembakan pertama.
'- Tembak dia. Aku harus.'
Mengukir keinginan yang kuat di hatinya, Sinon menaruh matanya di scope.
Kenapa dia ingin menang, dia tidak mengerti.
Memang, Sinon ditipu oleh Kirito untuk menyembunyikan gendernya ketika dia mengajaknya berkeliling dan membantunya membeli equipment. Lebih dari itu dia juga melihatnya ketika dia berganti baju.
Tetapi, meskipun dibilang begitu, itu bukan apa-apa tapi disbanding hal lain. Dia tidak kehilangan item, dan hanya baju dalam avatarnya yang terlihat. Dari pertemuan di jalan Gurokken, samapi perpisahan di standby room meskipun hanya sepuluh menit. Itu sulit dilupakan.
Tapi sekarang, semua pertarungan yang dia alami di GGO telah hilang dibanding keinginannya untuk mengalahkan Kirito. Ya - bahkan lebih dari pengguna minigun menakutkan, Behemoth. Untuk seorang yang baru hari ini tiba di GGO, dan lebih dari itu melawan pengguna light saber yang semua penembak menganggap lemah, kenapa dia melakukan sejauh itu...
'...Tidak.'
Tidak, mungkin dia telah mengetahui alasannya.
Itu karena, 'Aku tidak menganggap laki-laki ini musuhku di hatiku.' Ketika laki-laki itu duduk di kursi bergetar sementara tangan dinginnya memegang tangannya, dia mengetahui perasaan yang ada di hatinya.
Kasih sayang? Tidak.
Kasihan? Tidak.
Simpati ...? Tidak tentu saja tidak.
'Tidak ada seorangpun yang simpati padaku. Tidak ada seorangpun yang memiliki rasa sakit yang sama dengan diriku. Aku telah mencari seseorang seperti itu, Tapi pada akhirnya, dia hanya merasa terus, terus, terus, dikhianati.
Suatu hal yang dapat menyelamatkannya adalah kekuatannya. Karena mengerti hal itu maka dia ada disini.
Dia tidak ingin tahu tentang situasi Kirito dan tidak perlu tahu. Selama dia menembak avatar yang membuatnya bingung, dia akan menguburnya di daftar kill sejauh ini. Dan melupakannya.
Ini yang dia butuhkan untuk melakukannya.
Hati-hati namun sengaja, Sinon memfokuskan pikirannya dan melihat di scopenya, jarinya menggengam pelatuk.
Jadi-
Di latar belakang matahari terbenam muncullah bayangan, dengan sekejap Sinon lupa untuk mengontrol snipernya dan membuat suara.
"Apa..?"
Sebuah angin menerpa rambut hitamnya, baju camuflase menutupi tubuhnya, dan light saber ada di sabuknya. Tidak dipungkiri lagi itu Kirito.
Tetapi, dia tidak berlari. Dan sepertinya dia tidak ingin sembunyi. Dia di tengah jalan raya dengan garis sedikit terangkat, berjalan goyah. Itu sangat berlawanan dengan pertandingan sebelumnya, sebuah postur tanpa pertahanan.
'-Apakah dia mencoba mengatakan, bahkan tanpa garis peluru dia dapat menghindari tembakanku?'
Memikirkan ini, kemarahan ada di kepalanya sambil membidik kepala Kirito. Lalu Sinon menekan pelatuk-sebelum itu, dia sadar pemikiran sebelumnya adalah salah.
Kirito tidak melihat ke depan. Dia hanya menundukkan kepala, dengan tubuh gemetar hanya menyeret kakinya. Ini sangat terbalik dengan serangan "chased by ghosts" di pertandingan sebelumnya dan ini adalah kecepatan yang lemah.
Dengan dia seperti ini, menghindari tembakan Sinon sangat mustahil. Peluru Hecate II lebih cepat di banding kecepatan suara, dan itu sudah terlambat ketika kau mendengar suara tembakan. Dan dengan dia melihat ke bawah, tentu saja dia tidak dapat melihat tembakan.
Itu berarti – Kirito tidak ingin menghindari tembakkannya dari awal. Dia ingin untuk sengaja tertembak, dan kalah di pertandingan. Sekali dia mendapatkan tiket untuk pergi ke turnamen, apapun yang terjadi... pertarungannya dengan Sinon tidak berarti apa-apa. Itulah maksudnya.
"...Jangan bercan..."
Suara Sinon terdengar serak.
Dia menaruh jarinya ke pelatuk dan membidiknya. Lingkaran hijau muncul, dan membidik di kepala Kirito dan cepat menyusut. Pergerakan lingkaran menunjukkan detak jantung Sinon. Tapi hanya dengan angin yang lemah dan jarak 400m, tembakkannya pasti akan terkena.
"...Jangan bercanda denganku!!"
Teriakkannya, terdengar seperti anak kecil yang menangis.
Di saat yang sama, Sinon menekan pelatuk. Gemuruh kaliber 50 riffle terisi di bus itu, lebih dari setengah kaca depan dipenuhi oleh kabut terpecah.
Peluru itu terbang menembus warna merah matahari yang terbenam dengan garis lurus - itu melewati pipi kanan Kirito sekitar 50cm ruang antara dia dan mobil yang tertembak. Sebuah api, dan setelah itu keluar erupsi asap hitam.
Dari tekanan peluru 12.7mm terbang dekat dengan kepalanya, Kirito sedikit bergetar. Dia berhenti dan melihat ke atas.
Ketika Kirito terlihat seperti perempuan di permukaan, hanya pertanyaan 'kenapa kau meleset?' yang terlihat di wajahnya. Ketika melihat wajahnya melalui scope, Sinon menarik pelatuk dan menembak dalam satu aksi.
Kali ini, pelurunya melewati atas Kirito dan menjauhinya.
Mengisi peluru. Menekan peluru. Peluru ketiga mengenai aspal di sampingnya meninggalkan bekas. Reload. Fire. Reload. Fire. Reload. Fire. [4].
Enam selonsoong peluru kosong Keluar di sekitar Sinon kemudian menghilang.
Kirito masih berdiri di sana, masih belum tersentuh, dan menembus scope, matanya terlihat bertanya.
Sinon perlahan berdiri, tangannya memegang Hecate, dan mulai berjalan melewati bus, Dia melompat dari tempat dia menembak menuju jalan dan mulai melanjutkan berjalan.
Sepuluh detik kemudian , ketika dia mendekat menuju Kirito hingga 5m, dia berhenti.
Melihat pengguna light saber itu masih berdiri di mukanya, dia bernafas keluar.
"...Kenapa?"
Arti dari pertanyaan ini, dan kecaman yang bercampur, sepertinya mencapai Kirito. Mata hitamnya, dan lagi melihat ke bawah. Akhirnya, dia mengatakan sesuatu tanpa perasaan seperti NPC.
"...Tujuanku, hanya ingin mengikuti turnamen utama. Aku tidak memiliki alasan untuk bertarung denganmu."
Sinon telah menyadari jawaban ini. Tetapi perasaan itu 'karena itu aku tidak dapat memaafkanmu' ada di dalam dadanya, dan sekali lagi Sinon berkata.
"Lalu, kau seharusnya menembak dirimu sendiri dengan pistol begitu pertandingan ini dimulai. Apa kau khawatir dengan harga peluru? Atau kau ingin memberikan hitungan kill, berpikir seperti ini apakah aku akan puas...!?"
Menuju Kirto yang menundukkan kepala, dia mengambil langkah mendekat - .
"Hanya permainan VR atau satu pertandingan, itu hanya pilihanmu jika merasa seperti itu! Tapi jangan memaksakan nilai pribadi itu pada saya!!"
Sinon menangis dengan suara yang sedih, dia juga menyadari mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Untuk memaksakan nilai pribadi kepada musuhmu, maka itu sama yang dia telah lakukan. Jika dia tidak dapat memaafkan Kirito, seharusnya Sinon menggunakan peluru pertama untuk mengakhiri pertandingan, dan melupakan dia setelahnya. Malah dia menggunakan 6 peluru untuk mengancamnya, dan lebih dari itu dia membuang perasaannya padanya dengan berhadapan langsung. Di hal yang lain, yang tidak memiliki alasan mungkin dirinya.
――Tetapi
Meski begitu, Sinon tidak dapat menghentikan dirinya. Hecate di tangannya, wajahnya berubah dan tidak dapat menghentikan air matanya yang keluar dari matanya.
Di belakangnya ada sinar matahari, setengah dari tubuhnya tertutupi bayangan, mata Kirito tertutup, dan mulutnya kaku.
Akhirnya, avatarnya dengan lembut santai, meski lemah, tapi dengan perasaan dia berkata.
"...Aku juga...pada waktu yang lalu, aku merasa aku menyalahkan orang seperti itu..."
"..."
Kirito melihat dengan diam Sinon, lalu dia mengangkat kepalanya.
"...Maafkan aku. Aku salah. Meskipun ini game, hanya pertandingan, tapi aku bisa memberikan yang aku bisa...selain itu, tidak ada artinya kualifikasi untukku di dunia nyata. Aku seharusnya tahu itu ..."
Lalu, dia mengangkat kepalanya, mata hitamnya melihat lurus Sinon, dan swordsman dari tanah yang asing berkata.
"Sinon, dapatkah kau memberikanku kesempatan untukmu? Sekarang, kau boleh bertanding denganku."
Dari kata yang tidak dapat dia perkirakan, Sinon langsung melupakan kemarahannya dan mengerutkan alisnya.
"Sekarang, jika kau berkata seperti itu..."
Kualifikasi BoB dan turnamen utama melawan dengan musuh yang tidak di ketahui di peta. Sejak mereka bertemu tanpa bertarung, tidak ada cara kembali ke kondisi awal.
Tetapi, Kirito memperlihatkan senyumnya, lalu menarik FN Five-Seven dari pinggang kirinya. Dia menggunakannya sebagai sikap untuk menghentikan Sinon, yang hendak mengambil posisi, dan menarik pentup pistolnya sekali. Dia terampil dalam menangkap peluru di udara, lalu meletakkan pistol itu di sarungnya.
Sementara memutar peluru 5.7mm dengan tangan kirinya, Kirito berkata.
"Pistolmu, masih memiliki pelurukan?"
"...Yeah, hanya untuk satu tembakkan."
"Kalau begitu, kita berduel. Mari kita lihat... 10 meter menjauh. Kau gunakan rifflemu, dan aku gunakan light saberku. Aku akan melempar peluru. Ketika sampai di tanah, pertandingan dimulai. Bagaimana ?"
Terkejut, atau seperti Sinon tertegun. Tanpa menyadari kemarahannya memudar, dia berbicara.
"Begini...kau piker petandingan itu adil? Hanya 10m menjauh, peluru Hecate ini pasti kena. Dengan kemampuanku dan statis perlengkapanku, dikombinasi oleh status, itu pasti hit distance in the system. Kau tidak punya kesempatan menggerakan light sabermu. Hasilnya sama saja dengan bunuh diri.
"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba bukan."
Setelah mengatakan itu dengan sombong- mulut Kirito memperlihatkan senyuman.
Di saat dia melihat ekspresi itu, Sinon segera berlari menuju tempat di belakangnya.
Dia serius. Pengguna light saber, ingin menang dari Sinon dengan Western-style duel.
Memang peluru Hecate II hanya ada satu. Jadi dia harus menghindar dengan suatu cara untuk menang. Dia mungkin berpikir seperti itu, terlalu naif. Melawan tembakan dan peluru yang membunuh, tidak ada yang disebut «somehow». Dibandingkan dengan pusat perbelanjaan «game to avoid the bullets» revolver anti penembak, entah itu kecepatan, akurasi dan kekuatan itu tidak memilik level yang sama.
Tapi-jika Kirito benar-benar memiliki «something», maka.
'Aku ingin melihatnya. Tidak peduli apa yang terjadi.'
Saat berikutnya, Sinon mengangguk dan berkata:
"...Baik. Aku setuju untuk menerima tantanganmu sebagai pertandingan."
Lalu dia berbalik, mengambil sepuluh langkah ke barat di tengah gari pembatas, dan membalik wajahnya ke arah matahari. Jarak antara dua orang itu hanya 10m. Dia menaikkan Hecate yang dia bawa, meletakkan pangkal riffle pada bahunya, dan membuat kakinya mejadi posisi menembak biasa.
Di dunia nyata, bahkan seorang yang paling kuat tidak dapat menembak riffle dari posisi berdiri. Tapi di GGO, selama kemampuan fisik mencapai nilai tertentu, maka hal itu mungkin. Tentu saja, tidak adaorang yang dapat menahan recoil dan terkatuh ke belakang, tapi karena dia hanya memiliki satu peluru, ini tidak perlu dipikirkan.
Dia menarik baut untuk menaruh peluru terakhir di senjatanya.
Ketika dia melihat melalui scope, bahkan perbesaran yang terkecil, senyum Kirito muncul di penglihatannya.
Itu terlihat seperti gadis muda yang cantik, lemah dan ketidakberdayaan di beberapa menit yang lalu menghilang. Wajahnya seperti bercahaya dan senyum keberaniaan di bibirnya.
Kirito menutup jarinya di tangannya yang memegang peluru FN Five-Seven dan membentang tangannya lurus ke depan, bersamaan dengan dia menarik light saber dari pinggangnya. Dia menekan tombol dengan jempolnya, dan itu mengeluarkan pedang berwarna biru dengan energi.
Sekarang, para penonton yang melihat di final blok F mungkin memiringkan kepala mereka dan berpikir apa yang kedua orang itu lakukan. Dia tidak peduli hal itu. Peluru melawan pedang. Dengan pikiran yang normal, itu tidak adil, tapi Sinon dapat merasakan ketegangannya naik.
'---Sudah pasti, orang itu memiliki «something».'
Dengan perasaan yang langsung Sinon menyesuaikan bidikannya.
Di sisi yang lain berlawanan, Kirito berbicara.
"...Maka, ayo kita mulai."
Sword Art Online Vol 05 -288.jpeg
Kemudian, dia tidak ragu untuk melempar peluru ke udara, peluru itu berputar di udara. Cahaya pantulan matahari membuat sinar seperti ruby di udara.
Kirito memundurkan pinggangnya, menaruh kaki kirinya di depan dan setengah dari tubuhnya maju, dan light saber ditangan kanannya miring ke samping. Meski dengan jarinya memegang pedangnya, tidak ada terasa kekuatan, itu adalah postur santai. Tapi meski berpostur seperti itu, Avatarnya memberikan tekanan seolah-olah dia ditargetkan di hatinya oleh moncong senapan.
Sinon, tentu saja merasakan sensasi senang dengan cepat naik. Peluru 5.7mm bergerak di udara sangat lambat. Semua suara lenyap. Dia sadar kehadirannya dan Hecate II. Tidak, kehadiran mereka juga menghilang. Penembak dan peluru menjadi satu, hanya menyerang targetnya dengan peluru di pikirannya.
Dari penglihatannya, garis putih, dan lingkaran hijau juga menghilang.
Di depan swordsman hitam pendiam, jatuh dengan pelan, sinyal peluru. Meskipun peluru itu melewati scopenya dan keluar dari pandangan, Sinon dapat merasakan kehadirannya. Itu berputar dan jatuh ke tanah- peluru tajam mengenai aspal-sistem game menunjukkan kontak dari dua benda, dan mengeluarkan perintah untuk membuat efek suara, AmuSphere melepaskan sinyal di bunyi eletronik, di pendengaran Sinon.
PING.
Sebuah suara gema kecil, tangan kanannya menekan pelatuknya.
Di detik berikutnya, fenomena yang terjadi pada Sinon kesadrannya dipercepat dengan warna yang indah.
Dari moncong Hecate muncullah garis orange.
Di sisi lain, cahaya biru muncul memecah melewati kegelapan yang samar.
Bersinar seperti bintang jatuh, dua cahaya terbelah ke kiri dan ke kanan, terbang menjauh.
Di dorong oleh recoil yang besar, ketika terdorong ke belakang, Sinon menyadari arti dari adegan yang dia lihat.
Itu terbelah menjadi bagian.
Pada saat itu, light saber Kirito memotong ke depan, dan memotong peluru 50-caliber yang seharusnya menjadi tembakan fatal. Dua bintang jatuh yang dilihat Sinon, adalah pecahan peluru yang dipotong oleh pedang dengan energi tinggi, dan terbang melewati sisi Kirito menuju belakangnya.
Tapi –ini seharusnya mustahil.
Jika dia memperkirakan arah pelurunya dan mengayun pedang, hasilnya dapat dimengerti. Tetapi, Sinon tidak membidik tengah avatarnya seperti yang dia inginkan, tapi malah dia membidik kaki kiri Kirito.
Hecate adalah large-caliber gun, ada sesuatu yang dikatakan «impact damage» sebuah damage tambahan. Jika di jarak sangat dekat, meskipun hanya pinggang atau kaki, area benturan membuat HP menjadi 0.
Untuk Kirito yang baru masuk GGO hari ini, tidak memiliki pengetahuan tentang pistol, dia seharusnya tidak tahu tentang ini. Jadi, jika dia menebak arah peluru, dia seharusnya melindungi bagian tengah tubuhnya.
Meski begitu, Kirito dengan tepat mengetahui peluru yang membidik kakinya dengan cepat oleh light sabernya. Itu bukan pertaruhan. Lebih dari itu kecepatan proyektil, garis peluru akan tidak berguna. Pada akhirnya kenapa – bagaimana dia...?
Meskipun terbebani karena tekejut di saat itu, tangan Sinon tidak berhenti. Ketika dia terlempar ke belakang, tangan kirinya melepas Hecate, dengan cepat mengambil MP7 yang ada di pinggangnya.
Tetapi, dia lebih cepat dari yang tadi.
Seperti cahaya, Kirito melesat dari jarak 10m antara mereka dan muncul di depan Sinon. Pedang di tangan kananya berdengung dan penglihatannya menjadi biru.
Dia akan ditebas.
Meski dengan prediksi tersebut, Sinon tidak menutup mata. Matanya melihat, dengan matahari terbenam sebagai pemandangan, rambut hitam yang berkilau bergoyang seperti kipas.
Lalu, semuanya berhenti.
Hecate ditangan kanannya, dan MP7 ditangan kirinya tergantung karena Sinon terjatuh mundur. Tetapi, tidak peduli berapa lama, dia tidak terjatuh. Tangan kiri Kirito menahannya untuk suatu alasan.
Lalu ditangan kanan swordsman ada light saber, menahan leher Sinon yang terbuka dan tanpa pertahanan. Hanya suara getaran plasma pedang, dan suara angin yang dapat dia dengar.
Dengan kaki kirinya maju, Kirito membungkuk ke arah Sinon yang bersandar, jika mereka memberlakukan adegan tarian seperti kebersamaan mereka, dan itu akan berhenti sementara waktu.
Mata hitamnya tepat di matanya. Sampai sekarang, baik di dunia nyata maupun di dunia virtual, dia tidak membiarkan siapapun mendekatinya sedekat ini padanya. Tetapi, Sinon tidak menyadari hal ini dan bertanya dengan bisikan sambil melihat mata Kirito.
"...Bagaimana kau dapat memperkirakan bidikanku?"
Di ujung lain pedangnya, dia berbicara dengan lembut.
"Meskipun melalui scope, aku melihat matamu."
Mata. Dengan kata lain-garis penglihatannya.
Dia membaca garis peluru dari pandangannya, itu maksud Kirito.
Sebenarnya ada seseorang di dunia ini dapat melakukan ini. Sinon tidak pernah mendengarnya. Gemetar kecil baik itu teror ataupun tidak pernah terpikir cara ini di kepalanya.
Sungguh kuat. Kekuatan Kirito, telah melebihi level pemain VR game.
Tetapi, meki dalam hal ini – lalu kenapa, di ujung Standby Room, dia gemetar sangat banyak? Kenapa tangan dinginnya memegang tangan Sinon?
Sinon berbicara dan sebuah suara kecil keluar.
"Kau begini kuat. Apa yang kau takuti?"
Lalu dia melihat mata Kirito terkejut. Setelah diam sesaat, Kirito menjawab seperti dia menyembunyikan sesuatu.
"Itu bukan kekuatan. Hanya tehnik."
Setelah dia mendengar kata itu, Sinon lupa tentang pedang di lehernya dan berkata dengan kasar.
"Bohong. Kau pembohong. Jika itu hanya tehnik, itu mustahil memotong peluru Hecate. Kau seharusnya tahu. Bagaimana kau menjadi kuat? A...Aku ingin tahu jadi..."
"Kalau begitu biarkan aku bertanya padamu!"
Tiba-tiba Kirito memotongnya dengan suara lemah namun seperti api yang tercampur di suaranya.
"Jika peluru itu akan membunuh manusia di dunia nyata...Lalu, jika kau tidak membunuh entah itu kau atau orang yang penting itu terbunuh. Jika begitu, APAKAH KAU MENEKAN PELATUKNYA!?"
"...!"
Sinon lupa untuk bernafas, dan matanya berlinang.
Apa dia tahu? Dia berpikir untuk sesaat. Pemain misterius, apakah dia tahu masa lalu Sinon yang dipenuhi kegelapan, dan kecelakaan itu terjadi?
'-Tidak, salah. Itu tidak seperti itu. Mungkin...orang ini, di masa lalu...'
Tangan kiri yang menahan Sinon menjadi kaku, tapi kemudian menjadi rileks. Ketika rambutnya menyentuh dahi Sinon, Kirito menggelengkan kepalanya dan berbisik.
"...Aku tidak dapat. Karena itu aku lemah. Aku...menebas dua orang, tidak tiga orang, dan aku bahkan tidak tahu nama mereka...aku hanya menutup mata,menutup telinga, dan mencoba untuk melupakan semuanya..."
Sinon tidak mengerti maksudnya.
Tetapi, dia telah yakin satu hal. Di dalam Kirito ada kegelapanyang sama dengan Sinon sebuah ketakutan tersembunyi. Dan mungkin, ketika dia menunggu di Standby Room, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuatnya kegelapan yang dikuburnya bangkit.
Sinon melepas MP7 di tangan kirinya dan jatuh ke tanah.
Tangan kosongnya naik seperti ditarik benang, dan mendekat ke pipi Kirito ke masa lalu pengguna light saber.
Tepat sebelum jarinya menyentuhnya - .
Tanpa disadari, senyum yang lembut kembali ke pipi Kirito. Matanya masih menyimpan cahaya menyakitkan. Meski begitu dia menggeleng kepalanya, dan mengatakan sesuatu untuk menggangu tangan Sinon.
"- Well. Sepertinya aku telah menang di pertandingan ini...kau setuju?"
"Apa t...? Ah, itu..."
Sementara dia mengedipkan mata karena tidak dapat memberitahu perasaannya, wajah Kirito mendekat dan dia berbisik.
"Lalu, apakah kamu menyerah? Aku tidak suka menebas perempuan."
Mendengar suara yang kasar dan santai. Sinon menyadari situasinya. Dengan kata lain, dia telah ditahan dengan tangan kiri yang menahan punggungnya dan light saber di lehernya, dan ketika dia dalam keadaan tidak bisa bergerak karena kontak dari Kirito, Adegan itu langsung ditayangkan di the Standby Room, Presidential Lobby, dan semua bar di Gurokken, dengan situasi tersebut. Sementara menyadari kemarahan di wajahnya, Sinon mengeluarkan jawaban dari gigi terkatupnya.
"...Aku berterima kasih bila aku memiliki kesempatan lain untuk melawanmu. Besok di turnamen utama, kau harus bertahan hidup untuk melawanku."
Dan dia membalikkan wajahnya,dan berteriak keras, "Aku menyerah!"

Waktu pertandingan, 18 menit and 52 detik.

Grup F, kualifikasi final turnamen ketiga Bullet of Bullets selesai.

READ MORE →