Kolonialisme berasal dari kata colunus
(colonia) yang berarti suatu usaha untuk untuk mengembangkan kekuasaan suatu
negara diluar wilayah negara tersebut. Kolonialisme pada umumnya bertujuan
untuk mencapai dominasi ekonomi atas sumber daya, manusia, dan perdagangan di
suatu wilayah. Wilayah koloni umumnya adalah daerah-daerah yang kaya akan bahan
mentah untuk keperluan negara yang melakukan kolonialisme.
Imperialisme adalah usaha memperluas
kekuasaan suatu negara untuk menguasai negara lain. Imperialisme dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu imperialisme kuno dan imperialisme modern.
Imperialisme kuno berlangsung sebelum revolusi industri dan bertujuan untuk
memiliki kekayaan (gold), mencapai kejayaan (glory), dan menyebarkan agama
(gospel). Spanyol dan portugis adalah negara yang menjalankan imperialisme
kuno. Sementara Inggris merupakan negara yang menganut imperialisme modern.
A. Dampak Sosial, Ekonomi,
Budaya keberadaan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
Praktek imperialisme dan kolonialisme di
Indonesia mempunyai dampak yang sangat besar bagibangsa Indonesia. Bukan hanya
mengakibatkan terjadinya penderitaan dan kesengsaraan fisik, tetapi juga
psikhis, bahkan akibatnya terasa hingga saat ini. Selain mengakibatkan
penderitaan dankesengsaraan, imperialisme barat juga meninggalkan kosakata,
budaya, marga, sarana jalan danbeberapa pabrik gula, dan aturan perundangan.
Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa
kolonialsangat dipengaruhi oleh sistem kolonial yang diterapkan oleh
pemerintahan Hindia Belanda.Setelah sistem tanam paksa dihapuskan pada tahun
1870 pemerintah kolonial menerapkansistem ekonomi baru yang lebih liberal.
Sistem tersebut ditandai dengan dikeluarkannya
Undang-Undang Agraria tahun 1870. Menurut undang-undang tersebut penduduk
pribumi diberi hak untukmemiliki tanah dan menyewakannya kepada perusahaan
swasta. Tanah pribadi yang dikuasai rakyatsecara adat dapat disewakan selama 5
tahun. Sedangkan tanah pribadi dapat disewakan selama 20tahun. Para pengusaha
dapat menyewa tanah dari guberneman dalam jangka 75 tahun. Dalam jangkapanjang,
akibat sistem sewa tersebut tanah yang disewakan cenderung menjadi milik
penyewa. Apabilapada masa sistem tanam paksa perekonomian dikelola oleh negara maka
sejak Undang-undang Agraria1870 kegiatan ekonomi lebih banyak dijalankan oleh
swasta.Nilai-nilai kapitalisme mulai masik ke dalam struktur masyarakat
Indonesia. Komersialisasi telahmenggantikan sistem ekonomi tradisional. Nilai
uang telah menggantikan satuan ekonomi tradisionalyang selama ini dijalankan
oleh masyarakat pedesaan.
Masalah sistem perburuhan dikeluarkan aturanyang
ketat. Tahun 1872 dikeluarkan Peraturan Hukumam Polisi bagi buruh yang
meninggalkan kontrakkerja. Pada tahun 1880 ditetapkan Koeli Ordonanntie yang
mengatur hubungan kerja antara koeli(buruh) dengan majikan,terutama di daerah
perkebunan di luar Jawa. Walaupun wajib kerja dihapuskansesuai dengan semangat
liberalisme, pemerintah kolonial menetapkan pajak kepala pada tahun 1882.Pajak dipungut
dari semua warga desa yang kena wajib kerja. Pajak tersebut dirasakan oleh
rakyat lebihberat dibandingkan denganwajib kerja.
Proses
interaksi kekuasaan antara negara-negara tradisional (kerajaan)
milik pribumi dan kekuasaan Belanda pada abad ke-19 menunjukkan dua
perkembangan yang sangat berbeda. Di satu pihak, tampak makin meluasnya
kekuasaan kolonial dan imperialiasme Belanda. Di lain pihak terlihat makin
merosotnya kekuasaan tradisional milik pribumi. Meluasnya kolonialisme dan
imperialisme Belanda di Indonesia membawa akibat terhadap perubahan dalam
berbagai segi kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Dalam bidang
politik, pengaruh kekuasaan Belanda semakin
kuat karena intervensi yang intensif dalam masalah-masalah istana, seperti
pergantian takhta, pengangkatan pejabat-pejabat keraton, ataupun
partisipasinya dalam menentukan kebijaksanaan pemerintahan
kerajaan. Dengan demikian, dalam bidang politik penguasa-penguasa
pribumi makin tergantung pada kekuasaan asing sehingga kebebasan dalam
menentukan kebijaksaan pemerintahan istana makin menipis. Di samping itu,
aneksasi wilayah yang dilakukan oleh penguasa asing mengakibatkan makin
menyempitnya wilayah kekuasaan pribumi. Penghasilan yang berupa lungguh,
upeti atau hasil bumi makin berkurang, bahkan hilang sebab
kedudukannya telah berganti sebagai alat pemerintah Belanda.
Dalam bidang ekonomi, penghasilan penguasa pribumi makin
berkurang. Sudah pasti keadaan ini akan menimbulkan kegoncangan dalam
kehidupan para penguasa pribumi. Di pihak rakyat, khususnya para petani
dibebani kewajiban untuk mengolah sebagian tanahnya untuk ditanami dengan
tanaman-tanaman eskpor dan masih harus menyumbangkan tenaganya secara
paksa kepada pemerintah kolonial. Hal inilah yang mengakibatkan runtuhnya
perekonomian rakyat
Akibat
Politik dan Ekonomi
Ø Negara imperialis menjadi
pusat kekayaan sedangkan negara jajahan menjadi bertambah miskin.
Ø Hasil industri dipasarkan ke
daerah jajahan.
Ø Munculnya investasi swasta
Perdagangan dunia meluas sebagai akibat meningkatnya lalu lintas perdagangan
internasional
Di bidang
demografi (kependudukan), berdasarkan sensus
Raffles (buku History of Java tulisan Raffles) bahwa pada tahun 1815
jumlah pendudukan Jawa mencapai 4,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut lebih
dari 1,5 hidup di daerah kerajaan dan kirakira 3 juta ada di daerah yang
langsung diperintah oleh pemerintah kolonial.
Sejak akhir abad ke-19 telah terjadi
mobilitas dalam masyarakat, baik secara geografis maupun sosiologis. Dalam
pengertian geografis bahwa perpindahan tempat tinggal dan kerja makin lama
makin sering dilakukan. Transmigrasi, migrasi intern, dan urbanisasi
menunjukkan adanya keinginan untuk keluar dari lingkungan hidup yang lama.
Hal itu karena pengaruh penetrasi ekonomi asing dan kerapatan penduduk,
mobilitas dalam kerja terjadi pula. Sebagian dari masyarakat tani
beralih kerja menjadi pedagang, meskipun secara kecil-kecilan.
Demikian juga jenis pekerjaan tukang dan pelayanan
lainnya bertambah banyak pula. Peralihan kerja dan perpindahan ke tempat
lain, ada yang membawa dampak ke kehidupan sosial. Orang yang pindah ke
kota dan mendapat pekerjaan yang baik, akan naik harganya di mata
masyarakat. Demikian pula jika seseorang sukses dalam usahanya. Dengan
demikian terjadilah semacam mobilitas sosial vertikal.
Dalam perkembangannya, pada tahun 1900 penduduk Jawa telah
mencapai hampir 28,5 juta jiwa. Perkembangan penduduk di Jawa pada abad
ke-19 dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain terjadinya peningkatan
hidup dari penduduk pribumi,meluasnya pelayanan kesehatan ( introduksi
vaksinasi cacar), dan perwujudan ketertiban dan perdamaian oleh pemerintah
Belanda.
Dalam bidang sosial,
perluasan kolonialisme dan imperialisme berakibat makin melemahnya
kedudukan dan perekonomin penguasa pribumi. Penguasa pribumi lebih banyak
ditugaskan untuk menggali kekayaan bumi Indonesia, seperti memungut
pajak, mengurusi tanaman milik pemerintah, dan mengerahkan tenaga kerja
untuk kepentingan pemerintah Belanda.Turunnya kedudukan penguasa pribumi mengakibatkan
turunnya derajat dan kehormatan sebagai penguasa pribumi.
Di bidang budaya,
makin meluasnya pengaruh kehidupan Barat dalam lingkungan kehidupan
tradisional. Tata kehidupan Barat seperti cara bergaul, gaya hidup, cara
berpakaian dan pendidikan mulai dikenal di kalangan atas atau istana.
Sementara itu, beberapa tradisi di
lingkungan istana mulai luntur. Tradisi keagamaan rakyat pun mulai
terancam pula. Di kalangan penguasa timbul kekhawatiran bahwa pengaruh
kehidupan Barat mulai merusak nilai-nilai kehidupan tradisional.
Tantangan yang kuat terutama dari kalangan pimpinan agama yang memandang
kehidupan Barat bertentangan dengan norma-norma ajaran agama Islam.
Orientasi keagamaan seperti ini, terdapat juga di kalangan para bangsawan
dan pejabat-pejabat istana yang patuh kepada agama. Dalam suasana kritis,
pandangan keagamaan ini dijadikan dasar ajakan untuk melakukan perlawanan.
Perubahan dalam berbagai segi kehidupan
sebagai akibat makin meluasnya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia
menimbulkan kegelisahan, kekecewaan, dan kebencian yang meluas di kalangan
rakyat Indonesia. Itulah sebabnya pada abad ke-19 muncul
perlawanan-perlawanan besar di seluruh wilayah Indonesia.
Bidang Politik
1.
Pamong Praja yang dulu berdasarkan
garis keturunan diubah menjadi sistem kepegawaian.
2.
Jawa menjadi pusat pemerintahan
dan membaginya menjadi wilayah perfektur
3.
Hukum yang dulu menngunakan hukum
adat diubah menggunakan sistem barat modern.
4.
Kebijakan yang yang diambil raja
dicampuri Belanda
·
Bidang Ekonomi
1.
Belanda membuka tambang minyak
bumi di Tarakan Kalimantan Timur
2.
Belanda membangun rel kereta ap
untuk memperlancar arus perdagangan.
3.
Liberalisme ekonomi
·
Bidang sosial
1.Pembentukan status sosial
dimana yang tertinggi adalah orang Eropa,Asia Timur jauh baru kaum pribumi.
2.Struktur penguasa lokal
lenyap.
·
Bidang Budaya
1.
Westernisasi menyebar lewat jalur
pendidikan dan pemerintahan.
2.
Birokrat menggunaka bahasa Belanda
sebagai simbol status mereka
3.
Masuknya agama katholik dan
Protestan